Puluhan Tahun Terpisah, Bertemu Kembali dalam Sebuah Pelukan
Wajah telah berkerut, rambut telah memutih, namun mata mereka masih menyimpan kilau yang sama: kilau persahabatan yang tak pernah pudar.
ADA PERTEMUAN yang tidak membutuhkan banyak kata. Cukup sebuah pelukan, lalu air mata berbicara sendiri.
Momen yang mengharukan itu terjadi di tengah perayaan besar HUT ke-100 berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor, dua sahabat lama akhirnya berjumpa kembali. Mereka adalah Mr. Kalend Osen dan KH. Abdul Djalil Tahir.
Perlu dicatat, Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada 20 September 1926.
Keduanya pernah duduk berdampingan sebagai santri pada era 1970-an. Hari itu, puluhan tahun kemudian, mereka berdiri kembali di tanah yang sama. Wajah telah berkerut, rambut telah memutih, namun mata mereka masih menyimpan kilau yang sama: kilau persahabatan yang tak pernah pudar.
Kehidupan Membawa Mereka ke Arah yang Berbeda.
Kalend Osen kemudian dikenal sebagai perintis Basic English Course (BEC), yang menjadi salah satu akar tumbuhnya Kampung Inggris di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri, Jawa Timur. Ribuan orang telah belajar bahasa Inggris dari sana. Hingga fasih bercakap dengan bahasa Inggris. Perjuangannya mengubah wajah pendidikan di negeri ini.
Sementara KH. Abdul Djalil Tahir menapaki jalan ke Sulawesi Selatan. Di sana, ia mendirikan dan membesarkan Pondok Pesantren Darul Aman Gombara, Makassar. Di bawah asuhannya, ribuan santri tumbuh dan berkah.
Jarak Pare - Makassar 950 km (rute kombinasi tol dan penyeberangan) hingga sekitar 1.366 km tergantung rute tempuh,
memisahkan mereka. Puluhan tahun berlalu tanpa pertemuan. Namun ada satu hal yang tak pernah benar-benar berubah: ikatan yang terjalin di halaman Gontor itu.
Dikisahkan, ketika Kalend menghadapi keterbatasan biaya hingga hampir harus meninggalkan sekolah, Kiai Djalil hadir. Ia memberi tempat, memberi semangat, dan membukakan jalan agar sahabatnya dapat mengajarkan bahasa Inggris di Tulungrejo, Pare, Kediri.
Dari bantuan sederhana itu, lahirlah sebuah perjalanan besar. Apa yang dimulai dari persahabatan dan ketulusan kini memberi manfaat kepada ribuan, bahkan jutaan orang di seluruh negeri.
Itulah keindahan persahabatan sejati. Apa yang kita tanam, tak selalu langsung kita petik. Kadang butuh waktu puluhan tahun untuk melihat buahnya.
Di Gontor, mereka belajar ilmu. Di kehidupan nyata, mereka mengamalkannya. Di tempat yang berjauhan, mereka sama-sama mengabdi. Bukan untuk dipuji, melainkan untuk menunaikan amanah yang dititipkan pendidikannya.
Kini, di usia yang tak lagi muda, mereka kembali berpelukan. Bukan sebagai dua orang yang sekadar kenal. Melainkan sebagai dua pejuang yang telah menyelesaikan separuh perjalanan hidup masing-masing, dan pulang ke tempat di mana semuanya bermula.
"Kita pernah berjuang bersama. Dan ternyata, waktu tidak pernah benar-benar memisahkan kita."
Gontor mengajarkan banyak hal. Tentang kedisiplinan, tentang kesederhanaan, tentang pengabdian. Namun pertemuan dua sahabat ini mengajarkan hal lain: bahwa persahabatan yang dibangun di atas ilmu, perjuangan, dan ketulusan, mampu bertahan jauh melampaui perubahan zaman.
Peringatan 100 tahun Gontor bukan sekadar merayakan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa setiap santri yang pulang ke kampung halamannya, membawa serta bagian dari jiwa Gontor. Menebarkan kebaikan di mana pun mereka berada.
Kalend di Kediri, Kiai Djalil di Makassar. Terpisah jauh, namun hatinya tetap satu. Itulah kekuatan ikatan persantrian. Ia tidak diikat oleh tembok, melainkan oleh niat yang sama: berbakti bagi agama dan bangsa.
Mereka bertemu kembali bukan karena kebetulan. Melainkan karena jiwa yang sejalan akan selalu dipertemukan, tak peduli berapa lama waktu berlalu.
Sebuah pelajaran berharga bagi kita semua: berbuat baiklah kepada teman, kepada sesama pejuang. Tangan yang kita ulurkan hari ini, mungkin akan menjadi penolong bagi banyak orang di masa depan. Dan pelukan yang kita berikan, akan tetap terasa hangat meski rambut telah memutih.
Selamat bertemu kembali, wahai para pejuang. Terima kasih telah mengingatkan kita: bahwa persahabatan tulus tak pernah putus, meski jarak memisahkan.
Dan di sanalah, di bawah langit Ponorogo, dua sahabat kembali berdiri tegak. Bersama, seperti dulu. Wallahul A'lam Bisshawab.(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)