COWASJP.COM – Kalimat bijak mengatakan, “sejarah akan mengalir menemukan jalan (kebenarannya) sendiri”. Jejak sejarah lahirnya pasukan elite Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI-AU (dulu AURI – Angkatan Udara Republik Indonesia), ternyata ada di Pangkalan Bun, ibu kota Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Itu satu cerita.
Rangkaian cerita lainnya adalah, ditunjuknya Mukhtarudin oleh Presiden Prabowo Subianto duduk di Kabinet Indonesia Maju, sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Mukhtarudin lahir di Pangkalan Bun, 6 September 1964. Tepatnya di sungai Arut Kelurahan Mendawai. Artinya, masa kecil Mukhtarudin banyak dihabiskan di bantaran sungai, Kecamatan Arut Selatan. Wilayah ini bertetangga dengan kawasan Masjid Agung Riyadhus Shalihin, tak jauh dari Bundaran Pancasila.
“Saya ini orang kampung, saat lahir kala itu di rumah kami belum ada kasur. Jadi, lahirnya beralaskan tikar,” kenang Mukhtarudin sang “anak sungai”.
BACA JUGA: “The Crucial 60 Minutes”, Catatan Kehidupan Jenderal Dody
Untuk diketahui, Mukhtarudin adalah menteri pertama yang berasal dari Provinsi Kalimantan Tengah, sejak Indonesia merdeka tahun 1945. Ia dilantik di Istana Kepresidenan, Senin 8 September 2025 jam 15.00 sore.
Syahdan, ia “mudik” ke Pangkalan Bun, memanfaatkan libur Sabtu-Minggu, 15 – 16 November 2025. Salah satu agenda yang sudah lama diangankan adalah menapak tilas sejarah besar AURI di kota kelahirannya. Tentu saja, juga, sungkem dan memeluk ibu kandung yang melahirkannya di kampung halaman.
Peswat bersejarah RI-02 yang menandai lahirnya Kopasgat, serta penerjunan pertama di pedalaman Kalimantan Tengah.
Gayung bersambut. Ditemani Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Iskandar, Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto, ia pun mengunjungi Museum C. Willem, sebagai titik pijak napak tilas sejarah pada hari Minggu, 11 November 2025.
Heritage dan Dakota
Tak Pelak, Pangkalan Bun adalah pangkal sejarah penting lahirnya Kopasgat TNI Angkatan Udara. Tiga-belas pejuang asal Kalimantan melakukan penerjunan perdana menandai cikal bakal lahirnya pasukan elite TNI AU, sekaligus tonggak sejarah operasi militer udara pertama Republik Indonesia.
Peristiwa itu terukir tanggal 17 Oktober 1947, dan sampai sekarang diperingati sebagai Hari Lahir Kopasgat. Sebuah korps pasukan khusus TNI AU yang memiliki kemampuan tempur di tiga matra (udara, laut, darat) dan terkenal dengan baret jingga-nya. Status organisasinya telah ditingkatkan menjadi komando mandiri setingkat bintang tiga pada tahun 2025.
Kembali ke Pangkalan Bun. Di sini –setidaknya— terdapat dua monumen bersejarah dan menjadi landmark kota. Yang pertama adalah Pesawat Dakota RI-002 yang digunakan dalam penerjunan heroik dan bersejarah 17 Oktober 1947.
Kedua, (museum) “Heritage C. Willem, Roemah Sedjarah Lanoed Iskandar”. Bangunan sekaligus saksi bisu heroisme para penerjun AURI. Sebagian kisah, terdokumentasi dengan baik di sini.
Museum Sejarah Cornelius Willem di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Nah, kembali ke situs pertama. Tugu yang menopang badan pesawat Dakota RI-002 itu dinamakan Monumen Palagan Sambi. Lokasinya di jantung kota Pangkalan Bun, tak jauh dari Bundaran Pancasila.
Meski sekilas terpajang utuh sebagai badan pesawat Dakota C-47 atau sering disebut Douglas DC-3, tetapi yang “asli” badan pesawat RI-002 hanya sepertiga bagian belakang pesawat. Sebab, pesawat yang dipiloti Bobby Earl Freeberg, seorang mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) asal Parsons, Kansas, hilang dan jatuh di Tanjung Karang 29 September 1948.
Dua-per-tiga badan pesawat bagian depan terbakar. Bagian yang selamat itulah yang kemudian direkonstruksi menjadi utuh kembali dan dipajang sebagai Monumen Palagan Sambi.
Kisah tentang Bob, panggilan akrab Bobby Earl Freeberg, menarik dikupas lain kali. Warga negara Amerika Serikat berusia 26 tahun ini nekad terbang solo dari Amerika ke Indonesia, dan langsung menjumpai Presiden Sukarno. Kepada Bung Karno, Bob menyatakan diri siap membantu perjuangan Indonesia yang baru merdeka, di bidang penerbangan.
Kisah Bob kita skip. Beralih ke bangunan museum Cornelius Willem yang terletak di komplek Lanud Iskandar. Sebuah bangunan berukuran kurang lebih 800 meter persegi, dan memenuhi kualifikasi sebagai Cagar Budaya.
