Gaya Tulisan Mahbub Djunaidi Sangat Khas dan Sulit Ditiru, sebagai Pribadi yang Dikenal Ringan, Ceria, dan Kocak 

Mahbub Djunaidi menyampaikan sebuah renungan yang tenang, tapi sangat dalam tentang mengapa orang-orang yang berani berpikir kritis selalu diposisikan di tempat yang samar-samar: di tengah kebutuhan dan kecurigaan, di antara penghormatan dan ketidakpercayaan, di antara pujian dan kecemburuan sosial.

Oct 16, 2026 - 05:05
0
Gaya Tulisan Mahbub Djunaidi Sangat Khas dan Sulit Ditiru, sebagai Pribadi yang Dikenal Ringan, Ceria, dan Kocak 

SEPERTINYA tidak ada kelompok dalam masyarakat yang kedudukannya serumit kaum intelektual. Diperlukan saat negara menghadapi masalah besar, namun dicurigai saat mereka menyampaikan kritik yang membangun. Dipuji saat mereka tiada, namun diabaikan saat masih di sini dan berbicara jujur. 

Dihormati ilmunya, namun dijauhi pendapatnya. Diundang saat ada upacara, namun dibungkam saat ada peringatan. Mahbub Djunaidi melihat kerancuan ini jauh lebih awal, tepatnya pada tahun 1973, dan ia menuliskannya bukan dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan senyum yang menusuk tajam. Mahbub Djunaidi (27 Juli 1933 – 1 Oktober 1995) adalah seorang tokoh pers, kolumnis legendaris, sastrawan, dan politikus asal Indonesia yang dijuluki sebagai "Pendekar Pena dari Betawi."

Pada 13 Oktober 1973, majalah TEMPO memuat sebuah esai yang judulnya sengaja dibuat mengejutkan pembaca: "Awas, Ada Intelektuil!" Judul yang seolah-olah kehadiran orang-orang berpendidikan tinggi adalah sebuah bahaya yang harus diwaspadai dan dijauhi. Namun, justru di balik judul yang provokatif itulah, Mahbub Djunaidi menyampaikan sebuah renungan yang tenang, tapi sangat dalam tentang mengapa orang-orang yang berani berpikir kritis selalu diposisikan di tempat yang samar-samar: di tengah kebutuhan dan kecurigaan, di antara penghormatan dan ketidakpercayaan, di antara pujian dan kecemburuan sosial.

Tulisan ini tidak bermaksud menakuti pembaca dari kehadiran kaum intelektual. Sebaliknya, Mahbub justru ingin membuka mata kita semua: masyarakat luas, para penguasa, maupun kaum intelektual sendiri untuk melihat secara jernih mengapa jarak antara pemikiran kritis dan realitas kekuasaan sering kali begitu jauh. Padahal keduanya seharusnya saling membutuhkan, bukan saling menyingkirkan.

Sosok di Balik Tulisan: Tiga Dunia dalam Satu Pena

Sebelum mengurai lebih dalam isi pesannya, ada baiknya kita mengenal lebih dekat siapa H. Mahbub Djunaidi. Ia bukan sekadar pengamat luar yang berbicara tanpa memahami realitas. Ia sendiri adalah bagian dari tiga dunia yang sering kali sulit disatukan: dunia pers, dunia politik, dan dunia sastra.

Ilustrasi: Distrik News

Mahbub Djunaidi pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1965 - 1970 masa yang penuh gejolak dan perubahan besar di negeri ini. Dikenal sebagai masa perubahan dari Orde Lama (Presiden Soekarno) ke Orde Baru (Presiden Soeharto). 

Kemudian, masyarakat mempercayainya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Nahdlatul Ulama untuk periode 1977 hingga 1982. Di bidang seni dan sastra, karyanya juga diakui secara luas ketika ia meraih juara dalam sayembara yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1975.

Sebagai seorang wartawan, Mahbub dikenal sangat produktif dan disiplin luar biasa. Ia mampu menyelesaikan satu hingga dua tajuk rencana koran setiap hari, hanya dalam waktu sekitar satu hingga dua jam. Dan ia melakukannya selama bertahun-tahun tanpa kenal lelah. 

