Keteguhan Teknisi Jam

Sudah lebih dari 25 tahun Pak Ujang membuka jasa servis di situ. Kiosnya kecil. Sederhana. Ukurannya hanya 1 meter x 1 meter. Lokasinya persis di samping warung Uni Lontong, penjual lontong sayur khas Padang yang menjadi andalan saya.

Oct 25, 2026 - 15:44
Updated: 2 hours ago
0
Keteguhan Teknisi Jam
Pak Ujang buka jasa servis jam analog di pojok Pasar Sumur Batu, Jakarta. (FOTO: Joko Intarto)

PERNAHKAH Anda membayangkan, bagaimana teknisi jam tangan konvensional mencari rezeki di era digital? Pertanyaan ini juga sering mengganggu pikiran saya. Siapa konsumennya? Bagaimana para konsumen itu menemukan mereka?

Pertanyaan itu akhirnya sedikit terjawab setelah saya ngobrol dengan Pak Ujang, pagi tadi. Pria berusia 55 tahun itu membuka jasa servis jam tangan analog di pojok Pasar Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Sudah lebih dari 25 tahun Pak Ujang membuka jasa servis di situ. Kiosnya kecil. Sederhana. Ukurannya hanya 1 meter x 1 meter. Lokasinya persis di samping warung Uni Lontong, penjual lontong sayur khas Padang yang menjadi andalan saya.

Keterampilan mereparasi jam tangan analog diperolehnya saat bekerja di sebuah toko jam tangan. Ia belajar dengan merakit jam-jam analog yang dikirim pabrik dalam kondisi terurai. Jam-jam itu memang disiapkan sebagai sarana belajar bagi para teknisi toko.

"Zaman dulu, pabrik jam tangan mengirimkan jam yang semua onderdilnya terurai. Pemilik toko harus merakit sendiri satu per satu, sesuai manual book masing-masing," kenang Pak Ujang.

Joko Intarto (kiri), penulis.

Dari situlah Pak Ujang menguasai teknik bongkar-pasang sekaligus reparasi jam tangan analog.

"Setiap merek jam tangan memiliki mesin yang berbeda, tetapi prinsip kerjanya sama. Kalau sudah menguasai mesin satu merek jam, tidak sulit mempelajari mesin merek lainnya," lanjutnya.

Berbekal keterampilan itu, Pak Ujang memberanikan diri membuka kios kecil di pojok Pasar Sumur Batu. "Sejak dekade 90-an sampai sekarang saya belum pernah pindah tempat," katanya.

Selama hampir 30 tahun, Pak Ujang merasakan bisnis jasa reparasinya mengalami pasang surut.

"Dulu, jasa reparasi sangat ramai karena semua jam berjenis analog yang digerakkan oleh mesin. Sekarang jasa reparasi lebih sepi karena banyak yang beralih ke jam digital," paparnya.

Menurut Pak Ujang, jam digital yang rusak umumnya langsung dibuang oleh pemiliknya. Tidak banyak yang membawanya ke tukang servis.

"Pelanggan jasa servis saya adalah pengguna jam tangan full analog dan jam semi analog yang menggunakan batu baterai sebagai sumber dayanya," ujarnya.

Jenis reparasi yang dikerjakan Pak Ujang juga beragam. Paling sederhana mengganti batu baterai. Paling berat mengganti mesin jam tangan secara keseluruhan.

Memangnya masih ada yang menjual mesin jam tangan analog?

"Masih banyak. Di Pasar Senen ada. Di Pasar Baru juga ada. Mesin jam merek apa pun ada di Jakarta," katanya.

Pak Ujang asli Garut. Istri dan anaknya tetap tinggal di sana. Sementara itu, ia kos di Jakarta, tidak jauh dari Pasar Sumur Batu.

Beberapa minggu sekali ia pulang kampung. Setelah melepas rindu dengan keluarga selama beberapa hari, ia kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan usahanya.

Di tengah gempuran teknologi digital, Pak Ujang masih bertahan dengan keterampilan yang dipelajarinya puluhan tahun lalu. Meski jumlah konsumennya tidak sebanyak dulu, masih ada orang yang membutuhkan jasan Pak Ujang.

Apa pelajaran kehidupan yang bisa Anda petik dari perjalanan usaha Pak Ujang? Tulis di kolom komentar. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User