Doa dan Keprihatinan Puluhan Kiai di Pesantren Lirboyo untuk Keadilan Gus Yakut
DI HALAMAN Pondok Pesantren Lirboyo yang tenang, pada Rabu siang 21 Oktober 2026, suasana terasa beda. Bukan karena keramaian, melainkan karena kehadiran puluhan kiai sepuh yang datang dari berbagai penjuru.
Mereka bukan berkumpul untuk seremonial. Bukan pula pertemuan rutin. Mereka hadir karena ada satu nama yang sedang berjuang di ruang sidang ratusan kilometer dari sini, yakni KH Yaqut Cholil Qoumas. Bagi mereka, Gus Yaqut bukan sekadar mantan menteri agama. Beliau adalah putra bangsa yang sedang diuji, dan keadilan yang dialaminya adalah cermin keadilan bagi kita semua.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengalihan dan pengaturan kuota haji tambahan tahun 2023–2024 di Kementerian Agama
Perjalanan panjang persidangan telah memasuki sidang ke-20. Setiap sidang, orang-orang datang dari jauh — dari Jakarta, Banten, Tasikmalaya, Brebes, hingga Pekalongan.
Mereka berdiri di luar ruang sidang bukan untuk demonstrasi, melainkan untuk mengingatkan: bahwa di ruang pengadilan itu, ada seseorang yang berhak diperlakukan adil, berhak didengar pembelaannya, dan berhak dianggap tidak bersalah sampai terbukti sebaliknya.
Gus Yahya, kakak kandung Gus Yaqut, berbicara dengan tenang namun penuh keprihatinan. Hampir setahun lamanya, opini publik telah terlebih dahulu menghakimi adiknya, sementara keluarga belum memiliki cukup bahan untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
KH Yaqut Cholil Qoumas. (FOTO: detik.com)
"Satu-satunya cara klarifikasi adalah melalui peradilan," ujarnya.
Ketika fakta-fakta mulai terungkap — termasuk sembilan saksi yang menarik atau mengoreksi keterangan awalnya — keluarga merasa penting untuk menjelaskan duduk perkaranya kepada para ulama. Maka, sowan perorangan diganti dengan pertemuan bersama di Lirboyo, tempat yang dianggap paling netral dan penuh keberkahan.
"Apapun putusan pengadilan nanti, bagi kami yang penting adalah kami sudah menyampaikan penjelasan. Adik saya enam bulan dipenjara, saya yakin dia kuat menjalaninya. Tapi kami ingin menjelaskan: dalam kedudukan apa pun, termasuk saat menjabat, kami tidak pernah menyelisihi nasihat orang tua dan para kiai kami," tutur Gus Yahya dengan mata berkaca-kaca.
Para kiai yang hadir — sebanyak 36 nama besar, sebagian hadir langsung dan sebagian melalui jaringan daring — tidak datang untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Mereka hadir untuk mengingatkan satu hal mendasar: hukum harus terasa adil bagi semua pihak. KH Abdullah Kafabihi Mahrus mengatakannya dengan sederhana namun dalam: "Kita di sini membela kebenaran. Gus Yaqut itu madzlum. Jangan sampai kezaliman dibiarkan terjadi."
Bagi masyarakat pesantren, kebenaran bukan sekadar urusan negara, melainkan urusan nurani yang harus dijaga siapa pun yang menjadi pihak di dalamnya.
Pernyataan KH Muhyiddin Ishak terasa menggema: "Kiai dan NU adalah pemegang saham terbesar republik ini." Kalimat ini bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan. Ketika anak-anak dari komunitas terbesar di negeri ini merasa proses hukum tidak berjalan berimbang, itu bukan sekadar keluhan individu. Itu adalah sinyal bahwa kepercayaan terhadap sistem hukum negara sedang diuji.
Ada hal yang patut kita renungkan bersama. Sembilan saksi mengubah keterangannya. Hal ini tentu harus diperiksa dan dinilai oleh hakim dengan cermat. Tidak boleh langsung dianggap membuktikan kesempurnaan pembelaan, tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Di sinilah letak keadilan yang sesungguhnya: keberanian memeriksa segala sesuatu secara teliti tanpa terburu-buru menarik kesimpulan.
Kisah ini mengingatkan kita: kebenaran tidak selalu datang dengan cepat. Kadang ia harus menembus kabut prasangka, melewati lorong yang panjang, dan menanggung beban kesalahpahaman yang berat. Namun doa tidak pernah terlambat. Di Lirboyo, puluhan kiai mengangkat tangan. Bukan untuk memutarbalikkan fakta, tetapi memohon kepada Yang Maha Adil agar kebenaran terungkap, dan keadilan ditegakkan dengan lurus.
Semoga proses ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa menghukum seseorang itu mudah, tetapi memastikan bahwa yang dihukum memang benar-benar bersalah, itulah keadilan yang sesungguhnya. Semoga langkah Gus Yaqut dan keluarga menemukan kejelasan, dan semoga keadilan tetap menjadi bintang penunjuk jalan bagi kita semua.
Ini daftar Kiai sepuh yang hadir di Lirboyo:
1. KH Anwar Mansur
2. KH. Nurul Huda Jazuli
3. Prof Dr KH Ma'ruf Amin
4. Prof Dr KH Saied Aqil Siradj
5. KH Abdullah Kafabihi Mahrus
6. KH. Idris Abdul Hamid
7. KH. Muhammad Mustofa Aqiel Sirodj
8. KH. Ubaidillah Faqih
9. KH. Muhibbul Aman Ali
10. KH Abd. A'la Basyir
11. KH. Muhammad Mudatsir Badruddin
12. KHR. Muhammad Kholil As'ad
13. KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy
14. KH. Abdullah Ubab Maimoen
15. KH. Ahmad Haris Shodaqoh
16. KH. Muhammad Nuh Addawami
17. KH. Ubaidillah Ruhiat BA
18. KH. Ubaidillah Shodaqoh
19. KH Ahmad Mustain Syafiie
20. Prof. Dr. KH. Asep Suaifuddin Chalim
21. KH. Agoes Ali Masyhuri
22. KH. Mas'ud Masduki
23. Dr. KH. Hilmy Muhammad
24. Dr. KH. Abdul Ghafur Maimoen
25. KH. Abdul Hamid Abd. Qodir
26. KH. Ali Cholil
27. KH. Ahmad Sadid Jauhari
28. KH. Ahmad Fuad Noerhasan
29. KH. Imam Bukhori Kholil
30. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah
31. KH. Muhyidin Ishak
32. KH. Sofyan Yahya
33. KH. Husen Muhammad
34. KH. Aniq Muhammadun
35. KH. Muadz Tohir
36. KH. Imron Mutamakkin.
Wallahu A'lam Bisshawab. (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)