Dua Tahun Cukupkah?

Dr Connie Rahakundini Bakrie pertama kali melontarkan isu tentang Prabowo perpanjangan tangan Jokowi. Foto: Istimewa

COWASJP.COMAPAKAH benar Prabowo akan berkuasa hanya dua tahun, lalu tiga tahun berikutnya akan dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka? Isu ini sudah berlangsung lama. Tapi mengingat bahwa tenggat waktu dua tahun itu sekarang sudah semakin dekat, maka layak untuk diingat kembali.  

Bagaimanapun bisa dipastikan hal ini akan melahirkan kontroversi. Karena banyak yang kecewa sejatinya. Bahkan termasuk dari kalangan yang dulu bukan pendukung Prabowo sendiri. 

Hal ini berseweliran kembali, dengan adanya isu tambahan. Bahwa sebuah perjanjian rahasia antara Prabowo dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi, telah disepakati jauh sebelumnya. Sehingga mulai menyebar di kalangan publik bahwa pemerintahan Prabowo sejatinya adalah perpanjangan tangan pemerintahan Jokowi. 

BACA JUGA: Berjudi dengan Kesabaran Rakyat​

Karena tidak bisa lagi dilanjutkan dengan usulan tiga periode, maka Prabowo disiapkan sebagai penggantinya. Dengan menempatkan Gibran di sampingnya dan dengan ketidakmampuan bertindak mwnyimpang dari kehendak Jokowi..

Dilontarkan pertama kali oleh pengamat militer Dr. Connie Rahakundini Bakrie, isu ini tidak berkembang pesat sebagai suatu bentuk perlawanan. Meski demikian, bukan berarti publik melupakannya. Apalagi setelah tahun pertama pemerintahan Prabowo selesai, ternyata tidak banyak kemajuan yang berarti bisa dicapai. Masih tersisa beberapa harapan yang mengganjal.

Satu hal mulai menggelisahkan banyak orang. Karena Prabowo lebih cenderung menggantungkan diri kepada Jokowi dari pada kepada rakyat pemilihnya. Prabowo lebih dikesankan sekadar “omon-omon” dengan pidato yang berapi-api. Tapi tidak mampu bertindak apa-apa untuk merealisasikan banyak hal yang ditunggu-tunggu publik.

Para aktivis dan sebagian kalangan intelektual karenanya mulai menghitung hari. Mulai tidak sabar melihat kenyataan-kenyataan yang ada. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana negeri dengan penduduk 286,8 juta jiwa ini nantinya akan dipimpin oleh seorang “anak haram konstitusi” yang nir kapasitas, rendah intelektualitas dan lebih plonga-plonga dibanding bapaknya.  

Menurut Connie, informasi ini dia dapatkan dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. Meski mantan Dubes RI di Amerika Serikat itu membantah tudingan tersebut, namun Connie tidak bergeming. 

Prabowo Harapan Publik

 Tak dapat dipungkiri, walaupun telah disumpah sebagai presiden melalui pelaksanaan pemilu yang dituding curang, Prabowo tetap jadi harapan publik. Betapa pun dia adalah presiden. Yang mestinya bisa diharapkan untuk menegakkan keadilan dan memperbaiki segala kerusakan yang ditimbulkan pemerintahan sebelumnya. 

Sebagai jenderal yang bahkan berasal dari satuan elite Kopassus, Prabowo diharapkan bisa bertindak tegas. Tahu yang mana mesti ditumpas dan mana yang dapat dipertahankan. 

Tapi sayang, Prabowo ternyata tidak dapat memenuhi harapan itu. Dia lamban. Bahkan seakan tidak berani dan tidak dapat melakukan langkah-langkah tegas terhadap beberapa hal. Sebagai seorang panglima tertinggi militer dan penguasa nomor satu di republik ini, dia kelihatan tidak mampu bergerak cepat. 

Banyak pihak menilai bahkan ada yang sampai pada keyakinan, bahwa Prabowo masih berada di balik bayang-bayang Jokowi. 

Pertama, mulai dari saat penyusunan anggota kabinet. Ketika Prabowo masih menerima menteri-menteri Jokowi, untuk duduk dalam kabinet merah  putih yang dia pimpin. Termasuk orang-orang yang di mata publik bermasalah. 

