Pusara Bung Karno, Hasto Menunduk Satu Menit: Doa untuk Republik yang Lelah
Tiga hari lagi, bangsa ini akan memperingati Hari Pahlawan (10 November). Tapi Hasto datang lebih awal. Ia ingin bicara dengan Bapaknya. Dengan Bung Karno.
SORE ITU, aroma melati dan sedapmalam lebih menyengat dari biasanya di Makam Bung Karno, Blitar. Sabtu 7 November, pukul 15.30 WIB. Langit mendung. Seorang lelaki berkemeja putih duduk bersila, bukan di kursi VIP, tapi di lantai marmer dingin, tepat di samping pusara bertabur bunga.
Dia adalah Hasto Kristiyanto. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan. Tidak ada protokoler berlebihan. Tidak ada karpet merah. Hanya dia, beberapa kader, dan seorang juru kunci tua bernama Ahmad.
Tiga hari lagi, bangsa ini akan memperingati Hari Pahlawan (10 November). Tapi Hasto datang lebih awal. Ia ingin bicara dengan Bapaknya. Dengan Bung Karno.
Sebelum doa dimulai, Hasto hanya menunduk. Lama. Matanya memandangi nisan sang Proklamator yang basah oleh taburan mawar. Di luar, suara klakson becak dan penjual bunga terdengar sayup. Di dalam cungkup, hening.
"Jadi pada hari ini kami secara khusus nyekar ke makam Bung Karno," suaranya pelan saat ditemui usai doa. "Untuk menggelorakan kembali bahwa Republik ini dibangun untuk rakyat Marhaen, rakyat yang tertindas, yang diperlakukan tidak adil."
Kalimat itu meluncur bukan seperti pidato partai. Tapi seperti keluhan.
Hasto lalu menuturkan apa yang dilihatnya. Republik yang didirikan dengan darah, kini diuji oleh sesuatu yang ia sebut "anasir-anasir jahat". Bukan penjajah dengan senapan, tapi ketamakan kekuasaan yang menggerogoti etika.
"Kami memohon agar Indonesia dibebaskan dari ketamakan kekuasaan, dari pengelolaan kekuasaan yang tidak lagi didasarkan pada etika, moral, dan kebenaran," tegasnya, matanya masih menatap pusara.
Di pusara itu, kritik Hasto menemukan konteksnya. Blitar bukan sekadar tempat wisata sejarah. Bagi kader PDIP, ini adalah kiblat ideologis. Di sinilah Soekarno, yang diasingkan, yang dibungkam di akhir hidupnya, dimakamkan dengan sederhana.
Dan di sinilah, Hasto kembali menemukan pesan paling dasar yang diajarkan Megawati Soekarnoputri kepadanya dan seluruh kader: kekuasaan adalah untuk rakyat.
"Seluruh pejabat negara harus mengambil inspirasi dari semangat pengorbanan. Makna kekuasaan adalah untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan kelompok atau golongan," ujarnya, mengulang pesan yang sama tiga kali sepanjang wawancara. Seperti ingin memastikan wartawan mencatatnya dengan benar.
Juru kunci Ahmad, yang sudah 20 tahun menjaga makam, hafal betul gestur peziarah. Ada yang datang untuk foto. Ada yang datang untuk politik. Tapi siang itu, ia melihat sesuatu yang berbeda.
"Pak Hasto tadi milih bungane siji-siji, Pak. Ditoto. Ndak langsung sebar. Terus tangane nyekel nisan suwe," kata Ahmad. (Pak Hasto tadi memilih bunganya satu satu. Tidak langsung disebar. Kemudian tangannya lama memegang nisan).
Memang. Usai doa bersama, Hasto memimpin tabur bunga. Ia tidak menebar asal. Ia mengambil segenggam melati, memilih, menata, lalu meletakkan pelan di atas pusara. Sebuah ritual kecil yang menunjukkan penghormatan personal.
Ia kemudian bergeser ke dua pusara kecil di sebelahnya: makam Ida Ayu Nyoman Rai dan Raden Soekeni Sosrodihardjo, ibunda dan ayahanda Bung Karno. Ia melakukan hal yang sama: doa dan tabur bunga.
Namun yang paling menyita perhatian adalah detik-detik terakhir. Sebelum meninggalkan kompleks, Hasto kembali. Sendirian. Ia mendekati pusara Bung Karno lagi. Lalu, selama hampir satu menit penuh, ia tertunduk. Kedua tangannya menyentuh marmer hitam yang dingin. Tidak ada yang bersuara. Kader yang mendampinginya ikut menunduk.
Satu menit itu terasa lama. Di tengah hiruk pikuk politik nasional yang sering gaduh tentang siapa dapat apa, satu menit keheningan di Blitar itu terasa seperti jeda.
Hasto tidak menjelaskan apa yang ia doakan dalam satu menit itu. Tapi wartawan yang hadir bisa menebak dari pernyataannya sebelumnya.
"Indonesia merdeka karena pengorbanan begitu banyak pahlawan. Pengorbanan ini tidak boleh disia-siakan," katanya.
Di luar kompleks makam, penjual bunga masih menawarkan dagangannya. "Mawar, melati, Bu?" Seorang ibu peziarah asal Tulungagung mengangguk. Ia baru saja selesai berdoa juga.
Bagi Hasto, ziarah itu bukan seremoni tahunan. Itu adalah pengingat. Bahwa di atas segala jabatan, ada cita-cita yang lebih besar: masyarakat yang adil dan makmur. Dan bahwa kritik dan otokritik, seperti pesan Megawati, adalah cara untuk tetap berada di rel yang benar.
Sore semakin gelap. Hasto bangkit, mengusap tangannya, dan berjalan keluar. Aroma sedap malam masih tertinggal di bajunya.
Ia meninggalkan Blitar. Tapi pesannya tertinggal di pusara: jangan sampai republik ini lelah, karena kekuasaan lupa untuk siapa ia ada.(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)