Berburu Unitoga
Saya menemukan Unitoga Le Run Lady itu di sebuah bengkel sepeda dekat rumah. Sudah sekitar dua minggu sepeda tersebut teronggok di antara tumpukan sepeda bekas yang tak kunjung laku.
SETELAH menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan membeli satu unit sepeda tua: Polygon Unitoga.
Unitoga memang bukan sepeda baru. Menurut catatan sejarah yang saya temukan, sepeda ini hanya diproduksi Polygon selama lima tahun, antara 2003–2008. Setelah itu, produksinya dihentikan.
Sepeda yang saya beli kemarin sore adalah Unitoga Le Run versi lady. Di Grobogan, sepeda dengan model rangka seperti ini dikenal dengan sebutan sepeda jengki.
Pada masanya, Unitoga Le Run termasuk produk Polygon yang sukses di pasaran. Generasi berikutnya kemudian hadir dengan model seperti Sierra, Lovina, hingga Oosten.
Kabarnya, varian Le Run diproduksi untuk mengisi pasar Malaysia. Versi Malaysia ini bisa dikenali melalui ''lehernya''' yang tinggi. Entah bagaimana ceritanya, sepeda ini akhirnya beredar juga di Indonesia.
Saya menemukan Unitoga Le Run Lady itu di sebuah bengkel sepeda dekat rumah. Sudah sekitar dua minggu sepeda tersebut teronggok di antara tumpukan sepeda bekas yang tak kunjung laku.
Warna oranye dan silver-nya cukup mencolok. Bahkan di tengah tumpukan sepeda tua, sosoknya masih mudah dikenali.
"Dijual berapa?" tanya saya.
"Rp250 ribu saja. Kondisi apa adanya," jawab pemilik bengkel.
"Saya beli," kata saya. Tanpa memeriksa kondisi sepeda lebih dahulu.
Saya memang sudah menyiapkan mental. Sesial-sialnya, saya hanya mendapatkan rangkanya. Kalau ternyata masih ada komponen yang bisa digunakan, anggap saja bonus.
Ternyata, bonusnya lumayan banyak.
Pelek, as roda, dan jari-jarinya masih dalam kondisi bagus. Sepertinya belum lama diganti oleh pemilik sebelumnya. Saya hanya perlu mengganti ban dalam dan ban luar.
Crankset dan sprocket belakang juga masih bisa digunakan. Sebaliknya, shifter, rear derailleur (RD), front derailleur (FD), dan rantainya sudah rusak. Sistem pengeremannya pun harus diganti seluruhnya, termasuk tuas dan kabel-kabelnya.
Artinya, pekerjaan restorasi ini masih cukup panjang.
Sambil berjalan pulang membawa sepeda tua itu, pikiran saya mulai sibuk: Unitoga ini mau saya bangun menjadi sepeda model apa?
Setelah berdiskusi dengan ChatGPT, saya mulai menemukan arah. Saya ingin mempertahankan karakter Unitoga Le Run sebagai sepeda santai. Bukan membangunnya kembali menjadi MTB, melainkan mengubahnya menjadi sepeda urban yang lebih ramping, modern, dan nyaman digunakan.
Penampakan visualnya bisa dilihat di foto yang terlampir. Foto itu diedit oleh Meta AI dari foto asli.
Rencananya, sistem persneling akan saya sederhanakan menjadi satu gir depan dan satu gir belakang. Beberapa aksesori juga akan diTAMBAHKAN untuk mempercantik penampilannya.
Warna catnya masih bagus. Tapi kalau dilakukan pengecatan ulang, sepertinya lebih menarik. Namun saya harus siapkan dulu stiker Unitoga dan Le Run terlebih dulu.
Unitoga Le Run Lady ini menjadi pengalaman pertama saya merestorasi sepeda bekas. Ada tantangan teknis, ada urusan berburu onderdil, dan tentu saja ada tantangan mengendalikan anggaran.
Semoga saja, setelah selesai direnovasi, biaya restorasinya tidak lebih mahal daripada membeli sepeda hybrid baru.
Kalau pun lebih mahal, setidaknya saya punya pengalaman baru yang bisa saya ceritakan kepada Anda, hahaha. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)