Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketum PP Fatayat NU dan Ketua KPAI, Wafat di RS Fatmawati

Hj. Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU. (FOTO: Istimewa)

COWASJP.COM – Innalillahi wa inna ilaihi rajiun... Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Hj Margaret Aliyatul Maimunah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU sekaligus Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), meninggal dunia pada Ahad (1/3/2026) pukul 08.25 WIB, setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kabar wafatnya disampaikan langsung oleh suaminya, KH Abdullah Masud. Jenazah almarhumah saat ini dishalatkan di Kantor Pengurus Besar NU (PBNU) pada pukul 12.00 WIB, sebelum diberangkatkan ke pemakaman keluarga di Pesantren Mambaul Maarif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

 Garis Keluarga Pendiri NU

 Ning Margaret, begitu akrab disapa, lahir di Jombang pada 11 Mei 1978 dan merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Denanyar. Ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan santri, menempuh pendidikan dasar hingga menengah atas di lembaga pendidikan milik pesantren keluarga. Ia dikenal Wanita Ahli Fiqih.

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Denanyar, ia melanjutkan studi ke IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang UIN Sunan Ampel), dan kemudian menyelesaikan program Pascasarjana di Universitas Indonesia dengan fokus Kajian Wanita.

 Kecintaannya pada dunia organisasi sudah tampak sejak usia muda. Di sekolah, ia aktif dalam OSIS, Pramuka, dan olahraga. Di masa kuliah, ia menjabat sebagai Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri (Korpri PMII) Rayon Adab dan Ketua Komisariat PMII Adab Cabang Surabaya Selatan. 

Pengalaman organisasinya terus berkembang melalui Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), mulai dari pengurus wilayah hingga menjabat sebagai Sekretaris Umum dan kemudian Ketua Umum PP IPPNU periode 2009-2012. 

Selama memimpin IPPNU, ia menginisiasi program seperti Laskar Pelajar Putri Anti Narkoba, Pornografi, Radikalisme, dan Kekerasan, serta Rumah Pelajar dan Sekolah Kebangsaan Pelajar.

 Kiprah di Fatayat NU

 Pada periode 2009-2015, Margaret menjabat Wakil Koordinator Bidang Ekonomi PP Fatayat NU, kemudian menjadi Sekretaris Umum periode 2015-2020. Pada Kongres XVI Fatayat NU di Palembang tahun 2022, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum untuk masa khidmah 2022-2027. 

Sebagai pemimpin, ia fokus pada tiga program utama: penguatan kaderisasi, pemanfaatan teknologi digital untuk dakwah, dan menjadikan Fatayat NU sebagai sumber pengetahuan Islam, khususnya dalam penguatan peran ibu dan anak. 

Ia juga menekankan bahwa Fatayat NU memposisikan perempuan sebagai subjek pembangunan, bukan hanya objek, dengan memastikan akses yang sama dalam pendidikan, dakwah, ekonomi, sosial, dan kepemimpinan.

 Dalam salah satu pidatonya saat Penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026, ia menyatakan bahwa perempuan Muslim Indonesia harus menjadi arsitek perubahan. 

Menurutnya, perempuan perlu memiliki tiga kekuatan utama: intelektual untuk membaca zaman dan beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, spiritual-moral untuk menjaga nilai dan akhlak, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial untuk mengorganisasi kemaslahatan bersama.

 "Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat kokoh. Dan ketika masyarakat kokoh, bangsa akan maju," ujarnya.

Sikap Tegas dan Kontribusi di KPAI

 Sebagai Ketua KPAI, Margaret menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap perlindungan anak. Pada November 2025, ia menegaskan pentingnya pemulihan menyeluruh bagi korban ledakan SMA 72 Jakarta, termasuk penanganan medis dan pendampingan psikologis, serta menekankan proses hukum yang sesuai dengan Sistem Peradilan Pidana Anak. 

Sebelumnya, pada Oktober 2025, ia juga menyampaikan bahwa negara harus hadir secara nyata dalam perlindungan anak terlantar, dengan mengusulkan sejumlah rekomendasi untuk memperkuat sistem perlindungan nasional.

 Selain itu, ketika dua anggota Fatayat NU terlibat dalam pertemuan dengan Presiden Israel Isaac Herzog beberapa waktu lalu, Margaret dengan tegas menyatakan penyesalan dan mengumumkan bahwa akan diberikan sanksi organisasi. Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut adalah agenda pribadi dan tidak melibatkan Fatayat NU, serta meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas kegaduhan yang ditimbulkan.

 Semoga  almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah ditempatkan oleh Allah SWT dalam golongan orang-orang shalehah. Semoga segala amal ibadahnya diterima, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi kehilangan.

Perjuangannya dalam memperjuangkan hak perempuan dan anak, serta membangun organisasi NU, akan selalu dikenang dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ya Allah, ampuni dosanya, beri rahmat kepadanya, dan tempatkan dia di surga yang luas.(*)

Pewarta : Imam Kusnin Ahmad
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda