Cangkruk’ane CoWas Karmen (4)

Lima We plus Satu Ha

Foto dan ilustrasi: CoWasJP.com

COWASJP.COMAPA sih LIMA RAHASIA mental wartawan sampai sukses menjadi seorang profesional? Saya ingin mengambil makna yang tidak jauh dari kaidah jurnalistik itu sendiri. 

Sebagai hamba Allah, saya memahami bahwa hidup ini, akan tertata rapi jika berpegang teguh pada Iman. Keimanan akan memperkokoh ketaqwaan kepada yang haq.

Baca Berita Sebelunya: Tenggelamkan Kapal Pesiar

Di dunia jurnalistik, seorang wartawan pasti memahami akan pedoman keimanan sebelum membuat laporan. Keimanan itu memiliki lima unsur yang saya sebut sebagai LIMA RAHASIA itu. Unsur keimanannya adalah Lima We plus Satu Ha (5W+1H). 

Unsur Lima-We plus Satu-Ha ini hukumnya wajib diperoleh wartawan sebelum memulai membuat laporan atau menulis berita. Jika tidak, liputan mereka tidak layak untuk disiarkan kepada khalayak.

Baca Berita Sebelumnya: Jangan Pernah Ingin Mengemis​

Ke 5W+1H itu antara lain: What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), dan Haw (bagaimana). Kelima unsur yang mengandung nilai-nilai jurnalistik inilah, yang akan kami bedah untuk mengetahui LIMA RAHASIA sukses agar kita bermental tangguh.

Baca Berita Sebelumnya: Wartawan Hebat Bukan Hedonis

WHAT/APA?

Seiring dengan buruknya kondisi ekonomi dunia, yang secara global telah menghimpit kelangsungan roda ekonomi nasional, dan berdampak pada kehidupan masyarakat,  bahkan berefek dalam dapur rumah tangga kita, apa yang harus kita lakukan. Tentu, sebagai seorang jurnalis, saya akan mengaitkan persoalan ini dengan sepak terjang saya.

Hal itu identik dengan era globalisasi dunia informasi, yang berkembang begitu cepat, melesat bagai meteor, yang pegerakannya berdetak seiring detak jantung itu, bisa mengancam nasib media cetak. Bahkan nasib wartawan bakal terancam terkubur. 

Di saat kondisi demikian, APA (What) yang harus dilakukan. Pertama instrospesksi diri. Mawas diri akan kemampuan diri, untuk bersaing dengan perkembangan teknologi yang tak bisa dibendung. Apakah bakat atau soft skill kita bisa dipertahankan atau tidak.

Bakat atau basic skill rasanya tidak cukup untuk modal bersaing. Kendati basic atau kemampuan sudah mumpuni, namun kita tetap perlu melakukan terobosan atau inovasi. Yaitu menambah kemampuan di bidang pengetahuan yang berhubungan dengan skilnya. 

Seseorang yang berinovasi atas dasar menduplikasi keberhasilan orang lain, bisa dipastikan tidak akan spektakuler hasilnya. Juga tidak langgeng! 

Hal itu disebabkan penemu inovasi pasti akan terus mengembangkan inovasinya. Namun, jika duplikasi inovasi itu tetap harus dilakukan, karena sudah menjadi tren masyarakat, maka diperlukan improvisasi.
Improvisasi yang dilakukan tentu saja bukan yang membabi buta. Tetap terbingkai dengan kapasitas yang kita miliki. Ini untuk menjaga kualitas produk, jika kompetitor juga melakukan hal yang sama.

Salah satu contohnya, jika banting setir membangun sebuah televisi, atau media portal, seorang jebolan jurnalis media cetak harus menggabungkan dua kemampuannya sekaligus. Sebagai ahli menulis dan menyajikan foto atau video yang disukai khalayak.