Bangunan yang didominasi kayu ulin (lantai) dan kruing serta merbau (dinding dan atap) itu juga memiliki sejarah yang tak kalah panjang. Awalnya sebagai Base Ops Pangkalan Udara, kemudian rumah dinas Danlanud, mess prajurit, dan terakhir menjadi museum.
“Dulunya, semua bangunan menggunakan kayu ulin. Tetapi saat dipugar, sebagian sudah lapuk dimakan usia. Kemudian, papan-papan kayu ulin yang masih utuh, kami jadikan lantai. Sedangkan untuk dinding, kami ganti dengan kayu kruing dan merbau. Sebab, sudah tidak mungkin lagi mengganti dengan kayu ulin,” ujar Danlanud Iskandar, Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto.
KSAU Bertanya
Sejarah terus mengalir. Sampailah pada peristiwa kunjungan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Fadjar Prasetyo ke Lanud Iskandar, Pangkalan Bun tahun 2024. Kunjungan itu tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah rangkaian kunjungan ke beberapa pangkalan udara TNI-AU yang ada di Kalimantan.
Tanggal 16 – 19 Januari 2024, KSAU Marsekal Fadjar melakukan kunjungan empat hari ke tiga lanud. Ketiga lanud masing-masing Lanud Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah; Lanud Supadio di Pontianak, Kalimantan Barat, serta Lanud Raden Sadjad di Natuna, Kepulauan Riau. Nah, di Lanud Iskandar Pangkalan Bun inilah dia sempat melihat bangunan tua nan rusak.
KSAU melihat bangunan saat meninjau museum C. Willem di seberang jalan. “Lha itu, bangunan apa?” tanya KSAU.
Setelah dijelaskan tentang sejarah bangunan (yang telah rusak) itu, spontan KSAU berkata, “Mestinya itu yang dijadikan museum.” Berkata begitu sambil memberi perintah agar segera merenovasi bangunan rusak dan menjadikannya museum C. Willem Lanud Iskandar. Alhasil, jadilah museum yang sekarang ada.
Dokumen Sejarah
Saat meninjau koleksi dokumen bersejarah yang ada di Museum C. Willem itulah, sang menteri Mukhtarudin yang putra daerah terkesima. Ia baru sadar-sesadar-sadarnya, bahwa kota kelahirannya ternyata memiliki arti yang sangat penting bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan, sekaligus cikal bakal lahirnya Kopasgat TNI-AU yang prestisius dan disegani, itu.
Sambil menikmati secangkir kopi dan kudapan khas Pangkalan Bun, Mukhtarudin betah berlama-lama di dalam bangunan museum C. Willem. “Suasananya sangat sejuk. Mungkin karena efek rumah yang hampir seratus persen dari kayu. Ditambah lokasi sekitar yang masih rimbun dengan pepohonan besar,” ujar Mukhtarudin takjub.
Ayah empat anak dari istri tercinta, Siti Marwiyah itu pun asyik membuka lembaran-lembaran sejarah dengan sangat hati-hati. Ada foto pangkalan udara tahun 1952 yang sudah direpro. Ada dokumen penerjunan pertama AURI di Pangkalan Bun yang heroik. Ada pula sejarah Tjilik Riwut, pahlawan Kalimantan Tengah yang punya andil besar pada peristiwa penerjunan pertama.
Tak hanya itu, Museum C. Willem juga menyimpan dokumen bersejarah yang berhasil didapat dari Leiden, Belanda. Bahkan, tersimpan pula sejarah berdirinya Provinsi Kalimantan Tengah.
Menteri Mukhtarudin yang putra daerah Pangkalan Bun, mengisi buku tamu saat berkunjung ke Museum C. Willem, didampingi Danlanud Iskandar, Letkol Pnb Nugroho Tri Widyanto (kanan), dan Kainfolahta Lanud Iskandar / Kepala Museum C.Willem Lanud Iskandar, Letja Lek Fery Ansyari (kiri). (foto: egy massadiah)
“Ini semua dokumen bersejarah yang sangat penting. Apakah sudah ada versi digitalnya?” tanya Mukhtarudin kepada Danlanud Lekol Nugroho.
“Belum, pak menteri. Kami mengumpulkan semua dokumen setahap demi setahap. Rencana digitalisasi memang ada. Pelan-pelan pak, kami akan digitalisasi semua dokumen,” ujar Nugroho.
Mukhtarudin, sang politisi senior Golkar itu tanggap. “Pak Danlanud, para pendiri bangsa kita, mewanti-wanti agar kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Jadi, kita tidak boleh mengabaikan dokumen sejarah yang ada di Museum C. Willem ini,” papar Mukhtarudin.
Mukhtarudin mendukung digitalisasi dokumen bersejarah yang ada di situ. “Mungkin diperlukan kamera repro atau mesin scanner. Digitalisasi ini manfaatnya sungguh sangat-sangat besar bagi sejarah bangsa Indonesia, khususnya TNI-AU. Sejarah yang akan kita wariskan kepada generasi penerus,” pungkas Mukhtarudin, mantap.
Kunjungan pun berakhir. Tak lupa Menteri Mukhtarudin menapak tilas satu per satu, semua kuliner lokal penggugah selera di masa mudanya, saat masih di Pangkalan Bun. (*)
Penulis: Jurnalis senior dan pemerhati kebudayaan