Mengharukan, PCNU Kabupaten Maluku Tengah Segera Punya Kantor Sendiri
Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Maluku Tengah. Bukan sekadar seremonial organisasi. Itu adalah pulang kampung.
JIKA ANDA mengetik "Masohi" di Google, yang muncul adalah foto air laut sebening kaca di Pantai Ora dan benteng tua di Banda Neira. Tapi pada Rabu, 28 Oktober 2026 kemarin, Masohi menampilkan keindahan yang lain, yaitu barisan baju putih, sarung hitam, dan sorban hijau yang bergetar menahan haru.
Di satu pendopo sederhana dengan ornamen Maluku biru-putih di pinggirnya, seorang kiai yang bersahaja berdiri di podium. Di sebelah kirinya, seorang lelaki asli Maluku yang kini menjadi Wasekjen PBNU menunduk, matanya berkaca-kaca. Di depan mereka, puluhan pengurus NU Maluku Tengah yang baru dilantik.
Itulah pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Maluku Tengah. Bukan sekadar seremonial organisasi. Itu adalah pulang kampung.
Nama yang Diberi Bung Karno
Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa, mengawali sambutannya bukan dengan struktur organisasi, tapi dengan cerita nama.
"Tahukah kalian arti Masohi?" tanya Kiai Zulfa kepada hadirin.
Hening.
"Masohi itu bahasa Seram. Artinya gotong royong," jawabnya sendiri.
Ia lalu bercerita, pada 3 November 1957, Presiden Soekarno sendiri yang memberi nama kota ini. Kota ini dibangun bukan oleh kontraktor besar, tapi oleh rakyat yang menggotong kayu, memikul batu, menanam tiang bersama-sama setelah pusat pemerintahan lama porak-poranda.
"Masohi ini bukan sekadar nama di peta. Ini filosofi bangsa kita. Dan ini juga ruh NU. NU bisa besar sampai 100 tahun bukan karena satu kiai hebat, tapi karena gotong royong jutaan santri yang tidak pernah tercatat namanya," kata Pengasuh Pesantren Nurul Huda Cianjur itu.
Di Masohi, kata gotong royong itu hidup. Ia tidak hanya ada di kamus.
Air Mata Seorang Putra Maluku
Jika Kiai Zulfa adalah tamu yang datang membawa pesan pusat, maka Faisal Saimima adalah tuan rumah yang akhirnya melihat rumahnya dibangun.
Lelaki dengan sorban hijau itu adalah Wasekjen PBNU. Tapi bagi orang Maluku, ia adalah "Anak Maluku" yang merantau jauh dan kini pulang dengan membawa panji besar PBNU.
"Ini sejarah," kata Faisal dengan suara bergetar saat diminta sambutan. Ia alumnus Susbanpim II Banser Nasional, biasa tegas di barisan. Tapi hari itu ia tak bisa menyembunyikan harunya.
"Selama ini kami konsolidasi NU di Maluku Tengah itu numpang di teras masjid, di rumah ketua tanfidziyah, di balai desa. Tidak punya kantor. Hari ini, untuk pertama kalinya, PCNU Maluku Tengah akan punya rumah sendiri, kantor sendiri yang representatif. Ini bukan gedung, ini harga diri," ujarnya.
Ia menatap satu per satu wajah pengurus yang dilantik. Ada yang datang dari kepulauan Banda yang harus naik kapal 8 jam, ada dari Seram Utara yang jalannya masih tanah. Mereka datang dengan ongkos sendiri, karena ingin dilantik langsung oleh PBNU.
"Maluku Tengah itu mayoritas muslim moderat. Orang Ambon bilang, Katong samua basudara. Kita semua bersaudara. Itu sama dengan Islam rahmatan lil alamin yang diperjuangkan NU. Tugas kantor ini nanti adalah merawat itu, agar anak-anak di antara Banda Neira dan Pantai Ora tahu bahwa Islam itu indah, bukan marah-marah," kata Faisal.
Banda Neira dan Pantai Ora memang dua ikon wisata dunia. Tapi bagi Faisal, ikon yang lebih penting adalah anak muda Maluku yang tidak terpapar radikalisme, karena ada Ansor dan Banser yang merangkul mereka.
Antara Sumpah Pemuda dan Resolusi Jihad
Pemilihan tanggal 28 Oktober bukan kebetulan. Hari itu adalah Hari Sumpah Pemuda ke-98. Enam hari sebelumnya, 22 Oktober, bangsa ini baru saja memperingati Hari Santri.
Kiai Zulfa menyatukan keduanya di tanah Masohi.
"Sumpah Pemuda mengajarkan kita satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Hari Santri mengajarkan kita satu tekad: Hubbul Wathan Minal Iman, cinta tanah air sebagian dari iman. Di Masohi, tanah gotong royong ini, kita satukan keduanya," tegasnya.
Ia melihat barisan Banser berseragam loreng yang berdiri tegak di sisi kiri panggung. Dua orang di antaranya masih sangat muda, baru lulus SMA.
"Pemuda NU harus menjadi pelopor persatuan, bukan perpecahan. Dari Masohi, dari timur Indonesia, kita kirim pesan ke Jakarta, ke Jawa, bahwa NU di timur siap menjaga Indonesia. Kalau timur kuat, Indonesia utuh," kata Kiai Zulfa.
Pesan itu terasa relevan. Maluku Tengah adalah kabupaten kepulauan terluas. Tantangannya bukan macet seperti di Jawa, tapi ombak dan jarak antar-pulau. Untuk memperkuat struktur NU hingga ke tingkat MWC dan Ranting, dibutuhkan gotong royong yang sesungguhnya, seperti saat membangun Kota Masohi dulu.
Ketua Tanfidziyah PWNU Maluku, Dr. Yamin, yang mendampingi, mengangguk. Ia tahu betul betapa sulitnya menggerakkan organisasi di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Tapi dengan adanya kantor baru di pusat Kota Masohi, ia optimistis semua program - dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi keumatan lewat NU Care-LAZISNU - akan lebih masif.
Didukung Bupati dan Kapolda
Yang membuat pelantikan ini terasa istimewa adalah dukungan penuh pemerintah dan aparat.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, dan Kapolda Maluku, Irjen Pol. Suwondo Nainggolan, hadir hingga selesai. Keduanya bukan hanya hadir sebagai pejabat, tapi sebagai sahabat NU.
"Kami pemerintah daerah sangat berterima kasih. Masohi dengan arti gotong royongnya memang sangat cocok dengan NU yang selalu mengedepankan kebersamaan. Kami siap mendukung pembangunan kantor PCNU ini," kata Bupati Zulkarnain.
Kapolda Irjen Suwondo menambahkan, NU adalah mitra strategis Polri dalam menjaga kamtibmas. Di wilayah kepulauan yang rawan penyusupan paham intoleran, kehadiran NU yang moderat adalah benteng terbaik.
Acara ditutup dengan peletakan batu pertama. Kiai Zulfa, Faisal Saimima, Rois Syuriah KH. Abdurrahman Tuanaya, Dr. Yamin, Bupati, dan Kapolda bergotong royong memegang cangkul yang sama, mengaduk semen yang sama.
Itulah Masohi. Di tanah yang namanya berarti gotong royong, sebuah rumah besar NU mulai dibangun. Bukan hanya dengan batu dan semen, tapi dengan air mata haru seorang putra Maluku yang pulang, dan dengan doa ratusan santri yang ingin merawat jagat dari timur Indonesia.
Dari antara keindahan Banda Neira dan Pantai Ora, kini akan berdiri mercusuar baru: Kantor PCNU Maluku Tengah. Rumah gotong royong itu. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)