Di Cape Town, Aku Bertemu Banyak Teman Indonesia, bahkan Ikut Pengajian Bersama Ibu-Ibu
Rangkaian kalimat itu adalah yang paling sering ditanyakan oleh para kerabat. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diucapkan.
ADAPTASI adalah satu kata yang sederhana, namun sebenarnya itu adalah proses perjalanan panjang yang akan dilakukan seseorang apabila pindah ke suatu tempat. Beda halnya dengan culture shock - sebuah reaksi atau perasaan ketika menghadapi budaya baru atau kebiasaan yang berbeda dari yang kita kenal.
Di mana paling sering kawan pembaca merasakan culture shock atau harus beradaptasi? “Bagaimana tinggal di Afrika Selatan? Bagaimana makanan di sana? Eh, di Cape Town itu panas banget kah? Bagaimana pemandangan Cape Town, beneran cantik sekali kah?”
BACA JUGA: Berbagai Tempat Wisata yang Eksklusif dan Indah di Cape Town, Afrika Selatan
Rangkaian kalimat itu adalah yang paling sering ditanyakan oleh para kerabat. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diucapkan. “Bagaimana proses kamu beradaptasi mengatasi perbedaan budaya lintas negara?”
Coba tanyakan ini, maka dijamin si lawan bicara kamu tak akan berhenti bercerita.
Saat datang ke Cape Town sebagai turis, kami hanya merasakan culture shock. Kehidupan di Cape Town dengan Lisbon (Portugal) sangat jauh berbeda. Budaya Eropa yang sudah terkenal dengan kemandirian dan dingin, tak heran apa saja di Eropa harus serba sendiri. Saat turis Eropa ke sini (Cape Town), 100% mereka akan dimanjakan oleh fasilitas di Afrika Selatan.
BACA JUGA: Di Benua Afrika yang Memiliki 4 Musim adalah Afrika Selatan, Maroko, Aljazair, dan Tunisia
Menurut kami justru Afrika Selatan cenderung seperti Asia. Di mana pun akan mendapatkan pelayanan baik dan sangat ramah.
Supermarket Checkers favorit kami belanja bulanan. (FOTO: Okky)
Apakah sebagai turis perlu beradaptasi? Well, rasanya cukup belajar dan mencoba hal yang baru saja. Berbeda dengan berpindah untuk menetap. Dari proses banyak belajar, akhirnya mau mencoba sedikit demi sedikit, mulai hidup terbiasa selama minimal 6 bulan di tempat baru, maka bisa dibilang kalian sukses melewati proses adaptasi. Tidak harus 6 bulan, bisa lebih cepat atau lambat.
Sudah 5 bulan tinggal di Cape Town, kami mulai menikmati kehidupan di sini. Mengapa bisa suka Cape Town secepat ini??? Apakah nanti kami tidak mau balik ke Portugal? Hahahahaha.
Pertama aku akan cerita culture shock tentang “kemandirian”. Di Portugal atau kebanyakan Eropa, segala aktifitas seperti mengisi bensin, proses check out di supermarket, menimbang buah/sayur, membungkus belanjaan di kasir, membersihkan sisa makanan di food court mall, mendorong trolley ke parkiran saat belanjaan banyak, laundry, mencuci mobil, membawa koper ke kamar hotel dan membayar parkir – semuanya dilakukan self–service. Sedangkan saat pindah ke Cape Town, semua hal ini masih menggunakan jasa orang lain.
Salah satu supermarket terbaik di Afrika Selatan. (FOTO: Okky)
Berasa aneh atau malah senang nih? Kedua perasaan ini sebenarnya bercampuk aduk lho!!! Selama 4 tahun tinggal di Portugal dengan segala kemandirian, kami sudah terbiasa tanpa bantuan orang lain. Bahkan yang paling ekstrem adalah kami selalu membereskan meja di food court sampai bersih sehingga orang setelah kami bisa dengan nyaman langsung memakainya.
Kami berpikir menjaga kebersihan di tempat umum adalah kewajiban kami yang memakai fasilitas tersebut.
Setelah sampai di Cape Town, kami justru merasakan hal yang telah lama hilang dan tiba-tiba muncul kembali. Siapa yang langsung tersadar bahwa sistem di Afrika Selatan sama dengan di Indonesia??? Yes!!! Bener banget!!!
Zygmund (putera kedua kami) juga sudah menikmati kehidupan di Cape Town. (FOTO: Okky)
Semua “princess treatment” itu didapatkan di Indonesia dengan cukup bilang “Bapak/Ibu bisa minta tolong bla bla bla”. Di Eropa jangan harap ada seperti ini. Satpam dan tukang parkir tidak ada di parkiran supermarket atau mall, hahaha.
Culture shock ini aku rasakan saat tiba di Cape Town. Dua bulan pertama di sini, masih otomatis memasukkan barang belanjaan sendiri ke tas yang selalu kami bawa dari rumah. Meskipun kantong plastik tersedia di kasir dengan harga sangat murah, sekitar 500 – 1000 rupiah, kami memilih mandiri membawa tas.
Menurut kami mengumpulkan kantong plastik di rumah juga tidak ada gunanya, karena kebutuhan kantong plastik sampah juga memiliki ukuran tertentu.
Jalan-jalan ke mall sambil grocery bulanan. (FOTO: Dok. Keluarga)
Di Cape Town masih sangat normal berbelanja menggunakan kantong plastik. Tetapi ada juga sebagian restoran/toko/supermarket yang sudah beralih ke paper bag. Sekarang kami sudah terbiasa memberikan tas belanjaan ke kasir. Selain itu ada “princess treatment” yang tak kalah seru lagi. Saat keluar menuju parkiran membawa trolley belanjaan, pasti ada sesosok pria yang langsung mendatangi dan menawari bantuan.
Awalnya merasa overthinking “kenapa orang ini, mau apa dia, apakah dia orang jahat, aku bisa sendiri kok jangan dekat-dekat”, tapi ternyata mereka hanyalah petugas parkir yang ramah. Kalau pas ada uang receh 5 rand (Rp.5000) / 10 rand (Rp.10.000) / 20 rand (Rp.20.000) di dompet, aku kasih ke mereka sebagai tanda terima kasih sudah membantu membawakan belanjaanku yang super banyak.
Ini hanya contoh sebagian kecil “princess treatment” yang aku dapatkan di Cape Town. Berawal dari proses culture shock yang kemudian berhasil beradaptasi. Rata-rata di Eropa sudah punya sistem yang memadai, serba otomasi, orang takut hukum / denda, dan juga diperlukan biaya mahal untuk membayar jasa orang. Sehingga hal ini mendorong sumber daya manusia untuk mandiri dan jujur. Ketahuan mencuri, tidak bayar bensin, atau tidak membeli tiket saat naik transportasi umum, semua bisa kena hukuman dan denda.
Apakah hal ini bisa diterapkan di semua negara?
5 bulan di Cape Town sudah berhasil adaptasi, Alhamdulillah. (FOTO: Dok. Keluarga/Fariz)
5 bulan di Cape Town, aku mulai bertemu dengan banyak teman Indonesia. Bahkan sudah pecah telor aku ikut pengajian bersama ibu-ibu pertama kalinya di luar negeri. Di Swiss dan Portugal belum pernah ikut sama sekali. Ustadzah yang mengisi pengajian warga lokal sini, sedangkan peserta yang hadir mayoritas warga Indonesia. Ternyata kegiatan pengajian ini sebelumnya dilakukan rutin setiap sebulan sekali. Masya Allah. Semoga kalau waktunya cocok bisa ikut rutin pengajian bersama Ibu-ibu Sholehah.
Pindah negara kali ini adalah adaptasi tercepat yang aku rasakan. Sudah mulai banyak kenalan, bermain ke rumah teman, pergi grocery sendirian, me time jalan-jalan ke mall, bisa nyetir ke sana – ke sini dengan berbekal google maps meskipun tidak terlalu jauh, dan solo parenting handle DoubleZ saat Papi Fariz pergi bisnis trip. Alhamdulillah.
Tidak semua orang harus menetap di satu tempat untuk merasa punya rumah. Ada yang justru menemukan rumahnya setelah berkali-kali berpindah, beradaptasi, dan memulai lagi. Rumah kami di Portugal banyak sekali kenangan. Sekarang kami sedang membangun rumah yang baru. Jadi, kalau hidup sedang membawa kita ke tempat yang baru, mungkin bukan berarti kita kehilangan rumah, mungkin kita sedang diberi kesempatan untuk menemukan versi rumah yang lain. (*)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)