COWASJP.COM – Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan hidup yang semakin kompleks, kesehatan mental menjadi aset berharga yang seringkali terabaikan.
Banyak orang menyimpan emosi negatif. Seperti sekeranjang sampah yang terus menumpuk, tanpa menyadari dampaknya pada kesejahteraan fisik dan psikologis.
Mengenali pentingnya hal ini, Program Studi Psikologi Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menggelar seminar. Yang memberdayakan peserta untuk melakukan “pembersihan emosional” sebagai langkah konkret menjaga kesejahteraan diri.
Acara ini bukan sekadar diskusi teoritis. Tetapi juga merupakan upaya praktis memecahkan masalah yang tengah dihadapi generasi saat ini.
Acara seminar ini bertema “Emotional Cleansing: Bersihkan Sampah Emosi dari Dalam Diri”, Sabtu (29/11/2025), di Aula Lantai 3 Kampus 1.
Seminar diikuti para mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang ingin memahami cara menjaga kesehatan mental.
Kegiatan dibuka oleh Pembina Himpunan Mahasiswa Prodi Psikologi Islam (HIMAPSI) UNU Blitar, Alaiya Choiril Mufidah, M.Psi. Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi kebutuhan penting di tengah meningkatnya tekanan hidup generasi saat ini.
“Dengan mengikuti acara hari ini, kita selangkah lebih dekat memahami bagaimana menjaga kesehatan mental, khususnya dalam membersihkan sampah-sampah emosi,” ujarnya.
Seminar menghadirkan psikolog klinis Karisma Dewi Puspasari, M.Psi., sebagai narasumber utama. Melalui paparannya, Karisma menyampaikan bahwa emosi merupakan bagian alami dari manusia yang perlu dikenali dengan tepat. Bukan ditekan atau disimpan terlalu lama.
“Emosi adalah alat komunikasi tubuh. Bukan sesuatu yang memalukan, tetapi informasi tentang apa yang sedang kita alami,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa banyak orang mengalami tekanan berlebih karena tidak memiliki keterampilan memproses emosinya.
“Masalah muncul bukan karena kita punya emosi, tapi karena kita tak tahu bagaimana menghadapinya,” tuturnya.
Karisma juga menjelaskan bahwa emosi yang dipendam dalam jangka panjang dapat berdampak pada fisik dan mental. Mulai dari mudah lelah, mudah tersinggung, sulit tidur, hingga enggan bersosialisasi.
Menurutnya, tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan perhatian. “Kalau sudah mengganggu aktivitas harian, itu tandanya tubuh butuh perhatian,” katanya.
Dalam sesi praktik, peserta diajak mencoba teknik emotional cleansing yang mencakup empat langkah: menyadari, menamai, melepaskan, dan mengganti emosi dengan respons yang lebih adaptif.
Ia memberikan contoh latihan sederhana seperti journaling, pernapasan dalam, grounding, hingga self-talk positif.
“Tidak perlu lama, yang penting konsisten, walau hanya beberapa menit setiap hari,” tambahnya.
Di akhir sesi, Karisma mengingatkan pentingnya mencari bantuan profesional apabila emosi sudah mengganggu fungsi harian. “Kalau emosi sudah mengganggu tidur, makan, kuliah, atau hubungan sosial, itu tanda tubuh butuh bantuan profesional. Bukan tanda lemah, justru tanda aware,” tegasnya.
Acara ditutup dengan diskusi interaktif yang berlangsung hangat. Peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar pengalaman emosional dan strategi mengelolanya.
Panitia mencatat tingginya antusiasme ini sebagai bukti bahwa isu kesehatan mental semakin menjadi perhatian masyarakat. Khususnya kalangan muda. UNU Blitar berharap seminar ini menjadi langkah berkelanjutan dalam meningkatkan literasi kesehatan mental. Dan memperluas edukasi publik bagi mereka yang membutuhkan pendampingan.
Acara ini mencerminkan esensi disiplin Psikologi Islam, yang menggabungkan teori psikologi modern dengan nilai-nilai Islam untuk memahami dan menyelesaikan masalah manusia.
Psikologi Islam tidak hanya fokus pada penyembuhan gejala, tetapi juga pada pencapaian kesejahteraan sepenuhnya (syarafah) melalui pemahaman diri, hubungan dengan Tuhan, dan interaksi dengan sesama.
Teknik emotional cleansing yang diajarkan merupakan salah satu contoh penerapan konsep ini: mengakui emosi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Kemudian mengelolanya dengan cara yang sehat dan sesuai dengan prinsip kebenaran.(*)