Baru Sekarang Inilah Kita Punya Indonesia Women's League (Liga Sepakbola Wanita Indonesia)
Suara peluit awal yang berkumandang pagi itu bukan sekadar tanda dimulainya 90 menit pertandingan antara Garudayaksa dan Persita. Itu adalah bunyi pintu harapan bagi ratusan pesepakbola putri di seluruh negeri.
BAYANGKAN sejak Indonesia merdeka tahun 1945 sampai sekarang, kita belum punya Liga Sepakbola Wanita yang resmi dibentuk oleh PSSI.
Selama ini para pemain wanita sepakbola Indonesia setiap hari berlatih, menjaga kebugaran, mempertahankan mimpi di tengah ketidakpastian. Tidak ada liga reguler, tidak ada kompetisi resmi. Namun mereka tidak pernah berhenti.
Dan, akhirnya, pada Minggu pagi 18 Oktober 2026, penantian panjang itu berakhir. Di Stadion Madya Senayan Jakarta, sepakbola putri Indonesia mengawali Indonesia Women's League. Benar-benar bersejarah dan luar biasa!
Suara peluit awal yang berkumandang pagi itu bukan sekadar tanda dimulainya 90 menit pertandingan antara Garudayaksa dan Persita. Itu adalah bunyi pintu harapan bagi ratusan pesepakbola putri di seluruh negeri.
Ketika skor 1-0 tercetak di papan hasil, yang dirayakan bukan sekadar kemenangan satu tim. Yang dirayakan adalah kembalinya sebuah kompetisi yang sempat hilang dari kalender olahraga nasional.
Erick Thohir dengan jujur menyampaikan pesan yang menyentuh hati banyak pihak:
"Selama ini banyak yang bertanya kapan liga sepakbola wanita ada. Sekarang liganya sudah ada. Giliran kita yang hadir," ujar Erick yang juga Menpora itu.
Kalimat sederhana itu mengandung makna yang dalam. Kita sering berteriak meminta perubahan, namun ketika perubahan itu datang, apakah kita sudah siap mendampinginya? Kehadiran di tribun adalah pesan kepada setiap pemain yang berlari di lapangan: "Perjuangan kalian dilihat, dihargai, dan didukung," Katanya.
Musim pertama ini memang masih sederhana. Baru ada enam klub dari kawasan Jabodetabek yang ikut. Kompetisi berjalan tiga bulan. Namun di balik kesederhanaan itu, ada perubahan besar yang sedang terjadi.
Pemain-pemain timnas kita mendapatkan jam terbang yang rutin. Nama-nama baru bermunculan, bakat-bakat yang selama ini tersembunyi kini punya panggung. Sistem pembagian pemain yang merata memastikan tidak ada tim yang terlalu dominan, sehingga setiap pertandingan terasa adil dan menarik.
Kehadiran pemain diaspora seperti Isabelle Nottet dan Estella Loupatty membuktikan bahwa liga ini mulai dilihat dari luar, dan mereka ingin ikut berkontribusi.
Di balik layar, persiapan juga dilakukan dengan lebih hati-hati. Dana Rp 24 miliar telah disiapkan, subsidi untuk klub sudah diatur, jadwal disesuaikan agar tidak mengganggu kegiatan sekolah para pemain.
Semua ini menunjukkan satu hal: kompetisi tergelar setiap tahun dan bertahan, tumbuh, dan berakar kuat.
Namun mimpi yang dibangun Erick Thohir jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan mingguan.
"Jangan takut bermimpi," katanya. "Siapa tahu kita bisa menjadi juara Asia Tenggara, bahkan lolos ke Piala Dunia," kilahnya.
Keinginan itu mungkin sebatas mimpi. Tetapi perjalanan jauh selalu dimulai dari langkah pertama. Dan langkah pertama itu baru saja kita ambil di Stadion Madya, di hadapan para penonton pertama yang datang mendukung.
Kepada siapa pun yang membaca ini, pesannya sederhana: pekan depan, carilah jadwal pertandingan terdekat. Ajaklah keluarga, teman, atau anak-anak kita. Duduklah di tribun dan bersoraklah. Bukan karena mereka pasti menang, tetapi karena mereka berjuang untuk mimpi bangsa ini.
Sepakbola putri tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Ia butuh kita hadir, bersorak, dan setia. Karena yang membuat sebuah olahraga hebat bukan hanya permainannya, melainkan cinta yang diberikan kepadanya oleh masyarakat. Dan hari ini, cinta itu mulai kita bangun bersama. Wallahu A'lam Bisshawab. (*.imam kusnin ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)