Membahas Detai dari Popok Lansia Hingga Telepon Jam 4 Pagi
Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Yang ada adalah cerita-cerita kecil tentang popok, tentang kasur berdebu di lantai 20 sebuah hotel di Makkah
Kepemimpinan Gus Yaqut di Mata Anak Buah (1)
SUASANA ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat Rabu malam 4 November 2026, tidak seperti sidang kasus korupsi pada umumnya. Tidak ada teriakan, tidak ada drama. Yang ada adalah cerita-cerita kecil tentang popok, tentang kasur berdebu di lantai 20 sebuah hotel di Makkah. Juga tentang satu telepon yang berdering pukul 04.00 WIB dari luar negeri.
Cerita itu datang dari dua orang yang pernah berada di lingkaran terdekat penyelenggaraan haji 2024: Dendi Wijaya Saputra, koordinator petugas lansia, dan Suparman, mantan Dirjen Bimas Katolik.
Keduanya dihadirkan sebagai saksi untuk perkara dugaan korupsi kuota haji tambahan 2023-2024 dengan terdakwa Yaqut Cholil Qoumas (Yaqut Cholil Qoumas). Tapi kesaksian mereka justru membuka jendela lain: bagaimana seorang Menteri Agama mengelola manusia, bukan hanya mengelola kuota.
Dendi masih ingat betul hari pertama bimtek. Ia datang dengan skeptis. Sebagai petugas lapangan, ia sering melihat program "ramah lansia" hanya menjadi jargon di spanduk. Media memberitakan Gus Yaqut dengan berbagai sudut, dan ia pun punya penilaian sendiri yang kritis.
Namun sikap skeptis itu runtuh pada hari kedua bimtek.
"Selama tujuh hari berturut-turut, kami ditempa sejak selesai sahur," kata Dendi di depan hakim. Materinya bukan Fiqih haji yang sudah ia hafal, melainkan hal yang tidak pernah ia bayangkan akan diajarkan oleh negara: bagaimana mengganti popok jemaah yang terbaring, bagaimana memandikan, menyuapi, menyikat gigi, dan mengangkat tubuh renta dari tempat tidur ke kursi roda.
"Saya diberikan SOP bagaimana menangani lansia. Kategori lansia, yang mempunyai risiko tinggi dan lain sebagainya. Melalui petunjuk-petunjuk itu, saya bisa tahu bagaimana mengganti popok, memandikan jemaah, menyuapi, menyikat giginya," ujarnya pelan.
Negara, untuk pertama kalinya, mengajarkan empati dengan cara yang sangat teknis.
Pelajaran itu tidak berhenti di ruang kelas ber-AC di Jakarta. Ia terbawa hingga ke kawasan Misfalah, Makkah. Sebagai koordinator, Dendi harus memeriksa hotel yang akan ditempati jemaahnya. Di satu hotel, ia menemukan karpet yang baunya menyengat, debu tebal, kasur-kasur yang pernya sudah keluar.
Bagi petugas lain, mungkin itu bisa dimaklumi. Makkah sedang padat-padatnya. Tapi bagi Dendi, ia ingat wajah instruktur bimtek yang berkata: lansia bukan beban, mereka adalah tamu Allah yang paling lemah.
BERANI MEMPROTES PIHAK HOTEL DI MAKKAH
Ia menolak. Ia berselisih dengan pengelola hotel asal.
Keputusannya berbuah. Manajemen hotel akhirnya mengganti semua kasur dari lantai 1 hingga lantai 20 dan mengganti seluruh karpet di setiap lantai.
"Bagi saya, itu bukti arahan bimtek benar-benar dijalankan hingga ke lapangan," katanya.
Dendi juga belajar menghitung dengan cara yang berbeda. Jika data embarkasi menyebut 20 pengguna kursi roda, ia menyiapkan 50. Mengapa? Karena perjalanan 12 jam dari Indonesia ke Arab Saudi bisa mengubah seorang jemaah yang sehat menjadi renta. Ia mendata siapa butuh bubur, siapa alergi ikan, siapa butuh susu khusus. Ia bahkan membuat senam haji kecil di lorong hotel agar jemaah tidak stres karena ruang sempit.
Hingga akhirnya, di hari kepulangan dari Makkah ke Madinah, sesuatu terjadi yang tidak ia duga. Jemaah-jemaah lansia yang selama ini ia mandikan, ia suapi, menangis sambil memeluknya.
PELAYANAN HAJI TERBAIK
"Menurut saya, 2024 itu pelayanan haji terbaik sepanjang sejarah. Hampir semua jemaah di sektor saya berterima kasih. Ketika meninggalkan Tanah Suci, hampir semuanya menangis," kata Dendi dengan suara bergetar.
Kisah tentang ketelitian itu bersambung pada kesaksian Suparman.
Jika Dendi bercerita tentang lansia, Suparman bercerita tentang integritas.
Sebagai Dirjen Bimas Katolik sejak Desember 2023, Suparman mengikuti rapat pimpinan setiap dua minggu sekali. Dan di setiap rapat itu, kata Suparman, ada kalimat yang hampir selalu diulang Gus Yaqut: "Penuhi aturan, perhatikan aturan, dan jaga integritas."
"Bukan hanya di rapim, tapi di berbagai kesempatan. Kami selalu diminta menjauhi fraud, tidak menerima pemberian terlarang, tidak korupsi," kata Suparman. Fraud adalah tindakan kecurangan, penipuan, atau penyalahgunaan kepercayaan yang dilakukan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok secara tidak sah, yang pada akhirnya merugikan pihak lain (seperti individu, nasabah, atau perusahaan).
Suparman melapor. Jawaban Gus Yaqut singkat dan menjadi pegangannya hingga kini: "Keselamatan jiwa yang paling utama daripada kasus ini menjadi kasus nasional atau bahkan kasus internasional."
Dengan kalimat itu, Suparman berkoordinasi dengan Keuskupan, membatalkan keberangkatan kelompok rentan, dan memastikan perjalanan iman itu tetap berlangsung tanpa satu pun korban jiwa.
Kisah kedua terjadi di Pamulang. Saat Bulan Rosario, umat Katolik dipersekusi. Saat itu Gus Yaqut sedang berada di luar negeri. Pukul 04.00 WIB, telepon Suparman berdering. Dari seberang, suara Gus Yaqut: "Selesaikan dengan sebaik-baiknya. Jika ada persoalan, saya akan backup Pak Dirjen."
Suparman menemui Kapolres Tangerang Selatan. Dua hari, selesai.
Dua cerita ini, tentang popok dan tentang telepon jam 4 pagi, mungkin tidak ada dalam dakwaan jaksa tentang kuota. Tapi keduanya menjelaskan satu hal: gaya kepemimpinan seperti apa yang coba dibangun Gus Yaqut.
Dan Suparman menutupnya dengan penjelasan yang paling teknis tapi paling penting untuk perkara ini: bagaimana sebuah KMA dibuat. Tidak ditandatangani sendirian di ruang menteri. Draf dibuat Ditjen, dibahas stakeholder, ditelaah Setjen dan Biro Hukum, dan harus diparaf tiga orang: Dirjen pemrakarsa, Sekjen, dan Kabiro Hukum. "Kalau tiga orang itu sudah memaraf, artinya tanggung jawab atas isi draf KMA itu menjadi tanggung jawab tiga orang tersebut. Menteri tinggal menandatangani," ujarnya.
Sidang malam itu ditutup. Di luar, hujan turun. Di dalam, hakim mencatat. Tentang popok, kasur lantai 20, dan telepon jam 4 pagi. (Bersambung)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)