Setelah Menjenguk Gus Yaqut, Ketua Umum PP GP Ansor Berkata: "Kedatangan Kami Bukan untuk Mengintervesi"
SELASA malam 27/10 2026 di lobi Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Kelas 1A Khusus, suasana tidak seperti sidang pada umumnya. Tidak ada palu hakim, tidak ada berkas tebal. Yang ada adalah pelukan persaudaraan.
Dr. H. Addin Jauharudin, Ketua Umum PP GP Ansor, datang dengan kemeja hijau bermotif warna yang identik dengan Ansor. Di hadapannya, berdiri Gus Yaqut Cholil Qoumas, seniornya, sahabatnya, gurunya dalam berkhidmat.
"Sahabat kita, saudara kita, senior kita," tiga kata itu diulang Addin bukan tanpa alasan. Di organisasi sebesar Ansor yang memiliki jutaan kader, relasi tidak hanya struktural, tapi juga emosional. Gus Yaqut bukan orang asing. Ia adalah Ketua Umum PP GP Ansor periode 2015-2020, orang yang pernah memimpin barisan yang kini dipimpin Addin.
"Alhamdulillah saya senang sekali karena beliau dalam keadaan sehat, bugar," kata Addin dengan wajah berbinar. Kalimat sederhana, tapi di dalamnya ada kelegaan yang dalam. Bagi seorang adik organisasi, melihat kakaknya sehat di tengah badai perkara adalah kabar terbaik.
Di tengah proses hukum yang lumayan panjang, yang ditanya Addin pertama kali bukan "kasusnya bagaimana?", tapi "sehatkah?". Itulah Ansor. Hubungan yang dibangun bukan di atas kertas AD/ART, tapi di atas rasa memiliki.
Addin kemudian bicara tentang support moral. Kata itu ia ulang dua kali. Seolah ingin menegaskan, yang ia bawa malam itu bukan pengacara kondang, bukan konferensi pers pembelaan, tapi doa.
"Kami memberikan support moral, doa agar beliau teguh, sabar, kuat."
Di dunia yang serba menghakimi, kehadiran fisik seringkali lebih berarti dari seribu pernyataan. Addin datang, menatap mata seniornya, berdialog banyak hal yang ia tidak rinci ke media. Karena ada hal-hal yang memang cukup menjadi konsumsi batin sesama kader.
Yang paling menarik, Addin buru-buru memberikan pagar: "Kedatangan kami bukan berarti untuk mengintervensi." Kalimat ini penting. Di era media sosial yang mudah memelintir, niat baik bisa dibaca sebagai tekanan. Addin paham betul, keadilan harus dibiarkan bekerja, tanpa cawe-cawe. Ia hanya ingin keadilan itu datang dengan cara yang memanusiakan.
"Persidangan sudah berjalan, persidangan juga banyak. Doa kita cuma satu, mudah-mudahan beliau mendapatkan keadilan."
Tidak ada pembelaan membabi buta. Tidak ada serangan ke pihak lain. Hanya doa. Doa agar fisik sehat, spiritual kuat. Karena Addin tahu, sidang yang panjang tidak hanya menguji bukti, tapi juga menguji mental dan keyakinan seseorang.
Lalu ia bicara tentang strategi dukungan ke depan. Ia tidak tampil sebagai pahlawan tunggal. Ia mendelegasikan.
"Teman-teman LBH Ansor sudah kita instruksikan untuk mendampingi. Silakan berkreasi membantu beliau."
LBH untuk urusan hukum, kader untuk urusan langit. "Kita yakin dengan doa para kader ini mudah-mudahan bisa tembus langit." Kalimat khas santri. Ketika logika hukum sudah berjalan, yang tersisa adalah kekuatan doa kolektif jutaan Banser dan Ansor di seluruh pelosok yang dalam diamnya menyebut nama Gus Yaqut.
Gus Yaqut sendiri, orang yang sedang menghadapi ujian, justru memberi wejangan.
"Pesan beliau sangat baik sekali. Intinya khidmat harus diperkuat, dijaga, pengurus harus solid," kata Addin menirukan.
Di saat banyak orang ketika di posisi sulit akan fokus pada pembelaan diri, Gus Yaqut justru memikirkan organisasi. Khidmat harus diperkuat. Pengurus harus solid. Pesan yang sangat Ansor, sangat NU.
Dan ada satu frasa yang begitu relevan dengan hari ini: "Situasi ekonomi juga lagi susah, bagaimana para kader bisa berkreasi membantu masyarakat."
Gus Yaqut, dari dalam proses sidangnya, masih memikirkan bagaimana Ansor bisa hadir membantu rakyat kecil yang ekonominya sedang sulit. Bukan tentang dirinya, tapi tentang kebermanfaatan gerakan.
Itulah potret malam itu di PN Jakpus. Bukan sekadar jenguk menjenguk. Tapi tentang estafet nilai. Seorang junior yang datang memberi kekuatan, dan seorang senior yang meski diuji, tetap memberi arah.
Di lorong pengadilan yang dingin, yang menghangat adalah ukhuwah. Bahwa di GP Ansor, kader tidak ditinggalkan sendirian menghadapi proses. Didampingi secara hukum, dikuatkan secara spiritual, dan dijaga marwahnya.
Saat Addin pamit, ia tidak membawa janji kemenangan. Ia hanya membawa doa agar Gus Yaqut dimudahkan. Dan bagi seorang sahabat, itu sudah lebih dari cukup. Amin. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)