Ekspedisi Batin (6): Memenangkan Algoritma Kebaikan Ramadan
Nuansa ini bagaikan oase di tengah padang pasir kehidupan; menyuguhkan air kebijaksanaan yang mampu meredakan dahaga rohani.
Selengkapnya
Nuansa ini bagaikan oase di tengah padang pasir kehidupan; menyuguhkan air kebijaksanaan yang mampu meredakan dahaga rohani.
SelengkapnyaDalam lipatan waktu suci ini, manusia diajak untuk merenung.
SelengkapnyaLayaknya sang pelaut yang belajar mengarungi ombak, Ramadan mengajak untuk berlayar di lautan diri.
SelengkapnyaIni adalah perjalanan untuk menemukan esensi yang paling dalam dari eksistensi.
SelengkapnyaDalam kesunyian, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mulai terungkap.
SelengkapnyaPerjalanan ini dimulai saat fajar menyapa, saat cahaya pertama membelah kegelapan
SelengkapnyaJika dibandingkan, berapa harga bahan-bahan pokok tersebut di Lisbon?
SelengkapnyaSebelum makan bersama tidak ada acara resmi salam-salaman setelah berfoto, langsung menyerbu sajian prasmanan yang sudah menggoda selera. Semua makanan dicoba satu per satu, saking kangennya dengan makanan Indonesia dan suasana lebaran.
SelengkapnyaKali ini Zirco pun ikut puasa hingga maghrib, tapi melalui puasa bedug dulu terus disambung maghrib. Masya Allah. Tidak ada paksaan, dia sendiri yang menginginkannya.
SelengkapnyaMemudarnya hubungan antar tetangga terbukti telah melumerkan kontrol sosial. Dampak yang lebih jauh adalah munculnya sejumlah penyimpangan sosial yang berakhir dengan kejadian yang menciptakan instabilitas sosial dan kejahatan manusia.
Selengkapnya