Puncak karyanya di dunia jurnalisme terlihat jelas pada rubrik mingguan yang ia kelola di harian Kompas, berjudul "Asal Usul", yang berjalan konsisten selama hampir sembilan tahun, dari 23 November 1986 hingga 8 Oktober 1995. Tercatat ada 236 tulisan yang dimuat dalam rubrik tersebut — sebuah angka yang membuktikan ketekunan dan konsistensinya dalam menyampaikan pesan-pesan sosial kepada masyarakat luas.

Tiga ciri utama yang menonjol dalam diri Mahbub Djunaidi sekaligus mewarnai seluruh karyanya adalah: seorang politikus yang memahami dinamika kekuasaan dan kebijakan negara, seorang wartawan yang taat pada fakta dan kebenaran, dan seorang humoris yang memahami kemanusiaan di balik setiap persoalan. Ketiga identitas ini menyatu harmonis, menjadikannya penulis yang tidak mudah digantikan oleh siapa pun.

Seni Mengkritik dengan Tawa

Gaya tulisan Mahbub Djunaidi sangat khas dan sulit ditiru. Sebagai pribadi yang dikenal ringan, ceria, dan kocak dalam pergaulan sehari-hari, sifat ini terbawa ke dalam setiap kalimat yang ia tuliskan. 

Tulisan-tulisannya terasa santai, seolah-olah pembaca sedang mendengarkan seseorang bercerita sambil bercanda di teras rumah. Namun mereka yang membaca dengan saksama akan menyadari bahwa di balik kelucuan dan keluwesan bahasanya, tersimpan persoalan-persoalan serius yang sedang dihadapi bangsa.

Kecintaan Mahbub terhadap karya sastra Rusia sangat mempengaruhi cara menulisnya. Menurut pengamatannya, sastra Rusia banyak melahirkan karya-karya yang sarat dengan kritik tajam, namun disampaikan secara halus, cerdas, dan penuh satire. Tidak menabuh genderang perang, namun meninggalkan kesadaran yang mendalam di hati setiap pembacanya. Inilah yang kemudian diadopsi Mahbub dalam tulisan-tulisannya: menyampaikan kritik sosial dan politik yang sebenarnya cukup berat dan sensitif, namun dibungkus dengan bumbu humor dan keindahan bahasa sehingga terasa ringan diterima.

Pilihan untuk menggunakan gaya jenaka dan penuh satire bukanlah kebetulan semata. Mahbub sendiri menjelaskan alasannya secara tegas saat berceramah di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada tanggal 8 April 1974. Ia berkata bahwa setiap orang butuh tertawa, sama seperti setiap orang butuh udara segar untuk bernapas. Mengkritik dengan gaya humor, katanya, jauh lebih bijaksana dibandingkan mengkritik dengan nada tinggi dan menuduh.

Jika seseorang membaca kritik yang disampaikan dengan kemarahan, reaksi pertamanya biasanya adalah membela diri dan menutup telinga. Sebaliknya, jika pesan yang sama disampaikan dengan senyum dan kelucuan, pembaca akan tersenyum dulu, lalu perlahan memahami maksud yang tersirat. Objek yang dikritik pun tidak merasa dipermalukan, namun tetap terguncang dan merenung. Inilah kebijaksanaan Mahbub Djunaidi: menyentuh akal sehat melalui pintu hati yang rileks.

Mahbub juga menekankan pentingnya menyatukan tiga dunia yang sering dianggap terpisah: jurnalistik, politik, dan sastra. Baginya, ketiganya memiliki keterkaitan yang sangat erat dan intim. Jurnalistik menyajikan fakta, politik menyangkut nasib dan keadilan rakyat, sedangkan sastra memberikan kehalusan, kepekaan, dan kedalaman makna. 

Jika ketiga unsur ini dipisahkan, tulisan akan menjadi kering, garing, dan keras, seperti makanan yang lezat namun tidak memiliki rasa. Wartawan yang menghayati sastra, menurut Mahbub, akan selalu lebih baik daripada yang tidak, karena sastra mengajarkan kepekaan terhadap kemanusiaan di balik setiap berita yang ditulisnya.

