Di Mabes AD, Suasana Haru Mengiringi Wafatnya Seorang Prajurit yang Mengawal Tiga Presiden

Kepergian almarhum di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin sore, 19 Oktober 2026 pukul 16.20 WIB, menutup lembar kehidupan yang penuh pengabdian. Di usia ke 80 tahun.

Oct 22, 2026 - 17:13
0
Di Mabes AD, Suasana Haru Mengiringi Wafatnya Seorang Prajurit yang Mengawal Tiga Presiden
Presiden Prabowo Subianto menghadiri persemayaman Almarhum Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo di Mabes AD, 20 Oktober 2026. (FOTO: BPMI Setpres)

KETIKA LANGKAH KAKI Presiden Prabowo Subianto memasuki ruang persemayaman di Markas Besar Angkatan Darat pada Selasa siang lalu, 20 Oktober 2026, keheningan menyelimuti ruangan itu. Keheningan yang dipenuhi rasa hormat dan duka yang tulus. 

Di hadapan jenazah Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, Presiden Prabowo sebagai seorang sahabat, rekan seperjuangan, dan pemimpin negara sedang berdoa untuk seorang prajurit yang telah selesai menjalankan tugasnya di dunia.
 
Kepergian almarhum di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, pada Senin sore, 19 Oktober 2026 pukul 16.20 WIB, menutup lembar kehidupan yang penuh pengabdian. Di usia ke 80 tahun. Namun namanya dan jejak langkahnya tetap terukir di hati mereka yang pernah bekerja berdampingan dengannya.
 
Presiden tidak datang sendirian. Di belakang beliau berjejer pimpinan tertinggi pertahanan dan keamanan negara: Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Wakil Menteri Pertahanan, hingga Kepala Staf Angkatan Darat. Kehadiran mereka adalah bukti betapa besar penghargaan yang diberikan institusi dan negara kepada almarhum. 

Namun yang terlihat menyentuh hati adalah momen ketika Presiden berjalan mendekat ke jenazah, menunduk, dan berdoa dalam diam. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Namun dalam keheningan itu, terasa bahwa di hadapan kematian, pangkat dan jabatan tidak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah penghormatan kepada seseorang yang telah berjuang sekuat tenaga untuk negerinya semasa hidupnya. 
 
Setelah berdoa, Presiden menghampiri keluarga. Satu per satu disalami. Beliau tidak sekadar menyampaikan belasungkawa secara formal. Beliau hadir untuk berbagi kesedihan. Di ruangan itu juga terlihat wajah-wajah yang akrab di telinga kita: Luhut Binsar Pandjaitan, Wiranto, dan banyak lagi nama besar yang datang bukan karena protokoler, melainkan karena mereka tahu siapa sosok yang telah berpulang ini. Mereka datang menghormati seorang sahabat, seorang senior, seorang pemimpin yang pernah mereka percayai.

FOTO: Tik Tok

 Siapa sebenarnya almarhum bagi bangsa ini? Beliau adalah lulusan Akabri tahun 1970 yang menempuh perjalanan panjang karier militer. Dari Komandan Jenderal Kopassus tahun 1994–1995 hingga menjabat Kepala Staf Angkatan Darat pada masa yang paling menantang: 1998–1999. Itu adalah masa ketika bangsa sedang berubah haluan, awal reformasi. Ketika ketidakpastian terasa di mana-mana. Di saat banyak pihak bimbang, almarhum memegang kendali salah satu institusi paling penting di negeri ini. 

Yang luar biasa, beliau menjabat sebagai KSAD di bawah tiga Presiden yang berbeda gaya kepemimpinannya: yaitu Presiden Soeharto, Peesiden B.J. Habibie, dan Presiden Abdurrahman Wahid. Itu bukan hal yang mudah. Diperlukan kebijaksanaan yang dalam, keteguhan prinsip, dan kepekaan yang tinggi untuk tetap berdiri tegak di tengah perubahan zaman yang bergejolak.
 
Bahkan setelah pensiun dari dinas aktif, almarhum tidak menarik diri dari pengabdian. Selama hampir lima tahun, dari Januari 2015 hingga Oktober 2019, beliau masih duduk sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Artinya, pikiran dan pengalamannya terus dimanfaatkan negara selama beliau mampu berkontribusi.
 
Ada satu hal yang patut kita renungkan bersama. Mengapa kepergian seorang jenderal pensiun begitu dirindukan? Jawabannya sederhana namun mendalam: karena beliau adalah tipe pemimpin yang mengutamakan kepentingan bangsa di atas segalanya. 

Beliau melewati masa-masa sulit bangsa ini tanpa meninggalkan nama yang tercoreng. Namanya terhubung dengan pengabdian, bukan kekuasaan. Ketika beliau pergi, yang ditinggalkan bukan harta, melainkan kenangan tentang integritas, keteguhan hati, dan loyalitas kepada negara.
 
Presiden Prabowo yang juga berlatar belakang perwira Kopassus tentu memahami makna kepergian ini lebih dari siapa pun. Beliau tahu apa arti hidup di barak, arti perintah, arti tanggung jawab yang memikul kepercayaan nyawa orang banyak. 

Maka, kehadiran beliau di Mabes AD siang itu adalah pesan penting bagi seluruh bangsa: bahwa negara tidak melupakan anak-anak terbaiknya. Bahwa jasa para pendahulu harus selalu diingat dan dihargai. Bahwa menjadi pelayan negara adalah kemuliaan tertinggi yang bisa diraih seseorang.

Jenazah almarhum kemudian diturunkan untuk melanjutkan perjalanan terakhirnya. Langit di atas Mabes AD tampak tenang. Seperti kehidupan almarhum yang dijalani dengan ketenangan batin dan keteguhan hati. 

Selamat jalan, Jenderal. Tugas telah selesai dengan baik. Negeri ini berterima kasih atas pengabdianmu yang tulus. 

Semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Selamat beristirahat dengan tenang, karena bangsamu tetap menjaga api yang kau jaga sepanjang hidupmu. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User