Jalur Lintas Selatan di Tulungagung (2)

Kecamatan Besuki Jadi Area Wisata Pantai, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal

Kecamatan Besuki menjadi area utama wisata pantai.(FOTO: Istimewa)

COWASJP.COMSEBAGAI gerbang utama JLS saat memasuki Kabupaten Tulungagung dari arah Trenggalek, Kecamatan Besuki memiliki peran strategis yang tak tergantikan. Lokasinya menghubungkan kawasan perbukitan dengan wilayah pesisir. Hal ini menjadikannya sebagai pintu gerbang utama bagi wisatawan yang ingin menjelajahi keindahan pantai-pantai di Tulungagung. 

Sejak beroperasinya JLS, Kecamatan Besuki telah mengalami transformasi pesat. Dari daerah pedesaan menjadi pusat aktivitas pariwisata dan ekonomi yang dinamis.Perubahan ini berkontribusi signifikan terhadap perkembangan daerah. 

BACA  JUGA: "Jembatan" Kemajuan yang Hubungkan Keindahan dan Potensi Ekonomi

Dukungan kebijakan Pj Bupati untuk percepatan pembangunan jalan sirip dan fasilitas pendukung, serta bantuan infrastruktur dari Pemprov Jatim, semakin memperkuat potensi wilayah ini sebagai destinasi wisata kelas menengah ke atas.

Ruas JLS di Kecamatan Besuki membentang sejauh sekitar 18 km dan telah beroperasi secara penuh dengan kondisi aspal yang prima hingga tanggal 15 Januari 2026. 

Sebagian dari dana pinjaman IsDB senilai Rp 330 miliar yang dialokasikan pada Juni 2023 digunakan untuk menyelesaikan ruas ini. Termasuk upaya mitigasi risiko longsor di 5 titik kawasan tebing yang berisiko tinggi. Khususnya di sekitar Pantai Bayeman dan Pantai Klatak. 

Sesuai dengan arahan Bupati terkait keamanan, pihak berwenang telah melakukan penertiban terhadap bangunan yang tidak sesuai dengan perencanaan di lereng jalan. Ini mengingat struktur jalan tidak dirancang untuk menahan beban tambahan. 

Upaya ini memberikan hasil yang luar biasa: tidak ada kejadian bahaya longsor sejak Januari 2026. Menjamin keamanan bagi sekitar 8.000 kendaraan yang melintas setiap hari.

Selain itu, sebagian dari anggaran Inpres Jalan Daerah senilai Rp 28 miliar tahun 2024 digunakan untuk perbaikan terhadap 6 ruas jalan sirip. Total panjang 12 km yang menghubungkan JLS dengan pantai-pantai utama seperti Pantai Gemah, Midodaren, Bayeman, dan Klatak. Ini sejalan dengan fokus kebijakan Bupati untuk meningkatkan konektivitas wilayah pesisir. 

Sebagian ruas jalan sirip ini juga menjadi bagian dari perbaikan yang mendapatkan dukungan bantuan aspal dari Gubernur Khofifah. Alhasil bisa mempercepat proses penyelesaian dan meningkatkan kualitas permukaan jalan secara signifikan.

Data kunjungan menunjukkan peningkatan yang mencengangkan sebesar 65% dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan rata-rata 5.000 kendaraan melintas setiap akhir pekan dan mencapai puncak 12.000 kendaraan pada hari libur nasional seperti Lebaran dan Tahun Baru. 

Jumlah wisatawan mancanegara juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 38%. Sebagian besar berasal dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Sebagian besar wisatawan datang untuk menikmati keindahan pantai yang masih alami dan merasakan suasana pedesaan yang hangat. Sebagai bagian dari rencana pembangunan rest area seluas 5,2 hektare yang diumumkan Bupati, salah satu lokasi potensial berada di Kecamatan Besuki. Diharapkan dapat lebih meningkatkan fasilitas bagi wisatawan dan menjadi pusat aktivitas ekonomi lokal baru. Pertumbuhan jumlah wisatawan berdampak langsung pada perkembangan usaha mikro dan kecil (UMKM) di sekitar jalur JLS. 

Sebelum pembangunan JLS, terdapat sekitar 300 unit usaha lokal; kini telah berkembang menjadi lebih dari 500 unit usaha aktif yang tumbuh sebesar 75%. Meliputi 120 unit kafe dan rumah makan, 85 unit homestay dan villa, serta 95 unit toko oleh-oleh. 

Pendapatan rata-rata usaha lokal meningkat secara drastis dari Rp 3,5 juta menjadi Rp 8,2 juta per bulan sejak beroperasinya jalur lintas selatan. 

Pola ekonomi masyarakat Besuki juga mengalami perubahan signifikan, dari dominasi sektor pertanian tradisional (65% kontribusi pendapatan) menjadi kombinasi seimbang antara pertanian dan pariwisata (45% pertanian, 55% pariwisata dan jasa). 

Sebanyak 320 keluarga petani lokal telah mengembangkan usaha sampingan berbasis wisata. Seperti membuka kebun buah yang dapat dikunjungi (25 unit) atau menyediakan paket wisata pertanian yang menarik (18 paket). Sektor kuliner khas laut juga mengalami pertumbuhan pesat, dengan 45 usaha yang berhasil membangun merek dagang lokal dan menjual produk hingga ke luar provinsi.

Dalam upaya mengembangkan wisata yang berkelanjutan, Kecamatan Besuki menerapkan konsep "Wisata Pantai Berkelanjutan" dengan sistem manajemen sampah berbasis komunitas di 5 pantai utama. Upaya ini berhasil mengurangi sampah plastik di pantai hingga 70%. Selain itu, telah dipasang 30 unit panel surya untuk penerangan jalan dan fasilitas umum, yang menghemat biaya listrik pemerintah sebesar Rp 2,4 juta per bulan. 

Aplikasi mobile "JLS Besuki Wisata" telah diunduh lebih dari 15.000 kali dan memberikan informasi real-time tentang kondisi lalu lintas, cuaca, jumlah pengunjung, serta fasilitas reservasi akomodasi dan kuliner.

Keberhasilan pengembangan Kecamatan Besuki berkat kehadiran JLS telah menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi lokal dengan kreativitas dan inovasi. 

Sebanyak 180 pemuda lokal telah kembali dari kota besar untuk mendirikan usaha berbasis pariwisata dan teknologi. Hal ini membawa semangat baru dalam membangun Kecamatan Besuki menjadi destinasi wisata kelas dunia. Dengan program "Muda Bantu Membangun Desa Wisata" yang telah melatih lebih dari 500 orang dalam manajemen wisata dan keterampilan digital, Kecamatan Besuki memiliki target untuk menjadikan 10 desa di wilayahnya sebagai desa wisata unggulan pada tahun 2027. Ini sejalan dengan harapan Bupati untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dan pariwisata pesisir selatan Tulungagung. (Bersambung)

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda