Alvin Tedjo, Anak Asal Indonesia Pertama yang Jadi Walikota Mississauga, Kanada

Oct 29, 2026 - 15:25
0
Alvin Tedjo, Anak Asal Indonesia Pertama yang Jadi Walikota Mississauga, Kanada
Alvin Tedjo, anak asal Padang, Indonesia, yang sukses terpilih jadi Walikota Mississauga. (FOTO: Istimewa)

TERDAPAT satu fakta kecil yang diceritakan Toronto Star -- media online terbesar di Kanada -- tentang masa kecil Alvin Tedjo. Ia tumbuh besar di sebuah apartemen di pusat kota Mississauga -- kota besar yang bertetangga dengan Toronto, Kanada --  yang jendelanya menghadap langsung ke City Hall -- balai kota marmer yang megah.

Setiap pagi, anak laki-laki keturunan Tionghoa-Indonesia itu melihat gedung itu dari kamarnya. Ia tidak tahu, 37 tahun kemudian, ia akan masuk ke gedung itu. Bukan sebagai pengunjung, tapi sebagai pemilik kantor terbesar di dalamnya.

Senin malam, 26 Oktober 2026, Wildflower Kitchen + Social, Mississauga. Layar menampilkan angka: 74.479 suara. Alvin Tedjo, 41 tahun, ayah tiga anak, mantan anggota dewan Ward 2 yang dua tahun lalu kalah, kini berdiri sebagai walikota terpilih kota terbesar di Ontario, setelah Toronto. Ia mengalahkan dua raksasa: Carolyn Parrish, petahana yang juga mantan anggota parlemen, dan Bonnie Crombie, mantan walikota yang memimpin hampir 10 tahun.

"Mississauga has voted for change," katanya dengan suara bergetar. "Today the City of Mississauga has made a clear and historic choice to demand a change at city hall."

Kalimat itu bukan sekadar retorika kemenangan. Di baliknya ada kisah imigrasi klasik yang kini menjadi kisah Kanada.

Ayahnya, Anto Tedjo, adalah putra Padang, Sumatera Barat. Dokter gigi lulusan Universitas Trisakti Jakarta. Pada 1978, ia mengambil keputusan yang mengubah garis keturunan keluarganya: pindah ke Kanada. Alvin baru berusia empat tahun. Di negeri baru, ijazah dokter gigi itu tidak serta-merta berlaku. Untuk bertahan, Anto bekerja sebagai pencuci piring, pengantar makanan. Dari wastafel restoran ke ruang praktik, ia membangun kembali hidupnya pelan-pelan.

Ibunya, Angela M. Tedjo, menjaga rumah. Nama mereka selama ini tidak banyak dibahas, karena keluarga Tedjo sengaja menjaga privasi. Namun kini catatan publik Wikipedia telah mencatat keduanya sebagai bagian dari sejarah politik Mississauga.

Bagi keluarga Tionghoa-Indonesia yang pindah di era 1970-an, Mississauga adalah tanah harapan. Kota yang saat itu masih pinggiran Toronto, kini menjadi kota dengan keberagaman luar biasa, di mana hampir 50 persen penduduknya lahir di luar Kanada. Di kota itulah Alvin bersekolah di Father Michael Goetz Secondary School, menjadi ketua OSIS dua tahun berturut-turut. Ia bukan anak yang lahir dengan privilege politik. Ia harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan bahwa aksen orang tuanya bukan penghalang.

Teman-teman kecilnya mengingatnya sebagai anak yang selalu ingin tahu cara kerja pemerintahan kota. Mungkin karena setiap hari ia melihat City Hall dari jendela. "Rumah saya menghadap City Hall," pernah ia katakan dalam wawancara. Kedekatan fisik itu berubah menjadi kedekatan emosional.

Setelah lulus dari Queen's University di Kingston dan meraih master dari Harvard, ia bekerja di bidang keuangan dan pemerintahan sebelum memutuskan masuk politik. Pada 2022 ia terpilih sebagai anggota dewan Ward 2 (Clarkson dan Lorne Park). Pada by-election walikota 2024, ia mencoba peruntungan pertama: kalah dengan 25 persen suara berbanding 31 persen milik Parrish.

