Di Pesantren Keluarga  Gus Dur, Kapolri Belajar Makna Persatuan yang Sebenarnya

Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto hadir di sini untuk satu hal sederhana namun bermakna besar. Yaitu menyambung silaturahmi dan meneladani jejak kebaikan para pendahulu bangsa. Kedatangannya disambut hangat oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz ( Gus Kikin ) di Ndalem Kasepuhan. 

Oct 20, 2026 - 09:34
0
Di Pesantren Keluarga  Gus Dur, Kapolri Belajar Makna Persatuan yang Sebenarnya
Kedatangan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto disambut hangat oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz ( Gus Kikin ) di Ndalem Kasepuhan. (FOTO: Istimewa)

ANGIN SORE berhembus lembut menyapu halaman Pondok Pesantren Tebuireng. Di tempat yang penuh kenangan dan sejarah ini, Sabtu 17 Oktober 2026, seorang pemegang amanah tertinggi keamanan negara datang bukan dengan pasukan. Beliau datang dengan langkah yang tenang dan hati yang lapang. 

Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto hadir di sini untuk satu hal sederhana namun bermakna besar. Yaitu menyambung silaturahmi dan meneladani jejak kebaikan para pendahulu bangsa. Kedatangannya disambut hangat oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz ( Gus Kikin ) di Ndalem Kasepuhan. 

Sorban dipasangkan ke bahu seorang jenderal polisi. Sederhana namun penuh pesan. Bahwa di tanah pesantren, senjata bukan satu-satunya penjamin keamanan. Ada keamanan yang lahir dari kepercayaan, kerukunan, dan kebersamaan.
 
Langkah pertama yang dilakukan Kapolri bukan menuju ruang rapat, melainkan menuju masjid. Bersama para santri dan warga pesantren, beliau menunaikan Salat Zuhur berjamaah. 

Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto. (FOTO: tempo.co)

Di sanalah, seragam lengkap dengan pangkat di pundak menjadi setara di atas sajadah. Semua sama di hadapan Allah SWT. Momen sederhana ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan sejati pada akhirnya hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa.

 Dari masjid, langkah kaki berlanjut ke maqbarah Dzurriyah. Di hadapan makam Gus Dur, Kapolri berdiri hening. Beliau yang dikenal dengan senyumnya yang ramah, menunduk sejenak melantunkan doa terbang ke langit. 

Gus Dur, sang kiai yang tak pernah lelah mengingatkan bangsa ini untuk saling menghargai, menerima perbedaan, dan menjaga persaudaraan antar-umat beragama, kini disambangi oleh penegak hukum tertinggi di negeri ini. Tabur bunga yang dilakukan bukan sekadar protokoler, melainkan penghormatan kepada gagasan-gagasan luhur yang diperjuangkan Gus Dur sepanjang hidupnya.
 
Dalam keheningan itu, seakan terdengar pesan lama Gus Dur terulang kembali: "Kebhinekaan itu bukan masalah, inilah anugerah." Dan di sinilah, seorang Kapolri menyadari bahwa menjaga keutuhan bangsa tidak cukup dengan patroli di jalan raya. Ia juga butuh patroli kerukunan di hati masyarakat.
 
Ramah tamah berjalan dalam suasana kekeluargaan. Tak ada jarak antara jenderal polisi dan kiai pesantren. Semua berbicara sebagai anak bangsa yang sama-sama menginginkan negeri ini aman sejahtera. (Imam Kusnin Ahmad)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User