Dua Tragedi di Laut Jawa: Kapal Sudah Miring, tapi Tak Ada Alarm

18 orang melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. 17 orang berhasil ditemukan dan dievakuasi ke darat. Namun 1 orang tidak muncul kembali ke permukaan.

Oct 10, 2026 - 19:17
0
Dua Tragedi di Laut Jawa: Kapal Sudah Miring, tapi Tak Ada Alarm
Tim SAR bekerja keras, dan Irwan Mujiono salah seorang penumpang yang selamat. (FOTO: Istimewa)

LAUT JAWA belakangan ini membuat hati trenyuh. Dua peristiwa tragis terjadi di waktu yang berdekatan. Satu di perairan Tuban, satu lagi di perairan Masalembo. Keduanya menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pada Rabu 7 Oktober 2026 malam, sebuah kapal kargo bernama KM Khatulistiwa 8 berlayar dari Tuban menuju Sampit, Kalimantan Tengah. Kapal bermuatan semen itu baru berangkat sekitar pukul 17.30 WIB. Belum lama di laut, seluruh awak kapal mendengar dentuman keras. Lambung kapal robek. Kapal coba berbalik arah kembali ke Tuban.

Namun sekitar pukul 21.00 WIB, kapal mulai miring dan perlahan tenggelam.
 
18 orang melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. 17 orang berhasil ditemukan dan dievakuasi ke darat. Namun 1 orang tidak muncul kembali ke permukaan.

Pencarian dilakukan terus-menerus oleh petugas gabungan. Hingga Sabtu 10 Oktober 2026, jenazah seorang korban yang hilang akhirnya ditemukan mengapung di lokasi tenggelamnya kapal.
 
Korban bernama Mayan Petter Saba, 39 tahun.
Asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia menjabat sebagai Perwira Pertama atau Mualim I di kapal tersebut.

Syahbandar Wilker Jenu, Bobby Mulya Kusuma, membenarkan penemuan tersebut. Jenazah langsung dibawa ke RSUD Koesma Tuban untuk proses selanjutnya. Sementara 17 awak kapal lainnya yang selamat menjalani pemeriksaan terkait penyebab insiden di Hotel Fortuna, Tuban.
 
Tragedi Masalembo: Satu Lagi Korban Berhasil Diidentifikasi

Sebelum KM Khatulistiwa 8 tenggelam, KM Virgo Transport 8 juga tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026 lalu.

Seorang korban asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, berhasil diidentifikasi. Ia bernama M. Abdul Rosyid, 30 tahun, warga Dusun Leces, Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Jember. Sehari-hari ia bekerja sebagai kernet truk muatan ikan dari Ekspedisi Ganie.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengonfirmasi berita tersebut. Identifikasi dilakukan tim DVI Polda Kalimantan Selatan pada Kamis, 9 Oktober 2026.
Jenazah diberangkatkan dari Banjarmasin pukul 07.00 waktu setempat menuju Bandara Juanda. Kemarin  jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 siang.

Pihak desa dan BPBD Jember telah menerima jenazah tersebut. Proses pemakaman segera dilaksanakan setelah penyerahan kepada keluarga. Dua dari empat korban asal Jember telah ditemukan. Pencarian dan identifikasi akan terus berjalan bagi korban lainnya yang masih dinantikan kepulangannya.
 
Kesaksian Seorang Penyelamat: "Kapal Miring, tapi Tidak Ada Alarm Darurat
 
Di antara duka yang mendalam, ada cerita yang patut didengarkan.
Cerita dari seseorang yang selamat, namun pulang dengan kenangan yang tak mudah dilupakan. Ternyata korban masih satu daerah dengan penulis.

Ia adalah Irwan Mujiono, sopir asal Dusun Sumberjo, Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Irwan berangkat bersama rekannya, Aris, pada Sabtu, 12 September 2026. Mereka menaiki KM Virgo Transport 8 menuju Buntok, Kalimantan Tengah. Membawa truk bermuatan suku cadang kendaraan.

Awal perjalanan terasa biasa saja. Namun sekitar pukul 01.30 dini hari, suasana berubah drastis. Irwan masih ingat dengan jelas momen itu.
Ia sedang mengantre jatah makan terakhir.
Aris beristirahat di dekatnya karena sakit gigi.
Irwan sempat memijat temannya itu. Tiba-tiba seseorang berlari memperingatkan bahwa kapal mulai miring.
 