Namun, jika harus banting setir dari awal alias nol --misalnya di bidang kuliner atau berdagang—yang dibutuhkan adalah mental. Mental yang tangguh dan dibarengi dengan niat besar untuk sukses, bukan mustahil bakat lama yang dimiliki lamban laun akan tergerus.

Untuk mencapai sukses besar dengan modal niat dan mental yang kokoh itu, tidak cukup jika tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Seseorang butuh ilmu untuk melakukan sebuah pekerjaan. Dan, ilmu ini harus kita persiapkan sebelum niat hijrah dari pekerjaan lama.

Ilmu itu bisa didapatkan membaca buku, menduplikasi sukses orang lain, dan yang paling efektif dengan membelaki skill melalui pelatihan entrepeneurship di bidang yang disukai.

Jika hal ini sudah melekat dalam diri kita, maka upaya terakhir adalah ikhlas melakukan suatu pekerjaan baru. Ikhlas inilah sebagai penunjang utama untuk bekerja secara istiqomah atau terus menerus alias mencintai pekerjaan barunya.

Dan ini, akan kembali membutuhkan mental yang tangguh, dengan menengok target awalnya yang berniat menjadi orang sukses. Sukses bekerja atau berkarya di bidang barunya. Sebab, Allah berpesan dalam firmannya bahwa Ia tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, jika kaum itu sendiri enggan mengubahnya.

WHO/SIAPA

Awal sekali dalam upaya untuk mawas diri atau introspeksi tadi, kita harus melihat untuk siapa harus menenggelamkan kapal pesiar atau mengubah nasib. Pertama untuk diri sendiri. Sebab, seseorang memiliki kecenderungan mudah bosan, dan tidak produktif lagi ketika mengalami stagnasi.

Stagnasi adalah sumber kemalasan, tidak kreatif, cenderung kehilangan pola pikir yang sehat dan menjadi awal kebangkrutan manusia. Stagnasi membuat orang mudah frustasi. Kehilangan jati diri dan lambat laun akan terkikis oleh perkembangan kehidupan secara umum. 

Melakukan perubahan atau mengubah kebiasan diri merupakan langkah mutlak, jika tidak ingin dilebeli sebagai manusia yang menzalimi diri. Kemampaun atau bakat alami yang diberikan Tuhan kepada kita, adalah wujud yang harus dipertahankan. Serta diamalkan agar bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Terutama untuk keluarga: anak, istri, kedua orang tua dan sanak saudara.

Back ground inilah yang akan membangkitkan semangat untuk berubah. Ketika perubahan itu terjadi maka sejatinya apa yang kita lakukan adalah demi melaksakan perintah Tuhan. Beribadalah sebagaimana engkau melihat para nabi dan rasul beribadah. Peribadatan para suri tauladan ini tidak lepas dari niatnya sebagai pengabdi atau hamba Allah.

Sebenarnya dari pernyataan ini adalah demi Tuhan sebagai faktor utama untuk siapa kita harus berubah. Namun lantaran berhubungan dengan materiil, maka urusan dengan ketuhanan menjadi nomer berikutnya, karena kodrat manusia harus memanusiakan dirinya dan manusia yang lain.

Dengam demikian bahwa apa yang kita lakukan ini tidak lepas dari keinginan bersama. Sehingga manusia yang diciptakan sebagai khalifat Allah berna-benar terwujud. Yaitu untuk menjaga diri dan alam semesta raya. Barang siapa yang merusak dirinya,maka dia akan merusak alam sekitarnya. Dan, itulah ciri-ciri manusia yang dilaknat Allah, lantaran tidak memenuhi kodratnya sebagai makhluk sempurna yang diciptakan di muka bumi.

Dalam dunia jurnalistik agar seorang pemberita mampu menyajikan laporannya, harus memiliki nara sumber yang valid. Ini agar nilai beritanya benar-benar memiliki bobot yang kuat. Wartawan dilarang keras mewawancarai sumber berita yang asal comot. Semakin tinggi kedudukan, popularitas, dan pengaruhnya terhadap masyarakat akan semakin tinggi nilai beritanya.

