Di Portugal, Anak-Anak Hanya 9 Bulan Sekolah per Tahun, Tiga Bulan Lainnya Libur
Pindah-pindah negara membuat kami tidak tahu kapan tanggal merah atau public holiday. Lebih tepatnya kami tidak punya kalender, hahaha.
LIBUR telah tiba ... libur telah tiba, horeeee horeeee horeeeee!!!! Ups…. Kok bisa libur lagi? Kan baru masuk tahun ajaran baru. Yes!! kawan pembaca tidak salah baca.
Aku pun bingung. Baru masuk sekolah 2 bulan, tetapi anak-anak sudah kesenangan karena dapat libur lagi. Apakah hal ini normal di sekolah Afrika Selatan atau hanya di sekolah anakku saja?
Pindah-pindah negara membuat kami tidak tahu kapan tanggal merah atau public holiday. Lebih tepatnya kami tidak punya kalender, hahaha. Suami baru sadar kalau itu hari libur saat diberitahu oleh teman kantor. “Kenapa bikin jadwal meeting, itu tanggal merah wooy,” kira-kira begitulah kalau di bahasa Indonesia-kan.
BACA JUGA: Di Cape Town, Aku Bertemu Banyak Teman Indonesia, bahkan Ikut Pengajian Bersama Ibu-Ibu
Jalan terjitu yaitu lihat kalender sekolah anak.
Pertama kali buka kalender akademik sekolah anak-anak di Cape Town, kami pun terkejut. Ternyata libur sekolahnya juga lama, seperti di Eropa pada umumnya. Namun ada sedikit perbedaan penyebutan libur sekolah. Di Eropa atau Portugal, mereka menyebut Easter atau Carnaval Break, Summer Break, Halloween atau Autumn Break, Christmas and New Year Break. Sedangkan di Cape Town lebih simple, “End-Term Break”.
Kegiatan ekstrakurikuler juga semua libur
Seperti di tulisan edisi minggu lalu (28/9) yang menceritakan banyak persamaan Afrika Selatan dengan Indonesia, ternyata budaya libur sekolahnya berbeda nih. Sepertinya anak-anak Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar di sekolah. Adanya 4 musim di Afrika Selatan juga turut menunjang adanya “harus libur sekolah”. Hehehe.
Kurikulum di Afrika Selatan dibagi menjadi 4 term dengan total sekitar 200 hari sekolah per tahun. Tahun ajaran baru dimulai pada bulan Januari dan berakhir di bulan Desember. Langsung 1 tahun kalender penuh. Eh, baru tahu ya moms? Samaaa!!!
Kami pun juga terheran-heran saat survey sekolah pertama kali di sini. Semua jenjang pendidikan di Afrika Selatan hingga di jenjang perguruan tinggi, semuanya memakai kalender penuh satu tahun.
Umumnya, term 1 dimulai di bulan Januari – Maret, dilanjutkan term 2 di April – Juni, sedangkan term 3 di Juli – September, dan diakhiri term 4 di Oktober – Desember. Di masing-masing jeda term terdapat libur sekolah selama 2 minggu – 1 bulan. Mantab kaaaannn….
Agenda liburan pasti pergi ke playground di taman terbuka
Sedangkan jadwal sekolah ini sedikit berbeda dengan sekolah DoubleZ. Rata-rata sekolah internasional di Afrika Selatan yang tidak menggunakan kurikulum Afsel akan memiliki kalender akademik yang berbeda. Hal ini sebagai jembatan untuk para expat yang apabila harus kembali ke Eropa, si anak bisa langsung menyesuaikan tingkatan kelas.
DoubleZ mulai masuk tahun ajaran baru pada bulan Agustus dan nanti sekolah akan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya. Hampir sama persis seperti di Portugal maupun di Indonesia.
Indonesia memulai tahun ajaran baru pada bulan Juli dan berakhir di bulan Juni. Nikmat sekali kalau di Portugal, anak-anak baru masuk sekolah bulan September tetapi sekolah sudah berakhir di bulan Juni tahun berikutnya. "Hanya" 9 bulan. Tidak sekolahnya 3 bulan, Juli - Agustus - September.
Pusiiiing nggak moms kalau libur sekolahnya selamaaa itu di Portugal? Hahahaha.
Baru kemarin awal Agustus masuk sekolah, sekarang awal Oktober sudah menikmati libur. Di akhir term ini, DoubleZ juga menerima rapor. Pihak sekolah menganggap bahwa akhir term 1 ini seperti mid-semester. Sehingga libur 1 minggu saja cukup. Berbeda dengan akhir term 2 yang nanti akan jatuh di Christmas and New Year Eve, mereka akan libur hampir 1 bulan. Jadi libur sekolah pun punya ritme. Libur sebentar di term ganjil dan long holiday di term genap.
Zygmund di Pos pengamatan Pinguin di Boulder Beach Cape Town
Urusan libur sekolah ini juga menjadi ajang culture shock bagi keluarga kami. Di saat melihat sekolah lain sudah libur, kami harus masih mengantar ke sekolah. Tapi enaknya adalah jalanan tidak begitu macet di pagi hari, hahaha. Sedangkan apabila ingin hangout dengan teman, kami harus menyesuaikan jadwal anak dulu. Di saat sekolah lain sudah masuk sekolah, maka gantian sekolah DoubleZ yang libur.
Kalau dipikir-pikir sebenarnya sistem kurikulum seperti ini memberikan keuntungan untuk anak-anak dan juga keluarga.
Kok bisa???
Pertama, selama 2 bulan penuh anak-anak sudah belajar serius di sekolah selama 8 jam per hari. Bahkan setelah sekolah, mereka memiliki banyak kegiatan, entah itu ekstrakulikuler internal / eksternal. Sering kali mereka sudah full-day di sekolah. Sekolah DoubleZ mewajibkan masing-masing anak mengambil kegiatan after-school atau ekstrakulikuler (eskul).
Dari Senin – Jumat tersedia banyak pilihan dan mostly semuanya FREE!!! Contohnya seperti sepakbola, basket, catur, renang, book club, dance and drama, tennis, rugby, gymnastic, dan masih banyak lagi. Sedangkan pilihan yang berbayar pun juga ada seperti balet, riding horse, piano.
Uniknya, beberapa kegiatan eskul di luar sekolah juga menjadwalkan libur lho. Contohnya adalah les renang DoubleZ. Mereka menyesuaikan kalender sekolah dengan kurikulum Afsel. Sehingga si anak akan benar-benar merasakan full libur. Tidak ada yang namanya sekolah libur tapi eskul tetap lanjut. Namun hal ini justru membuat para orangtua sibuk mencari alternatif short-term kegiatan di luar. Apalagi bagi kedua orangtua yang bekerja.
Kedua, dengan adanya end-term-break terjadwal seperti ini memudahkan keluarga untuk merencanakan liburan dari jauh-jauh hari. Menurut Oliver James - seorang psikolog anak terkemuka asal Inggris sekaligus penulis buku best-seller “Love Bombing”, otak anak menyimpan memori dari pengalaman baru (liburan/wisata) jauh lebih dalam dan membekas hingga dewasa dibandingkan dengan kepemilikan barang material seperti mainan, tas, gadget, atau buku mahal.
Yuk parents millenial, kita usahakan mengajak anak untuk sering berlibur. Tidak harus jauh dan mahal, staycation di dalam kota ataupun pergi piknik sederhana dengan membawa bekal makanan kesukaan anak pun akan berkesan kok. Karena yang mereka tunggu adalah suasana keluar rumah siang hari di saat weekday dan mereka bisa bertanya:“kita mau kemanaaaa?”.
Sebab pada akhirnya, yang tertanam di kepala anak bukanlah nominal rupiah yang kita keluarkan, melainkan perasaan dicintai dan kehadiran penuh kita sebagai orang tua. Ketika kita melepaskan sejenak gadget dan rutinitas kerja demi menemani mereka berlarian di rumput taman atau sekadar melihat awan bersama, kita sedang membangun fondasi emosional yang kokoh bagi masa depannya.
Mari ciptakan lebih banyak momen "kita mau ke mana" di sela kesibukan kita, karena masa kecil anak berjalan begitu cepat, dan investasi terbaik yang bisa kita berikan adalah memori masa kecil yang penuh dengan tawa dan petualangan bersama. Bismillah, kita sedang belajar menjadi orang tua yang tidak sekadar mengisi tas mereka dengan benda, melainkan memeluk masa kecil mereka dengan kenangan bermakna. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)