Mencapai Puncak Harder Kulm Harus Naik Kereta Funicular, Sampai di Ketinggian 1.300 Meter DPL
Swiss dikenal sangat terdepan di bidang transportasinya. Apabila tinggal di kota besar, maka tak punya mobil pun tak jadi masalah.
SelengkapnyaSwiss dikenal sangat terdepan di bidang transportasinya. Apabila tinggal di kota besar, maka tak punya mobil pun tak jadi masalah.
SelengkapnyaSekarang giliran DoubleZ (Zirco dan Zygmund) yang ikut papinya (Fariz Hidayat) kerja di Portugal untuk pertama kalinya setelah resmi punya kartu residen Portugal.
SelengkapnyaBagaimana rasanya 3 tahun merantau (ke Eropa) dan belum pernah pulang ke Indonesia yaa?
SelengkapnyaUniknya, pertahanan grendel khas Italia justeru diterapkan Swiss dengan baik.
SelengkapnyaUntuk jam dinding harus manual diubah, sedangkan jam di handphone akan otomatis berubah. Dari yang awalnya selisih 6 jam lebih lambat dari WIB (Waktu Indonesia Bagian Barat).
SelengkapnyaRindu kangen sekali dengan aneka makanan Surabaya dan sekitarnya. Harusnya hari ini, Senin 11 Juli 2022 kami sekeluarga sudah menginjakkan kaki di Indonesia tercinta.
SelengkapnyaAda beberapa teman yang bertanya, “Bagaimana rasanya puasa di luar negeri?†Alhamdulillah meskipun lebih berat, tapi selisih waktunya tidak terlalu jauh dengan Indonesia.
SelengkapnyaSebelum bercerita tentang kepindahan kami dari Swiss ke Portugal, saya perlu menjelaskan mengapa Papi Fariz harus lebih cepat pindahnya?
SelengkapnyaBaru 9 bulan kami tinggal di Lausanne – Switzerland. Rencana awalnya, Papi Fariz Hidayat (suami saya) tugas di Lausanne 1 tahun. Tapi ternyata harus lebih cepat.
SelengkapnyaBanyak jalan menuju Roma. Tapi sayang tiket kereta api sudah habis. Ludes semua, tiket Milan - Roma
Selengkapnya