COWASJP.COM – Dua tahun lalu, dokter mendiagnosis saya menderita diabetes. Saya harus menjalani rawat inap selama beberapa hari karena kadar gula darah saya mencapai 596 mg/dL—enam kali lipat dari angka normal.
Alhamdulillah, berkat bantuan obat-obatan medis, kadar gula darah saya berangsur normal. Namun, sebelum meninggalkan rumah sakit, dokter memberikan dua pilihan cara untuk mengendalikan gula darah ke depannya:
1. Menggunakan obat.
2. Tanpa obat.
Semua pilihan benar, tetapi saya harus memilih salah satu. Karena saya memilih opsi kedua, dokter menjelaskan berbagai kewajiban yang harus saya jalankan dengan disiplin:
1. Konsumsi nasi maksimal sekepal setiap kali makan.
2. Berhenti total mengonsumsi segala jenis gula, termasuk gula diet.
3. Mengurangi garam semaksimal mungkin.
4. Memperbanyak konsumsi sayuran karena kandungan seratnya yang tinggi.
5. Berhenti merokok.
6. Berhenti mengonsumsi minuman bersoda.
7. Berolahraga secara teratur setiap hari.
8. Tidur malam sebelum pukul 22:00.
Sebenarnya masih banyak daftar lainnya, tetapi delapan poin itulah yang terpenting.
Disiplin atau Menyerah
Dalam daftar tersebut, tidak ada suntik insulin maupun obat rutin. Yang ada hanyalah satu pilihan: disiplin atau menyerah. Jika saya menyerah, saya harus kembali bergantung pada obat. Saya tidak mau menyerah, maka saya memilih disiplin.
Setiap hari saya harus berolahraga dan mengatur pola makan. Dua tugas itu tampak sepele, tetapi bagi saya sama sekali tidak mudah. Memaksa diri untuk disiplin berolahraga itu sulit, namun mengendalikan nafsu makan jauh lebih menantang. Seumur hidup saya terbiasa makan kapan saja tanpa batasan. Tiba-tiba, saya dilarang makan ini dan itu.
Namun, Ramadan datang membawa momentum. Dua minggu setelah pulang dari rumah sakit, saya langsung menjalani puasa Ramadan. Mengendalikan makan dan minum menjadi lebih mudah karena seisi rumah, lingkungan kerja, hingga teman di lapangan olahraga pun turut berpuasa.
Hal itu berulang setiap tahun. Saat ini, saya tengah menjalani puasa Ramadan ketiga sebagai seorang penyandang diabetes (diabetisi). Sejak hari pertama puasa (Rabu, 18 Februari 2026), saya rutin joging minimal 5 kilometer setiap sore menjelang berbuka.
Mengapa sore hari? Karena pada saat itulah kadar gula darah berada di titik terendah, sehingga risiko hipoglikemia dapat segera diatasi saat waktu berbuka tiba.
Manfaat yang Luar Biasa
Hari ini, saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Kesemutan di telapak kaki kiri—yang dahulu selalu muncul saat gula darah di atas 150 mg/dL—kini hampir hilang. Rasanya masih ada, tetapi sangat samar. Seolah-olah saraf saya sedang bernapas lega.
Apa yang sebenarnya terjadi? Menurut artikel kesehatan yang saya baca, saat kita berolahraga:
- Otot menggunakan glukosa sebagai energi.
- Sensitivitas insulin meningkat.
- Peradangan dalam tubuh menurun.
- Aliran darah ke saraf membaik.
Sementara itu, saat kita berpuasa:
- Asupan gula menjadi lebih terkendali.
- Lonjakan insulin berkurang.
- Tubuh belajar kembali untuk menggunakan energi secara efisien.
Gabungan keduanya merupakan terapi alami yang luar biasa.
Banyak diabetisi takut berpuasa. Padahal, dengan pengawasan dan strategi yang tepat, Ramadan justru bisa menjadi momentum "reset metabolik" tahunan.
Pertanyaannya sederhana: Jika momentum terbaik itu ada sekarang, mengapa harus menunggu tahun depan?
Ingat:
- Joging itu tidak mahal.
- Puasa tidak memerlukan biaya.
Yang mahal adalah biaya pengobatan sakit dan komplikasi jika kita abai.
Kesemutan di kaki saya mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi ia telah memberikan pesan: Tubuh mau bekerja sama, asalkan kita mau disiplin.
Ramadan bukan sekadar latihan menahan lapar. Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki metabolisme. Lakukan sekarang, atau tunggu satu tahun lagi dengan risiko yang kian membesar?
Pilihan ada di tangan kita. (*)