Anak-Anak Jenius Indonesia, Jawaban Nyata Harapan Presiden Prabowo

Natanael Wiraatmaja meraih medali emas dan menduduki Top 2 Grand Final Neo Science 2025. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COMTAK JARANG KITA mendengar kisah anak-anak luar biasa dari berbagai negara yang mencuri perhatian dunia dengan prestasinya. Di Indonesia sendiri, nama Natanael Wiraatmaja baru-baru ini menggema. Ini sebagai bukti nyata potensi besar generasi muda bangsa Indonesia. 

Siswa kelas 3 SD asal Bandung ini sukses meraih medali emas dan menduduki Top 2 World di ajang Grand Final Neo Science 2025 di Orlando, Amerika Serikat. 

Tidak ketinggalan para hafidz dan hafidzah cilik seperti Izzah Qurrata’a In (juara 1 MTQ Internasional Qatar 2025), Yasin Albar (juara 1 hafiz 30 juz MTQ Internasional Jakarta 2025), dan Nafis Atul Millah (juara 1 hafizah terbaik MTQ Internasional Jakarta 2025) juga mengharumkan nama negara di kancah global. 

Bukan hanya mereka, banyak "permata muda" lainnya yang telah menunjukkan kemampuan luar biasa di berbagai bidang. Mulai dari sains, teknologi, seni, hingga pendidikan agama. 

Mereka bukan hanya bukti potensi besar bangsa, tetapi juga jawaban nyata atas harapan Presiden Prabowo Subianto yang secara konsisten menekankan pentingnya mengembangkan anak-anak Indonesia agar unggul di berbagai bidang. Mengharumkan nama negara di kancah internasional. 

Namun, di balik kemuliaan prestasi mereka, terdapat pertanyaan penting: apakah kita sudah siap sebagai bangsa untuk mengelola dan mengembangkan bakat-bakat luar biasa ini?

Berkunjung ke Dunia Para Anak Jenius Indonesia

Kisah-kisah inspiratif dari anak-anak jenius Indonesia semakin banyak menggema. Ini membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan di kancah global – sesuai dengan visi Presiden Prabowo yang ingin generasi muda menjadi agen perubahan.

Natanael Wiraatmaja, siswa SDK BPK Penabur Bandung kelahiran 2017, menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana bakat sains dapat tumbuh sejak usia sangat muda. Pada ajang Grand Final Neo Science 2025, ia bersaing dengan peserta kelas 3, 4, hingga 5 SD dari berbagai negara di kategori Natural Science, dan berhasil merebut gelar juara kedua dunia. 

Sebelumnya, ia telah mengoleksi sebanyak 17 prestasi internasional dari berbagai ajang, di Thailand, Filipina, Malaysia, hingga Jerman.

Dukungan utama datang dari sang ibu, dr. Novita Setiawan Lim, SpJP, FIHA, MHKes, MM, seorang dokter jantung yang sejak dini melihat ketertarikan anaknya pada binatang dan tumbuhan. Prestasinya sejalan dengan program "Indonesia Menjadi Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi", yang menjadi salah satu prioritas pembangunan negara.

Di bidang pendidikan agama dan tilawah Al-Qur'an, anak-anak Indonesia juga menunjukkan kemampuan luar biasa yang membuat bangga. Izzah Qurrata’a In, hafidzah cilik berusia 10 tahun asal Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, meraih juara 1 kategori tilawah anak-anak pada MTQ Internasional Qatar 2025. Ia mengalahkan 37 peserta dari 29 negara termasuk negara-negara kuat dalam bidang tilawah seperti Arab Saudi dan Mesir. 

Sebelumnya, Izzah Qurrata’a In juga menjadi juara Qori Cilik Indonesia Season 3.

Sementara itu, Yasin Albar asal Kalimantan Timur berhasil meraih juara 1 kategori hafiz 30 juz pada MTQ Internasional ke-4 Jakarta 2025. Bahkan ia mampu menembus babak final dari 179 peserta pada MTQ Hifzil Qur'an di Arab Saudi. 

Tak ketinggalan Nafis Atul Millah dari DKI Jakarta yang meraih juara 1 kategori hafizah terbaik pada ajang yang sama. Ia memperoleh nilai sempurna (100) dalam kategori tahfidz Al-Qur'an.

