Mengenang Penyanyi Top Hari Moekti di Radio Suara Mahameru 92.3 FM
Siang itu, dari alamat barunya, Mahameru sengaja memutarnya. Untuk mengingatkan kita, bahwa pernah ada seorang anak kolong yang pernah menguasai panggung, layar kaca, lalu memilih meninggalkan semuanya.
SENIN 2 NOVEMBER 2026, pukul 11.14 siang. Dari sebuah studio baru di Perumahan Pelita Indah Blok M nomor 1, Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, frekuensi 92.3 FM mengudara. Itulah kantor baru PT Radio Suara Mahameru yang baru saja pindah dari markas legendarisnya yang puluhan tahun di Jalan Banjaran II nomor 29, Kota Kediri.
Siang itu, bukan dangdut koplo yang disajikan dari Pelita Indah. Bukan campursari. Yang tersaji adalah raungan gitar distorsi tahun 1980-an, disusul suara melengking yang dulu pernah jadi yang termahal di Indonesia.
"Ada kamu... yang membuat diriku... "
Di warung kopi tak jauh dari studio baru itu, seorang bapak berumur 55 tahun yang sedang ngopi spontan berhenti mengaduk. "Lho, iki suarane Hari Moekti," gumamnya. Ya, itu memang suara Hari Moekti.
Siang itu, dari alamat barunya, Mahameru sengaja memutarnya. Untuk mengingatkan kita, bahwa pernah ada seorang anak kolong yang pernah menguasai panggung, layar kaca, lalu memilih meninggalkan semuanya.
Radio New Mahameru yang kini dikenal sebagai Maha Radio Dangdut, pada era 1990-an adalah kiblat musik Pop dan Rock nasional. Dari Jalan Banjaran II No. 29 dulu, mereka sering mendatangkan langsung band rock nasional ke studio di Kediri. Dan Hari Moekti adalah salah satu yang paling sering diputar di era itu.
Kini dari Pelita Indah, mereka bernostalgia, dan kita semua diajak kembali. Siapa sebenarnya pemilik suara yang dijuluki "Si Kutu Loncat" itu?
ANAK KOLONG YANG MENJADI ROCKER TERMAHAL
Nama aslinya Hariadi Wibowo. Lahir di Cimahi, Jawa Barat, 25 Maret 1957, dari keluarga tentara. Masa kecilnya dihabiskan di Cimahi, Bandung, hingga akhirnya ikut orang tua yang bertugas ke Semarang.
Siapa yang menyangka, pria dengan suara setinggi langit itu pernah menjadi seorang room boy? Di Semarang, demi menyambung hidup, ia bekerja sebagai room boy di Hotel Patra Jasa selama setahun. Tugasnya merapikan tempat tidur tamu, membersihkan kamar mandi.
Tapi dari balik seragam room boy itulah, ia dan beberapa temannya mendirikan band pertama mereka. Namanya Dharodox. Dalam bahasa Jawa artinya nderedeg — gemetar. Mungkin karena mereka gemetar kedinginan di kamar hotel, atau gemetar menahan lapar, atau gemetar karena mimpi yang terlalu besar.
Tahun 1980, ayahnya meninggal. Ia pulang ke Bandung dengan gitar butut. Bergabung dengan Orbit Band, lalu Primas Band bersama Tommy Kasmiri, lalu New Bloodly Band. Sampai akhirnya hijrah ke Jakarta, masuk Makara, band kampus Universitas Indonesia yang hits dengan lagu Laron-Laron.
Namanya berkibar ketika ia masuk Krakatau pada tahun 1985. Band jazz-rock fusion yang dihuni musisi dewa. Dari sinilah julukan Si Kutu Loncat lahir. Karena ia tidak betah di satu tempat. Ia loncat dari satu band ke band lain, mencari jati dirinya. Ia kemudian membentuk Band Adegan dan bersolo karir.
Di jalur solo, ledakannya tak terbendung. Album Lintas Melawai (1987), Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka, Hanya Satu Kata meledak di pasaran. Lagu Ada Kamu ciptaan Jessy Robot bahkan menjadi jingle mie instan dan terjual ratusan ribu copy. Lintas Melawai menjadi anthem anak muda Jakarta. Honornya saat itu mencapai Rp 50 juta sekali manggung, Rp 75 juta sekali iklan — angka gila di era 1990-an, menjadikannya rocker termahal di Indonesia.
