Di Kantor PCNU Surabaya, Digelar Acara Talkshow dan "Santri Siaga Stroke"
Inilah potret kegiatan bertajuk "Santri Siaga Stroke", hasil kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RS UNAIR, dan jaringan Nahdlatul Ulama Surabaya dalam memperingati World Stroke Day 2026.
DI RUANGAN yang sederhana di Kantor PCNU Surabaya, Jalan Bubutan 1 - 7, Sabtu siang lalu 24 Oktober 2026. Tergelar acara talk show dan edukasi kesehatan bertema "Santri Siaga Stroke."
Suasana terasa berbeda. Bukan kajian kitab biasa yang didengarkan puluhan santri dan kader kesehatan pesantren saat itu.
Mereka menyimak penjelasan dokter dengan seksama, mengangkat tangan untuk bertanya, dan mencatat hal-hal penting di buku catatan masing-masing. Topiknya sungguh penting: bagaimana mengenali tanda-tanda stroke dan menyelamatkan nyawa orang-orang terdekat kita.
Inilah potret kegiatan bertajuk "Santri Siaga Stroke", hasil kerja sama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RS UNAIR, dan jaringan Nahdlatul Ulama Surabaya dalam memperingati World Stroke Day 2026.
Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan kesehatan biasa. Lebih dari itu, ini adalah jembatan yang menghubungkan ilmu kedokteran modern dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di lingkungan pesantren.
Banyak orang mungkin bertanya: mengapa pesantren? Mengapa bukan langsung ke rumah sakit atau Puskesmas?
Jawabannya sederhana namun mendalam. Pesantren adalah pusat kehidupan masyarakat yang besar. Ribuan santri tinggal di sana, dan ribuan keluarga di sekitarnya menaruh kepercayaan kepada pesantren.
Jika di pesantren ada yang memahami cara mengenali stroke sejak dini, maka pengetahuan itu akan menjangkau jauh lebih banyak orang daripada sekadar papan pengumuman di balai kesehatan.
Seorang santri yang hadir mengungkapkan bahwa selama ini ia sering mendengar tetangga atau kerabat terkena stroke, namun tidak tahu harus berbuat apa.
"Kami hanya tahu dibawa ke rumah sakit setelah kondisinya sudah parah. Padahal kalau tanda-tandanya kami kenal lebih awal, mungkin kerusakannya tidak separah itu," ujarnya dengan nada haru.
Melalui metode FAST yang diajarkan, hal yang dulu terasa rumit kini menjadi mudah diingat. FAST singkatan dari:
F (Face Drooping = wajah menurun), salah satu wajah menurun, tidak simetris saat tersenyum, terkulai.
A (Arm Weakness = salah satu lengan terasa lemah), bila kedua tangan diangkat yang satu lebih rendah.
S (Speech Difficulty = kesulitan bicara). Bicaranya pelo, cadel.
T(Time to Call Emergency = Waktu untuk panggilan darurat). Segera hubungi layanan darurat bawa pasien ke rumah sakit terdekat secepat mungkin.
Sederhananya, wajah miring? Lengan lemah? Bicara cadel? Segera bawa ke dokter. Tiga hal sederhana itu bisa menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan seumur hidup.
Namun, program ini tidak berhenti di situ. Materi yang disampaikan sangat lengkap dan menyentuh aspek yang sering terlupakan. Dr. dr. Abdulloh Machin mengingatkan bahwa stroke bukan hanya soal nasib atau usia. Banyak faktor risiko yang bisa dikendalikan: tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, gula darah yang melonjak, kebiasaan merokok, makanan yang terlalu asin dan berlemak, serta kurang bergerak. Semua itu bisa diubah jika kita sadar sejak dini.
Sementara itu, dr. Nanda Aulya Ramadhan membawa pesan yang sama pentingnya: harapan bagi para penyintas. Banyak orang mengira setelah terkena stroke, hidup selesai di situ.
Padahal, dengan rehabilitasi yang tepat dan dukungan lingkungan yang positif, seseorang bisa berangsur pulih dan kembali mandiri.
Semangat itu pun disampaikan dengan hangat, seolah ingin memberi harapan bahwa pintu kesembuhan selalu terbuka.
Tak kalah penting, dr. Nurul Azizah membahas hal yang paling dekat dengan keseharian kita: yakni makanan. Apa yang kita makan setiap hari, ternyata berpengaruh besar terhadap kesehatan pembuluh darah kita. Makanan sederhana yang terjaga keseimbangannya jauh lebih berharga daripada obat mahal yang diminum setelah sakit datang.
Yang membuat kegiatan ini terasa istimewa adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara langsung. Ada yang pertama kali mengetahui tekanan darahnya tinggi.
Ada yang baru sadar bahwa berat badannya perlu dijaga lebih baik. Semua itu terjadi di tempat yang akrab dan nyaman — di lingkungan organisasi yang mereka cintai. Tidak ada rasa takut atau malu untuk bertanya.
Program "Santri Siaga Stroke" mengandung makna yang jauh lebih besar daripada sekadar edukasi kesehatan. Ini adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak harus terasa jauh dan asing. Ilmu kedokteran bisa hadir di tengah masyarakat, disampaikan dengan bahasa yang dipahami, dan dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri.
Poskestren yang dulu mungkin hanya tempat mengobati luka ringan dan memberi obat penurun panas, kini diperkuat perannya menjadi tempat di mana nyawa bisa diselamatkan karena seseorang tahu kapan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Tentu perjalanan ini belum selesai. Diperlukan pelatihan berulang, panduan tertulis yang mudah dipahami, serta sistem rujukan yang jelas dan terjangkau. Namun langkah awal ini sudah sangat berarti.
Ketika kegiatan usai, bukan sekadar pulang membawa brosur, tapi juga membawa pengetahuan yang mungkin suatu hari nanti akan berguna untuk menyelamatkan orang yang mereka cintai.
Di sinilah letak keindahannya: ketika ilmu pengetahuan turun ke masyarakat, bukan untuk menggantikan nilai-nilai yang ada, melainkan memperkuatnya. Agar setiap orang dapat hidup sehat, berdaya, dan saling menyelamatkan. Itulah esensi sejati dari pengabdian ilmu pengetahuan: tidak hanya untuk diketahui, tetapi untuk menyelamatkan nyawa. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)