Inti Pesan dalam Esai "Awas, Ada Intelektuil!"

Dalam esainya, Mahbub membuka dengan perumpamaan yang sederhana namun tajam: kaum intelektual itu kedudukannya di masyarakat ibarat dukun — sebagian percaya, sebagian curiga, sebagian butuh saat sakit, sebagian lain menjauh saat sehat. 

Sikap ambivalen ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, Presiden Eisenhower dan Senator McCarthy sangat curiga terhadap kaum intelektual, bahkan menuduh mereka tidak setia dan terlalu banyak bicara. Di Tiongkok, di bawah Mao Zedong, kaum intelektual justru menjadi sasaran penganiayaan dalam Revolusi Kebudayaan — dituduh, diburu, lalu dipanggil kembali saat negara menyadari bahwa mereka tetap dibutuhkan.

Fenomena menarik lainnya yang disampaikan Mahbub adalah: begitu seorangpun intelektual diangkat menjadi pejabat, ia seketika dianggap "bukan lagi bagian dari kaum intelektual." Seolah-olah kebenaran dan kekuasaan adalah dua dunia yang tidak boleh bertemu. Padahal yang kita butuhkan justru pemimpin yang bijaksana karena berpikir kritis, bukan karena lupa cara berpikir saat memegang jabatan.

Di sisi lain, diskusi mahasiswa ITB pada September 1973 justru menunjukkan hal yang berbeda. Para intelektual muda sedang berusaha merumuskan bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi bisa benar-benar bermanfaat bagi rakyat. Dr. Melly G. Tan mengingatkan agar manusia tidak diperbudak oleh mesin. Dr. Astrid S. Susanto menekankan bahwa pembangunan harus selaras dengan kehidupan masyarakat, bukan menimbulkan kesenjangan.

Prof. Dr. Harsojo mengingatkan agar teknologi yang dikembangkan tidak menjadi barang asing yang dipaksakan dari luar. Semua ini menunjukkan bahwa kaum intelektual justru sedang berusaha mendekatkan ilmu pengetahuan ke kehidupan rakyat, bukan menjauhinya.

Namun di DPR, Mahbub mencatat ada yang menuduh kaum intelektual itu "angkuh". Padahal, apakah menyampaikan pendapat yang berbeda berarti sombong? Apakah keberanian menyampaikan kebenaran yang tidak nyaman didengar adalah bentuk kesombongan? Mahbub mengingatkan kita: jangan pernah serahkan nasib bangsa ini kepada mereka yang takut mendengar suara berbeda.

Lebih dari setengah abad berlalu, esai Mahbub Djunaidi tetap terasa hidup dan relevan. Masih terlalu sering kita melihat orang yang berpikir kritis diisolasi, suaranya diremehkan, atau bahkan diberi cap negatif hanya karena pendapatnya berbeda dari arus utama. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang cukup percaya diri untuk mendengar pendapat yang tidak selalu menyenangkan telinga.

Aktivis HMI dan pendiri PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) ini mengajarkan kita sesuatu yang sangat sederhana, namun sering kali kita lupa: kebenaran tidak harus disampaikan dengan berteriak. Mengingatkan orang lain tidak perlu dengan cara menuduh dan mempermalukan. Kaum intelektual bukanlah musuh masyarakat, melainkan mitra berpikir yang harus didengar, dikritisi, dan diperbaiki bersama — bukan dibungkam atau diusir.

Mungkin tugas terberat kaum intelektual bukanlah menghasilkan pemikiran yang cerdas, melainkan tetap hadir dan berbicara jujur tanpa merasa harus meminta izin kepada siapa pun. Dan mungkin kebijaksanaan terbesar masyarakat kita adalah belajar mendengar — bukan untuk langsung disetujui atau ditolak, tetapi untuk dipikirkan bersama dengan kepala dingin dan hati yang terbuka. Sebagaimana Mahbub ajarkan: kritik yang bijak tak harus berteriak. Kadang, cukup satu tawa yang menyadarkan. Dan dari kesadaran itulah, perubahan sesungguhnya dimulai. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User