Selama karir musiknya 1980-2018, ia menelurkan 7 album rekaman, dari genre New Wave, Glam Metal, Hard Rock hingga Soft Rock, di bawah label RIS Music dan Musica Studio's. Album terakhirnya berjudul Di Sini.
LAYAR LEBAR DAN LAYAR KACA
Kepopuleran sebagai rocker membuka pintu ke dunia akting. Pada tahun 1991, ia membintangi film drama komedi legendaris Demi Cinta Belahlah Dadaku garapan sutradara Nasri Cheppy. Film yang dibintangi Imuda dan Nurul Arifin itu bercerita tentang pertemuan di pesawat Jakarta-Kuala Lumpur. Hari Moekti tampil sebagai pemeran pendukung penting.
Karirnya berlanjut ke televisi. Pada tahun 1996, ia bermain dalam sinetron komedi situasi yang sangat populer di RCTI, 3 M: Maunya Macam-Macam. Di sinetron itu, karakternya yang nyentrik sangat pas dengan image rockernya.
Di luar itu, ia adalah manusia petualang. Antara tahun 1990-1996 ia membuat klub panjat tebing di Sukabumi, menjadi anggota SAR, penggemar arung jeram, hingga mengikuti kursus terjun payung di Australia.
KEGELISAHAN DAN HIJRAH — DARI PANGGUNG ROCK KE MIMBAR DAKWAH
Di puncak popularitasnya, Hari Moekti justru gelisah. Ia pernah mengaku dalam ceramahnya, "Padahal saya itu santunan, anak yatim, sunatan massal. Pokoknya, orang perlu uang, saya kasih." Tapi batinnya tetap tidak tenang. Bahkan ia sempat berpikir untuk bunuh diri karena stres.
Hidayah datang pada bulan Ramadhan 1995. Ia diundang dalam acara dialog interaktif Buka Puasa Bersama Artis di SMAK Analisis Kimia Bogor. Di sana ia bertemu seorang dai muda yang cara berpikirnya logis dan cerdas.
Sejak pertemuan itu, ia mulai mengaji lebih dalam. Akhir tahun 1995, keputusan paling gila dalam karirnya ia ambil. Saat album terakhirnya Di Sini sedang diproduksi, ia menolak promosi, menolak show. Ia memilih hijrah. Akibatnya album itu tidak laku. Ia bangkrut. Ia rela kehilangan semua kemewahan.
Transformasinya drastis. Dari celana jeans sobek-sobek, ia berubah menjadi sosok pendakwah yang klimis, sopan. Dari panggung musik, ia berpindah dari masjid ke masjid, tanpa mematok honor.
Perjalanan itu berakhir pada hari Minggu, 24 Juni 2018, pukul 20.49 WIB. Mantan rocker termahal itu menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dustira, Cimahi, Jawa Barat, akibat serangan jantung di usia 61 tahun. Sehari sebelumnya, ia masih memposting jadwal dakwahnya untuk Senin, 25 Juni 2018, di Masjid ABRI Cimahi dengan tema Hijrah Story. Ia dimakamkan keesokan harinya di Caringin, Bogor.
LAGU TERAKHIR DI ALAMAT BARU
Kembali ke siang itu, 2 November 2026. Dari Perumahan Pelita Indah Blok M No. 1, Banjarmlati, Mojoroto, lagu Ada Kamu sudah selesai. Operator kembali memutar dangdut.
Tapi dari alamat baru itu, dari studio baru itu, kita tahu satu hal: frekuensinya boleh pindah alamat, tapi memorinya tidak. Suara seorang room boy yang pernah bergetar di Semarang, yang pernah menjadi rocker termahal yang menguasai Lintas Melawai, yang pernah menjadi aktor layar lebar, dan akhirnya memilih menjadi pendakwah yang wafat di jalan dakwah, masih hidup.
Itulah Hari Moekti. Si Kutu Loncat yang loncatannya paling jauh bukanlah dari satu band ke band lain, tapi dari gemerlap panggung rock menuju tenangnya mimbar dakwah. Dan dari Pelita Indah Blok M No. 1 siang itu, kita tahu, ia belum benar-benar pergi. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)