Tidak ada alarm darurat. Tidak ada pengumuman resmi dari awak kapal telah terjadi keadaan bahaya. 

Hanya peringatan dari sesama penumpang.
Dalam waktu singkat, kapal miring mendekati 90 derajat. Lampu padam.
Segalanya terjadi begitu cepat.
 
"Kalau ada jeda, insyaAllah masih banyak yang selamat," kenang Irwan.
 
Kepanikan melanda seluruh penumpang.
Orang-orang berusaha mencari jalan keluar dalam gelap. Di dekat pintu ruang istirahat, Irwan menemukan kotak pelampung yang tidak terkunci. Ia sempat memberikan satu pelampung kepada Aris.
Namun keributan semakin besar.

Dinding dalam kapal pecah. Mereka terpisah.
 
Irwan melompat ke laut.
Ia melihat pemandangan yang tak akan mudah dilupakan. Banyak orang BERPEGANGAN pada sisi kapal yang semakin miring. Seperti pemandangan film yang mengerikan. Saat kapal akhirnya tenggelam, ia berenang menjauh.

Di sekitarnya, suara orang meminta tolong terdengar dari segala arah. "Banyak sekali orang di sekitar kapal itu, meminta tolong," ujarnya dengan suara tertahan.

Sekitar 15 menit di laut, ia melihat sebuah sekoci. Tubuhnya sudah sangat lemas. Namun seorang pria bernama Henius asal NTT menariknya naik.

Irwan selamat bersama lima orang lainnya di sekoci itu.

Pagi harinya, sekitar pukul 10.00 WITA, mereka diselamatkan oleh KM Cahaya Bahari Jaya. Perjalanan pulang terjal.

Dari kapal nelayan, ke kapal TNI, hingga akhirnya tiba di Banjarmasin. Dua minggu dirawat di sana sebelum diperbolehkan pulang ke Kediri.

Rekan Kerjanya Belum Ditemukan

Irwan selamat, namun beban di hatinya belum sepenuhnya terangkat.
Aris, rekannya yang berangkat bersama, hingga saat ini belum ditemukan.

Mereka berangkat berdua untuk bekerja mencari nafkah. Namun tragedi memisahkan mereka di tengah laut yang luas.

Irwan kehilangan truk senilai ratusan juta rupiah.
Uang tunai sekitar Rp2 juta dan ponselnya juga ikut tenggelam. Namun kerugian materi terasa tidak ada apa-apanya dibanding kehilangan orang yang dicintai.
"Yang penting nyawa," katanya. Kerinduan dan kekhawatiran terhadap nasib Aris masih terasa setiap hari.

Keluarga Irwan kini melarangnya menyeberang menggunakan kapal.
Mereka takut kehilangan saudara. Irwan memahami kekhawatiran itu. Namun di sisi lain, pekerjaannya sering kali menuntut perjalanan lintas pulau.

Ia berada di antara rasa aman keluarga dan kebutuhan untuk bekerja.
Sebuah pilihan yang sulit bagi siapa pun yang berjuang menghidupi keluarga.

Irwan menerima santunan dari pihak pengelola kapal dan pemerintah daerah.
Bantuan itu meringankan beban sesaat. Namun pengalaman menghadapi kematian begitu dekat tidak bisa begitu saja dilupakan. Ia belajar satu hal penting dari kejadian itu. Bahwa nyawa adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Bahwa di tengah laut yang luas dan tak terduga, kita hanyalah manusia kecil yang membutuhkan perlindungan Tuhan.

Doa untuk Mereka yang Masih di Laut

Dua peristiwa ini mengingatkan kita pada satu hal yang sama. Bahwa setiap orang yang berlayar memiliki keluarga yang menanti kepulangannya. Setiap nama yang tercatat dalam daftar korban adalah ayah, suami, saudara, atau anak dari seseorang. Di setiap dermaga ada harapan. Di setiap rumah yang menunggu, ada doa yang terpanjat setiap hari.

Kepada keluarga Mayan Petter Saba, M. Abdul Rosyid, dan Aris serta korban lainnya yang belum ditemukan, semoga duka kalian diringankan. Semoga kekuatan selalu menyertai langkah keluarga dalam masa yang sulit ini.

Dan semoga pelajaran berharga dari dua tragedi ini membuat kita semakin menghargai keselamatan di setiap perjalanan yang kita tempuh.

Karena pada akhirnya, tidak ada perjalanan yang lebih penting daripada kepulangan dengan selamat ke pelukan keluarga tercinta. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User