Ada juga Jihan Afifah yang meraih juara 2 dalam lomba hafalan 30 juz pada The American International Tibyan Competition for the Quran and Its Recitations tahun 2022 di Maryland, Amerika Serikat.

Jumarlin dari Kalimantan Timur yang menjadi juara 2 kategori tilawah remaja pada MTQ Internasional Zagreb Kroasia 2025 dengan nilai 96,05 poin. 

Bahkan, Indonesia mendominasi MTQ Internasional ke-4 tahun 2025 yang berlangsung di Jakarta. Menjadi juara umum dengan menyapu bersih juara 1 di semua kategori, antara lain Imran Ul Karim (juara 1 tilawah putra) dan Diana Abdul Jabbar (juara 1 tilawah putri). Prestasi mereka membuktikan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam menghafal dan membaca Al-Qur'an dengan baik.

Salah satu sosok lain yang tak bisa dilewatkan adalah Joey Alexander, pianis jazz asal Bali yang pada usia 12 tahun sudah tampil dan dinominasikan di Grammy Awards tahun 2016. Ia bahkan mendapatkan standing applause dari para musisi ternama setelah memainkan lagu Giant Steps. Ini membuktikan bahwa talenta musik Indonesia mampu bersaing dengan yang terbaik di dunia. 

Sebelumnya, Joey Alexander juga meraih penghargaan Grand Prix di Master-Jam Fest Ukraina pada usia 9 tahun. Ia harus bersaing dengan 42 musisi dari 17 negara.

Di bidang teknologi dan robotika, kita mengenal Salman Trisna Diwajrasena, bocah asal Depok, siswa kelas 1 SD yang meraih penghargaan kategori Creative Design di lomba robotika internasional di Korea Selatan tahun 2015. 

Minatnya pada robotika tumbuh berkat dukungan ayahnya yang bekerja sebagai trainer robotika. Ini membuktikan bahwa lingkungan keluarga yang mendukung menjadi kunci awal dalam mengembangkan bakat. Hal yang harus terus digaungkan oleh pemerintah dalam program "Keluarga Sejahtera dan Cerdas".

Sementara itu, Yuma Soerianto mencuri perhatian dengan prestasinya di bidang aplikasi dan pemrograman. Mulai tertarik pada coding sejak usia 6 tahun, dan belajar melalui kursus online dari Stanford University. Ia berhasil menerima beasiswa Apple Worldwide Developer Conference (WWDC) selama tiga tahun berturut-turut pada 2017-2019. 

Kemampuannya ini menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas dapat membawa anak-anak Indonesia mencapai kesuksesan di bidang teknologi global. Sesuai dengan program "Indonesia Maju dalam Teknologi" yang digalakkan oleh pemerintah.

Di ranah akademik, Devon Kei Enzo menjadi sorotan setelah kuliah di University of Melbourne – salah satu universitas terbaik di dunia – pada usia 15 tahun. Dengan IQ masuk dalam top 0,1% dunia dan menjadi anggota Mensa Indonesia serta Australia, ia telah mengoleksi lebih dari 100 medali olimpiade internasional bersama kakaknya Mischka Aoki. 

Ia mengambil jurusan International Business and Commercial Law dan diperkirakan lulus pada 2027, membuktikan bahwa anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas di bidang sains, tetapi juga di ilmu sosial dan hukum. Ini sesuai dengan harapan Presiden Prabowo agar SDM Indonesia mampu bersaing di berbagai sektor strategis.

Tantangan yang Perlu Dihadapi Bersama

Meskipun prestasi mereka memukau – mulai dari Natanael yang borong medali, para hafidz/hafidzah cilik yang bersinar di MTQ internasional, hingga Joey Alexander yang sukses di kancah dunia – anak-anak jenius Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan. Salah satu dilema utama adalah menyeimbangkan tuntutan prestasi dengan kesejahteraan mental. 

Banyak dari mereka menghadapi tekanan untuk terus unggul, yang berpotensi menyebabkan kecemasan dan perfeksionisme. 

Natanael sendiri mengaku bahwa ia hanya mengalokasikan dua jam per hari untuk belajar, sementara sisanya digunakan untuk bermain seperti anak-anak seusianya. Bukti pentingnya keseimbangan dalam mengembangkan bakat. 