Oleh karena itu, korelasi who atau siapa yang pantas kita puaskan dan bahagiakan, dalam kehidupan sehari-hari dengan profesi saya, sangat erat kaitannya. Hal ini jarang terjadi pada profesi lain yang tidak mengedepankan efek samping atau dampak dari keputusannya.

WHEN/KAPAN?

Ini sebuah pertanyaan yang memerlukan keberanian besar. Kapan saatnya kita harus melakukan perubahan? Apakah menunggu kebangkrutan rumah tangga kita? Atau menunggu perusahaan atau pemerintah kolap? Tentu saja tidak. Kapan lagi? Harus mulai sekarang! 

Perubahan apa yang harus dilakukan? Jika tidak berani melakukan pembunuhan penghasilan yang sudah diperoleh secara rutin dari perusahaan atau pemerintah, sebagai karyawan atau pegawai negeri, selami ini, ya harus ada perubahan pola pikir. Berubahlah sejak dini, sebelum kondisi ekonomi benar benar menjepit.

Orang yang sudah mencuci otaknya untuk berfikir lebih rasional, akan memudahkan dirinya melakukan perubahan. Fikiran positif akan menjadi pelacut sebagai petarung yang tidak mudah takut gagal. Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Ketakukan adalah awal dari kehancuran atau kebangkrutan.

ilustrasi-jurnalisIJR9t.jpg

Ilustrasi: seorang jurnalis (wartawan) ketika di lapangan. (Foto: Tania/TIMES Indonesia)

Seorang penakut tidak akan pernah melakukan sesuatu alias enggan eksen. Untuk menghilangkan rasa takut inilah kita harus percaya diri akan kemampuan diri, karena setiap insan sudah diberi energi ini oleh Sang Pencipta. Sejak Anda mengalami ketakutan akan kemiskinan, sejak itulah Anda harus berani melakukan perubahan.

Jangan menunggu berubah setelah kondisi ekonomi keluarga ambruk. Ketika perusahaan guling tikar. Ketika pemerintah atau negara black out. Berubalah di saat kondisi dalam keadaan normal.

Apalagi masih memiliki tabungan atau penghasilan lebih. Hal ini akan jauh lebih cepat laju perkembangannya, ketimbang dalam keadaan sudah tidak berotot lagi.

Jadi tidak ada alasan untuk melakukan perubahan. Tidak bisa tidak, lantaran hal ini bisa dilakukan sewaktu-waktu. Waktu dalam posisi sehat keuangan dan ekonomi kita, saat mengalami ketakutan untuk miskin, atau saat kondisi cadangan materi berlebih.

Yang pasti hidup ini akan terasa dinamis jika kita harus melakukan perubahan. Perubahan dalam arit yang sebenarnya. Bukan untuk merusak tatanan yang sudah tertata rapi. Namun membangun ruang kosong yang belum terisi. Kualitas diri akan membentuk suatu bangunan yang lebih berkualitas.

Bila kita mengesampingkan arti kapan harus berbuat, kita akan mengalami keterlambatan atau keterbelakangan alias jadi orang kuno. Tidak modernis! Hal ini sama halnya dengan seorang wartawan, yang mencari berita tanpa melihat waktu peristiwa atau kejadiannya. Nilai beritanya akan berkurang dan dikesampingkan pembaca.

Waktu adalah faktor terpenting untuk memperberat bobot atau nilai berita. Semakin terbaru peristiwa yang terjadi, atau semakin hangat berita yang didapat, akan semakin tinggi nilainya. 

Nah, seseorang yang ingin mengubah nasibnya adalah pilihan lebih cepat akan jauh lebih baik ketimbang terlambat. Artinya lakukanlah sedini mungkin sebelum bangkrut ketimbang menunggu setelah bangkrut. (Bersambung dengan Judul: Memilih Belum Tentu Pilihannya)

By: Cangkruk’ane CoWas Karmen

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda