Mengenang Djoko Susilo
Saat itu aku masih mahasiswa. Numpang baca Jawa Pos di parkiran motor kampus. Nama sampean ngetop banget, sebagai wartawan JP yang paling fasih ngomong Inggris, di samping junior sampean mas Ali Murtadlo.
SelengkapnyaSaat itu aku masih mahasiswa. Numpang baca Jawa Pos di parkiran motor kampus. Nama sampean ngetop banget, sebagai wartawan JP yang paling fasih ngomong Inggris, di samping junior sampean mas Ali Murtadlo.
SelengkapnyaINNALILLAHI wa innailaihi rojiun.... Kaget setengah mati ketika bos Kalteng Pos infokan saya, mas Joko Susilo wafat. Kebetulan kami lagi makan siang di Kayahan, Palangkaraya, Kalteng.
SelengkapnyaSUNGGUH, gema kebangkitan Jawa Pos tidak hanya memacu gerak tindakan para awak redaksi, tapi juga di bagian lain.
SelengkapnyaSAHABAT, setiap tanggal 1 Juli, hampir bisa dipastikan di gedung Graha Pena Surabaya dan Jakarta, terdengar suara riuh rendah di antara tumpeng dan kue kue yang legit.
SelengkapnyaMESKI begitu, saya masih tetap kuatir. " Mas (Slamet) ini reuni lho, nek sing teka mek wong wolu? Lak jenenge omong omongan. Gak reuni." " Sampeyan lha kuatir ae. Wis ta percaya aku akeh-akeh sing teka. Mene tak golekane maneh konco-konco mantan iki", uja
Selengkapnya