Sementara itu, para hafidz seperti Izzah dan Yasin juga harus menyeimbangkan aktivitas sekolah dengan jadwal pembelajaran dan latihan tilawah yang padat.

 Selain itu, mereka sering merasa sulit bergaul dengan teman sebaya karena perbedaan kemampuan dan minat. Ini dapat berdampak pada perkembangan emosional mereka. 

Kesenjangan akses pendidikan juga masih menjadi hambatan bagi banyak anak berbakat dari keluarga tidak mampu atau wilayah terpencil. Meskipun Izzah dari Maluku Utara dan Yasin dari Kalimantan Timur berhasil membuktikan bahwa talenta bisa muncul dari mana saja. Meskipun pemerintah telah meluncurkan "Gerakan Sejuta Beasiswa" dan program "Pendidikan Gratis untuk Anak Berprestasi" sesuai dengan arahan Presiden Prabowo, implementasinya masih perlu ditingkatkan. Agar dapat menjangkau seluruh pelosok Nusantara. 

Tanpa dukungan yang memadai, banyak talenta besar berpotensi terbuang percuma.

Menjadikan Anak Jenius sebagai Motor Perubahan Bangsa

Anak-anak jenius Indonesia – dari Natanael Wiraatmaja, para hafidz/hafidzah seperti Izzah Qurrata’a In dan Yasin Albar, hingga para talenta lainnya – adalah aset berharga yang harus kita rawat dan kembangkan dengan baik. Sesuai dengan harapan Presiden Prabowo agar generasi muda menjadi tulang punggung kemajuan bangsa. 

Peran keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat sangat penting dalam memastikan bahwa mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Keluarga perlu memberikan dukungan emosional dan fasilitas yang dibutuhkan tanpa memaksakan harapan yang terlalu tinggi. Seperti yang dilakukan keluarga Natanael dengan mendukung minatnya pada sains sejak kelas 1 SD, serta keluarga Izzah yang mendirikan TPQ untuk membina bakat anak-anak di daerah mereka.

Sekolah harus menyediakan program pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan mereka, bukan hanya mengikuti kurikulum standar. SDK BPK Penabur Bandung misalnya, telah memberikan kesempatan bagi Natanael untuk mengikuti kursus ekstrakurikuler sains. Sementara banyak sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia juga telah menyelenggarakan program khusus untuk pembinaan hafidz dan qori/qoriah.

Pemerintah perlu terus memperkuat kebijakan pendidikan yang mendukung pengembangan bakat anak-anak berbakat, termasuk penyediaan beasiswa, fasilitas penelitian, dan program pelatihan yang berkualitas – baik untuk bidang sains dan teknologi maupun pendidikan agama. 

Langkah-langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan Asia.

Sementara itu, masyarakat perlu mengubah pandangan bahwa prestasi tak hanya diukur dari nilai akademik atau kemampuan tertentu, melainkan juga dari perkembangan holistik dan kontribusi yang diberikan bagi orang lain. 

Pesan keluarga Natanael yang selalu mengingatkan untuk "fokus pada pencapaian diri sendiri dan tidak iri dengan pencapaian orang lain" menjadi contoh penting yang dapat dijadikan pedoman. Begitu juga dengan semangat para hafidz yang menghafal Al-Qur'an, tidak hanya untuk meraih prestasi tetapi juga untuk mengamalkan ajarannya.

 Mari kita jadikan anak-anak jenius Indonesia sebagai motor perubahan bangsa yang akan mewujudkan visi Presiden Prabowo untuk Indonesia yang besar, maju, dan dihormati dunia. Dengan memberikan dukungan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa mereka tidak hanya menjadi individu yang sukses secara pribadi, tetapi juga menjadi pemimpin masa depan yang akan membawa Indonesia meraih kemajuan di kancah global. Mewujudkan cita-cita besar bangsa – baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, maupun dalam memperkuat nilai-nilai agama dan budaya bangsa.

 "Setiap anak adalah permata yang memiliki kilauan sendiri. Tugas kita bersama adalah menemukan kilau itu. Seperti yang kita lihat pada Natanael Wiraatmaja, Izzah Qurrata’a In, Yasin Albar, dan para talenta lainnya. Mengasahnya dengan baik, dan memastikan bahwa ia dapat bersinar terang untuk menerangi jalan masa depan bangsa. Wallahu A'lam Bisawabi (*) 

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda