Hari Santri Nasional, Puluhan Ribu Massa Bersarung Tumpleg Bleg di Simpang Lima Gumul Kediri, Mengapa? 

Bukan untuk pesta biasa. Mereka datang merayakan Peringatan Hari Santri Nasional 2026, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 22 Oktober. 

Oct 04, 2026 - 20:57
0
Hari Santri Nasional, Puluhan Ribu Massa Bersarung Tumpleg Bleg di Simpang Lima Gumul Kediri, Mengapa? 
Rais Syuriah PC NU Kediri KH Nasyir Badrus Sholeh saat berangkatkan puluhan ribu peserta jalan sehat bersarung. (FOTO: Panitia)

LANGIT pagi itu cerah di Kediri, Jatim. Namun yang lebih memancar adalah wajah-wajah cerah dan riuh memenuhi halaman ikonik Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri.
 
Puluhan ribu warga berkumpul di sana.

Bukan untuk pesta biasa. Mereka datang merayakan Peringatan Hari Santri Nasional 2026, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 22 Oktober. 
 
Semua mengenakan sarung. Berwarna-warni, beragam coraknya. Namun satu tujuannya: melangkah bersama dalam Jalan Sehat Sarungan.
 
Warga Nahdliyin, santri, masyarakat umum — semua berbaur tanpa sekat. Suasana terasa hangat. Penuh sukacita. Penuh kebersamaan.
 
Perwakilan panitia, Yohan Mandala, menyampaikan rasa syukur yang tak terhingga. Perayaan kali ini jauh lebih panjang, jauh lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
 
"Dulu kita melaksanakan Hari Santri hanya empat hari. Kini sudah sepuluh hari. Alhamdulillah, semua kegiatan ramai. Tak ada yang sepi," ucapnya.
 
Ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang mewujudkan acara ini.
 
Baznas, PT Gudang Garam Tbk, BMR Production, Sirup Kurnia, Sarung Gajah Duduk — semua berperan. Hadiah utama berupa tiket umrah gratis kembali dipersembahkan, untuk kedua kalinya. Semoga tahun depan kuotanya bertambah.


 
Sebelum melangkah, pesan menyentuh hati disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Kediri, KH Abdul Nasir Badrus Sholeh. Tokoh yang akrab disapa Gus Nasir ini berbicara lantang dan tegas. "Santri harus berprestasi. Otaknya encer. Bukan jiwa yang jumud atau tertinggal," ujarnya.
 
"Siapkan diri memimpin Kediri. Siapkan diri memimpin Jawa Timur. Siapkan diri memimpin negara. Santri harus bisa!" serunya.
 
Lautan manusia menjawab serentak: "SIAP!" Suara itu bergema membelah udara. Menggetarkan tanah yang dipijak.
 
Namun Pengasuh Pesantren Al Hikmah Purwoasri ini  tidak   hanya berbicara yang  serius-serius saja. Gus Nasir  juga menyisipkan candaan khas pesantren yang membuat semua tertawa.
 
"Ingat, berjalanlah hati-hati. Jangan sampai salah menggandeng pasangan orang lain," kelakarnya. Tawa riuh meledak. Suasana yang khidmat seketika terasa akrab dan hangat.
 
Beliau tak berhenti di situ. Secara spontan, Gus Nasir merogoh kantong pribadinya. Uang 10 juta rupiah disumbangkan saat itu juga.
 
Sebagai hadiah tambahan berupa sepeda listrik — bagi peserta yang paling membutuhkan. Satu tindakan kecil, namun bermakna besar.
 
Bukan hadiah yang dibeli dari dana pihak lain. Melainkan dari keringat sendiri. "Alhamdulillah tambah barokah," tambah H. Abu Muslich panitia penyelenggara lainnya.
 
Di barisan peserta, ada wajah-wajah sederhana yang ikut berbahagia. Mahmudi datang dari daerah Pare  bersama seluruh keluarganya. "Kami bangga bisa ikut. Selain olahraga, sekalian menghibur keluarga. Terutama anak-anak," ucapnya dengan mata berbinar.
 
Munawarman, guru dari Ngadiluwih, datang bersama murid-muridnya. Ia melihat makna yang lebih dalam dari selembar sarung yang dipakai serentak. "Ini bukan sekadar kain. Ini identitas kita. Di tengah arus modernisasi yang kadang melupakan asal, sarung mengingatkan siapa kita," katanya.
 
"Pesan Kiai Nasir juga sangat memotivasi. Generasi muda harus berani mengambil peran strategis di masyarakat," tambahnya.
 
Rohimah, warga biasa juga dari Plosoklaten, datang sejak pagi buta. "Senang sekali Mas. Meriah luar biasa. Rombongan dari desa saya banyak yang sewa pikap hanya untuk ke sini," ceritanya sambil tersenyum.
 
"Harapannya sederhana: berkah silaturahmi bersama para kiai. Kalau pulang membawa hadiah umrah atau sepeda listrik dari Mbah Yai Nasir, itu rezeki tambahan," tambahnya tertawa renyah.
 
Sebelum melangkah, doa kebangsaan dipimpin langsung oleh Oleh Gus Nasir. Beliau memohon agar Indonesia senantiasa menjadi negeri yang baik, diridhai Tuhan.
 
Agar dipimpin oleh orang-orang jujur, yang rela berkorban, yang bekerja tulus demi rakyat.
 
Hitung mundur pun bergema. Langkah tegap puluhan ribu kaki mulai bergerak. Sarung-sarung berkibar tertiup angin. Menjadi hamparan warna-warni yang indah.
 
Peristiwa ini bukan sekadar pesta jalan sehat.
 
Ada makna yang jauh lebih dalam.Pertama, ini adalah bukti bahwa tradisi dan kemajuan bisa berjalan beriringan. Santri tidak harus tertinggal zaman. Justru dari pondok-pondok inilah lahir pemikir, pemimpin, dan pelopor masa depan.
 
Kedua, kebersamaan menjadi kunci. Puluhan ribu orang berbaur tanpa memandang status. Semua sama, semua sederhana, semua bersaudara. Itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya.
 
Ketiga, kemurahan hati Mbah Yai Nasir mengingatkan: pemimpin bukan hanya berbicara. Beliau memberi contoh. Memberi dari apa yang dimiliki, tanpa menunggu disuruh.
 
Keempat, harapan rakyat terlihat sederhana. Mereka tidak meminta kemewahan. Cukup berkumpul, bersilaturahmi, dan berdoa bersama. Itu sudah cukup membuat hati merasa kaya.
 
Kelima, selembar sarung menjadi simbol identitas. Di zaman yang serba cepat dan kadang melupakan jati diri, pakaian sederhana ini mengingatkan: kita tetap kita.
 
Langkah yang diambil pagi itu adalah langkah perjalanan panjang.
 
Membawa harapan. Membawa tekad. Membawa doa.
 
Agar santri tidak hanya menjadi penerus tradisi. Tetapi juga penentu arah bangsa.
 
Karena ketika puluhan ribuan orang melangkah bersatu, arah itu tak akan pernah tersesat.
 
Semoga langkah ini terus berlanjut. Hingga ke seluruh pelosok negeri. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User