Berawal dari Angkat Koper, Pinggang Kedengkek
Lanang yang pegang kemudi agar posisi kursi bisa didorong ke belakang, jadi agak rileks. Istri di kursi belakang.
Selengkapnya
Lanang yang pegang kemudi agar posisi kursi bisa didorong ke belakang, jadi agak rileks. Istri di kursi belakang.
SelengkapnyaAlamat si pelapor ia dapat dari anaknya sendiri. Yakni ketika Hermanto menjenguk sang anak di tahanan polisi di ujung timur pulau Belitong.
SelengkapnyaIa kalah di Jakarta. Terutama oleh Covid. Sebenarnya ia tidak kalah sendirian. Jutaan, miliaran, orang kalah oleh pandemi.
SelengkapnyaBu Mus pun muncul. Ikut duduk di atas rumput. Sambil membawa album foto. Dia hanya ingin mengingatkan bahwa kami pernah bertemu. Tahun 2011 lalu. Dia tunjukkan fotonya.
SelengkapnyaWartawan di sana serba canggung. Tidak ada yang meliputnya seperti apa adanya. Mereka merasa ini aib bagi Belitong.
SelengkapnyaBaru kini, 42 tahun kemudian, air Danau Toba bisa menghasilkan listrik untuk sumber air bagi penduduk di tengah danau itu.
SelengkapnyaSebaliknya Tiongkok. Senang. Dunia memang seperti terbelah: Barat menolak, Timur menerima.
SelengkapnyaSalah satu di antara mereka, Idham, 53 tahun, adalah adik saya yang tinggal bersama keluarga di Bima.
SelengkapnyaTernyata acara Dialog Shangri-La Jumat dan Sabtu lalu itu justru seperti arena adu kekuasaan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
SelengkapnyaRasanya di zaman itulah lahir gelombang pertama orang kaya baru di Indonesia. Di zaman Orde Baru. Menjadi kaya dengan cara yang mudah.
Selengkapnya