Banyak orang akan berhenti di situ. Tapi Tedjo tidak. Ia memilih tidak mencalonkan kembali untuk kursi dewannya pada 2026, dan justru menantang lagi Parrish. Saat itu, Bonnie Crombie, yang sebelumnya meninggalkan balai kota untuk menjadi pemimpin Partai Liberal Ontario dan gagal di Pemilu provinsi 2025, memutuskan kembali ke arena kota. Pertarungan menjadi tiga arah: dua mantan walikota perempuan yang sangat populer melawan anggota dewan satu periode keturunan Indonesia.

Agustus 2026, polling Liaison Strategies menempatkannya di posisi ke-4 dengan 12 persen. Media menulisnya sebagai "longshot". Parrish dan Crombie masing-masing 35 persen. Namun Tedjo melakukan kampanye dari pintu ke pintu dengan pesan sederhana: pajak properti terlalu tinggi, pengeluaran kota tidak transparan, dan balai kota butuh generasi baru.

Ia berjanji membekukan pajak properti residensial selama dua tahun untuk porsi kota, meningkatkan rebate untuk senior, dan membuat program kota lebih murah untuk keluarga. Di kota di mana banyak keluarga imigran seperti keluarganya berjuang membayar hipotek, pesan itu mengena.

Pada 22 Oktober, empat hari sebelum pencoblosan, polling yang sama menunjukkan Tedjo 31 persen, menyalip Parrish dan hanya selisih tipis di belakang Crombie. Momentum itu tak terbendung. Pada malam 26 Oktober, ia unggul lebih dari 22.000 suara dari petahana.

Yang membuat kemenangan ini human interest bukan sekadar angka, tapi simbolnya. Di panggung kemenangan, ia didampingi istrinya Rebecca Tedjo dan ketiga anaknya. Ia mengucapkan terima kasih kepada Parrish dan Crombie - dua rival yang 24 jam sebelumnya saling debat sengit. Parrish membalas dengan elegan: "Dia bisa menelepon saya kapan saja, saya akan beri tahu apa yang tidak boleh dilakukan." Crombie berkata: "Alvin, energimu, antusiasmemu, dan kegembiraan yang kamu bawa ke politik itu penting. Kamu menginspirasi orang untuk terlibat."

Di komunitas Indonesia di Kanada, kemenangan ini disambut haru. Untuk pertama kalinya, seorang putra kelahiran Padang memimpin kota besar di Amerika Utara. Bukan sebagai token keberagaman, tapi sebagai pemenang yang mengalahkan incumbent.

Namun Tedjo sendiri tidak ingin dibingkai hanya sebagai "walikota keturunan Indonesia". Dalam pidatonya ia berkata: "Ini bukan hanya tentang kemenangan politik. Ini tentang membangun kembali kepercayaan dan memberikan perubahan nyata bagi Mississauga."

Tugasnya tidak mudah. Mississauga menghadapi krisis perumahan, infrastruktur menua, dan ekspektasi akuntabilitas yang tinggi. Janji pembekuan pajak dua tahun akan diuji: bagaimana membiayai layanan tanpa menaikkan pajak? Usulan korporasi perumahan kota akan diuji: bagaimana membangun rumah terjangkau tanpa membebani anggaran?

Tapi jika melihat dari mana ia berasal -- dari anak imigran yang ayahnya pernah mencuci piring untuk bertahan hidup, dari bocah yang melihat City Hall dari jendela kamarnya. Orang-orang Mississauga tampaknya percaya bahwa ia mengerti arti kerja keras dan arti perubahan.

Hari ini, anak itu tidak lagi melihat City Hall dari luar. Ia akan bekerja di dalamnya. Dan bagi ribuan anak imigran lain di Mississauga yang melihatnya malam itu di TV, pesan itu jelas: kota ini masih memberi tempat bagi siapa pun yang berani bermimpi, bahkan jika mimpinya dimulai dari sebuah jendela kecil yang menghadap balai kota. Wallahu A'lam Bisshawab.(*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 1
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User