Ketika dalam sebuah pidato yang berapi-api Prabowo meneriakkan : “Hidup Jokowiiii!”, banyak yang terperangah. Kok bisa ya Prabowo seperti itu kagumnya terhadap orang  yang dulu musuh politik tapi belakangan dia sebut guru politiknya? 

Karenanya banyak yang menilai, ini  adalah salah satu kelemahan Prabowo. 

Dia bertekuk lutut. Patuh dan tunduk saja pada Jokowi. Bahkan saat jadi menteri pertahanan, dia  berkunjung ke Cina dan bertemu Presiden Cina Xi Jinping. Bisa jadi atas perintah Jokowi. 

Bertempat di the Great Hall of the People di Beijing, Senin, 1 April 2024, dia menegaskan komitmennya  untuk melanjutkan kebijakan Jokowi bila kelak  terpilih sebagai presiden. 

Sekarang usia Prabowo  tidak lagi muda, dengan kondisi kesehatan yang tidak cukup prima. Pernah menjalani operasi di bagian kaki membuatnya tampak tidak bisa bergerak lincah. Operasi itu dilakukan karena dia pernah dua kali kecelakaan terjun payung saat masih di TNI pada 1980-an. Sehingga kaki kirinya cedera serius dan rasa sakit itu masih dia rasakan sampai sekarang. 

Kedua, adanya sejumlah menteri hasil rekomendasi Jokowi. Mereka yang sejatinya tidak cukup patuh kepadanya. Sebaliknya lebih nurut kepada Jokowi. Para menteri yang Asal Bapak Senang (ABS). Yang dalam beberapa hal tidak memberikan informasi yang sejujurnya kepada Presiden. 

Sehingga presiden tidak mampu bertindak cepat. Atau bahkan tidak dapat mengambil tindakan yang tepat. Akibatnya dalam beberapa kesempatan justru membuat publik menghujat presiden.

Cukupkah Dua Tahun?

Isu pemerintahan Prabowo hanya dua tahun dan kemudian digantikan Gibran tentu menggelisahkan sejumlah pihak. Soalnya, bila hal itu terjadi, berbagai harapan yang sekarang dipanggulkan di pundak Prabowo tentu akan segera musnah ditelan waktu yang semakin menipis. 

Sejumlah persoalan paling pelik yang dihadapi bangsa ini, seperti: masalah oligarki yang kekuasaannya semakin kuat mengontrol jalannya pemerintahan dan tidak peduli penderitaan rakyat kecil.

Pemberantasan korupsi yang masih acakadut, pembangunan ekonomi berkeadilan yang jauh panggang dari api, penegakan hukum yang amburadul dan beberapa masalah pokok bangsa ini sudah terbuka secara telanjang di mata publik. 

Mengingat ungkapan Connie Bakri beberapa waktu lalu, “Emang Jokowi akan membiarkan Prabowo terus berkuasa? Kalau saya Jokowi, saya akan lengserkan dia besok.”

Betapa pun, Jokowi diyakini memiliki kemampuan yang sangat besar, untuk melakukan apa pun yang diinginkannya. Misalnya, dia memiliki bekingan politik dan ekonomi dari para taipan oligarki yang juga diback up pemerintahan Cina di tanah leluhur. Punya dana politik yang tidak berseri,  dan dukungan sejumlah pejabat jaringannya yang masih bercokol di pemerintahan Prabowo. Termasuk keberadaan Termul (Ternak Mulyono) dan Partai Coklat (Parcok). 

Apakah semua  ini yang membuat Prabowo ragu dalam bertindak tegas? 

Karena itu para aktivis sekarang mulai membangun kekuatan bersama. Tidak terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok perlawanan yang kecil-kecil dan tidak berarti. Mereka harus mampu baku cepat melawan Jokowi. Menentukan pilihan dengan cepat: Didahului Jokowi melengserkan Prabowo dalam hitungan dua tahun, atau bergerak cepat mendahului kemungkinan itu. Bisa jadi menggerakkan “people power” untuk menggulingkan Prabowo atau sebaliknya bahu membahu mempertahankan kedudukan Prabowo tapi tetap memakzulkan Gibran.

Itulah keputusan yang tampaknya mesti diambil para aktivis sekarang. Now or never. Sekarang atau tidak selamanya. 

Membentengi bangsa ini dari kemungkinan-kemungkinan terburuk, atau diam membisu seribu bahasa, dengan tidak berbuat apa-apa sama sekali.(*)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda