COWASJP.COM – Tak terasa bulan Ramadhan sebentar lagi mau undur diri. Lebaran sudah dekat di depan mata. Tapi uang THR (Tunjangan Hari Raya) tak nampak hilalnya sama sekali. Ini adalah tahun ke 5 suami sudah tidak mendapat THR Idul Fitri dari kantor.
Huhuhuhu, beginilah jadi perantauan. Eiiits, tak perlu bersedih. Tuhan gantikan hadiah lebaranku berupa pemandangan luar biasa dari puncak gunung di Cape Town. Kira-kira bagus mana dengan Gunung Bromo yaaa??
Cape Town adalah salah satu kota tercantik di dunia. Kota ini memiliki pemandangan alam luar biasa. Setiap hari turis dimanjakan dengan pemandangan laut, pantai, dan gunung. Sungguh cantik, Masya Allah. Sewaktu di Cape Town, kami ikut coba mendaki ke gunung yang paling terkenal di dunia – Table Mountain. Destinasi paling wajib yang harus dikunjungi!!
BACA JUGA: Ngurus Visa ke Afrika Selatan Njelimetnya Setengah Mati
Table Mountain adalah ikon utama di kota Cape Town. Kenapa disebut dengan Table Mountain? Karena bentuknya seperti meja raksasa dengan panjang sekitar 3 km. Kalau pas ada awan tipis yang menyelimuti, sudah terlihat seperti taplak meja. Orang lokal menyebutnya “Tablecloth”.
Dan ternyata Table Mountain ini sudah masuk ke dalam “The New7Wonders of Nature (2011)” bersama Amazon Rainforest (South America), Ha Long Bay (Vietnam), Iguazu Falls (Argentina/Brazil), Jeju Island (South Korea), Komodo Island (Indonesia), dan Puerto Princesa Underground River (Philippines).
Gunung ini sebenarnya terdiri dari beberapa bagian atau puncak. Jadi kalau lihat dari kejauhan, Table Mountain ini tuh panjaaang sekali. Dan jujur bingung karena punya masing-masing nama.
Cape Point - titik bertemu Samudera Atlantik dan Samudera Hindia.
DoubleZ yang sedang antusias, bisa bertanya berkali-kali. “Yang itu namanya apa? Yang ini apa?, kata Zygmund. Bagian utama dari Table Mountain terdiri dari puncak datar utama (table), Devil’s Peak, Lion’s Head, Signal Hill, dan Twelve Apostles. Terlihat di ilustrasi gambar, Twelve Apostles tidak terlihat karena letaknya ada di sisi belakang Table Mountain.
Dari kamar hotel tempat kami menginap langsung diberikan pemandangan Lion’s Head. Dilihat sekali dua kali masih kebingungan kenapa gunung ini diberi nama Kepala Singa. Mana badannya? Mana ekornya? Ternyata untuk memahami “singa” ini harus dari kejauhan dan sudut pandang dari atas. Dari ilustrasi foto terlampir, terlihat seekor singa sedang tengkurap. Bentuk runcing Lion’s Head digambarkan kepala singa yang sedang menghadap ke laut.
Kemudian bentuk gunung yang datar menggambarkan badannya. Sedangkan ujung Signal Hill merupakan ekornya singa. Hmmmmm, kira-kira kawan pembaca setuju tidak?
Rangkaian sisi utara pegunungan Cape Town
Lion’s Head dan Signal Hill tidak menyatu secara langsung dengan Table Mountain. Ada lembah yang memisahkan mereka berdua. Berbeda dengan Devil’s Peak yang menyatu langsung. Semua gunung ini adalah rantai pegunungan yang sama di Cape Peninsula bagian utara. Sedangkan dibagian selatan ada juga rangkaian pegunungan yang tak kalah cantik yang berakhir di Cape Point.
Setelah Signal Hill, dilanjutkan dengan Constantiaberg, Silvermine Mountain, Kalk Bay Mountains, dan Cape Point. Yang paling terkenal adalah Cape Point, dimana merupakan titik paling barat daya di benua Afrika. Di titik ini, wisatawan bisa melihat pertemuan Samudera Atlantik dengan Samudera Hindia. Di mana kedua samudera tersebut memiliki karakteristik warna air dan suhu yang berbeda. Samudera Atlantik memiliki warna laut biru kehijauan gelap (air dingin). Sedangkan Samudera Hindia berwarna biru hijau muda dan terang (air hangat).
Sudah tiba di Signal Hill. Si Table Mountain lagi ditutupi awan
Kalau di total memanjang dari utara ke Selatan. Rangkaian gunung dari Devil’s Peak ke Cape Point ini sekitar 50 km. Pegunungan ini menjadi pemisah antara Samudera Atlantik dan juga Teluk Palsu atau False Bay. Mengapa teluknya bernama “salah”? Karena menurut sejarah dulunya para pelaut mengira ini sebagai tempat pelabuhan di Table Bay yang ada di arah utara Table Mountain.
Akhirnya sejarah memberikan nama False Bay.
Signal Hill menjadi destinasi pertama kami. Cukup naik mobil aja dari hotel menuju parkiran. Bagi turis tidak pecinta hiking maka ini adalah jalur terbaik. Di area ini sudah bisa menikmati pemandangan gunung dan samudera. Tersedia jalur lanjutan hiking dan wisata paragliding. Sunset dan sunrise menjadi waktu terbaik untuk pengunjung. Karena bisa melihat kota Cape Town dari atas.
Zygmund melihat pegunungan dan kota Cape Town dari Signal Hill.
Kebetulan kami datang di siang hari jadi suasana tidak begitu ramai.
Destinasi kedua adalah menuju Table Mountain, kami akan mendaki gunung menggunakan Cable Car, hahahaha. Butuh waktu 4 jam untuk mendaki ke puncak. Kalau kami cukup 5 menit saja lah. Ini adalah cable car pertama kami di mana armadanya bisa berputar 360 derajat. Woooowww!!!
Dulu selama di Swiss, beberapa kali sudah pernah naik cable car ke atas gunung. Tetapi cable car di Swiss tidak berotasi di tempat. Saat ada pengumuman dari penjaga bahwa jangan berpegangan di handrail cable car, kami bingung dong. Kenapaaa? Karena cabinnya berotasi, maka kami tidak berdiri di sisi handrail yang sama. Kereeeen kaaan!!!
Tiket cable car disediakan dalam return-ticket dan one-way-ticket. Tujuannya adalah siapa tahu ada pengunjung yang ingin pulang/pergi dengan cara mendaki gunung manual. Harga tiket dewasa untuk PP adalah 490 ZAR / 24,5 Euro / Rp.490.000. Untuk anak-anak (4-17 tahun) dikenakan biaya 250 ZAR / 12,5 Euro / Rp.250.000. Untuk anak dibawah 3 tahun masih free, tidak dikenakan biaya tiket.
Sudah di puncak Table Mountain.
Antrian untuk bisa giliran naik cable car dibutuhkan waktu 3 jam.
Ada yang lebih cepat dari itu tidak? Adaaaa dong!!! Namanya Fast Track Ticket. Per orang (dewasa dan anak-anak) dikenakan biaya 1100 ZAR / 55 Euro / Rp.1.100.000. Hanya butuh 15 menit mengantri. Tidak ada perbedaan rute dengan tiket biasa, keistimewaan fast track tiket adalah memotong antrian yang mengular selama 3 jam. Coba tebak di tengah terik sinar matahari dan membawa DoubleZ yang super aktif, tiket manakah yang kami beli??
Gak sia-sia kami merogoh isi dompet besar-besaran! Pemandangan dari atas tuh luar biasa indaaah banget. Saat naik cable car aja udah terpesona gimana bagusnya. Langit biru cerah, samudera biru cantik, pegunungan hijau, perkotaan rapi Cape Town, langsung bikin Masya Allah bangeet. Beruntung sekali hari ini super cerah, tidak berangin, dan tidak ada awan sama sekali.
Karena Cable Car di Table Mountain ini bisa tutup sewaktu-waktu apabila kondisi tidak memungkinkan. Jadi bisa dipastikan kalau hari cerah maka antrian akan panjang.
Di dalam cable car yang berotasi.
Jadi, meski tahun ini tidak ada THR dan tidak bisa mudik, saya merasa bersyukur sekali mendapatkan hadiah lebaran dari suami versi premium. Melihat secara langsung pemandangan luas dari puncak Table Mountain di Cape Town, angin sepoi, langit biru, dan kota yang tampak kecil di bawah.
Hadiah terbaik bukan hanya uang, tetapi pengalaman yang membuat hati meluap bahagia. Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk seluruh kawan pembaca yang merayakan. Mohon Maaf Lahir dan Batin dari kami FOZZ Family – Keluarga kecil yang sedang menikmati merantau di Lisbon Portugal. Ikuti kelanjutan cerita DoubleZ goes to South Africa di episode mendatang. (Bersambung)