Naturalisasi, Pembinaan, dan Realitas Sepakbola Kita
Tulisan tersebut menyoroti satu pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan di tengah hiruk-pikuk keinginan terbentuknya tim nasional sepakbola Indonesia tangguh.
TULISAN Cowaser Ramadhan Pohan berjudul "Garuda, Naturalisasi, dan Rasa Indonesia" di Harian Disway, halaman 12, Kamis 15 Oktober 2026, ditanggapi seru dan positif oleh sesama Cowasers (para mantan Jawa Pos).
Ini tersaji di Grup WA CoWas JP yang melibatkan penulis Ramadhan Pohan, Max Wangge, Slamet Oerip Prihadi, Auri Jaya, Dr. Mundzar Fahman dll.
Tulisan tersebut menyoroti satu pertanyaan mendasar yang kerap terabaikan di tengah hiruk-pikuk keinginan terbentuknya tim nasional sepakbola Indonesia tangguh.
Bukan hanya soal bagaimana pemain bermain, tetapi apa yang mereka rasakan saat "mengibarkan" bendera Merah-Putih.
Dari titik tolak itulah, Ramadhan Pohan, Max Wangge, Slamet Oerip Prihadi, Auri Jaya, dan Dr.yg Mundzar Fahman kemudian berbagi pandangan yang saling melengkapi — cerdas, santai, namun tajam — mengenai naturalisasi dan sistem pembinaan sepakbola nasional.
URAIAN DAN PENJELASAN
A. Memulai dari "Rasa" — Inti Tulisan Ramadhan Pohan
Ramadhan Pohan membuka dengan menegaskan mengapa pertanyaan tentang rasa ke-Indonesia-an bukanlah pertanyaan yang berlebihan:
"Sepakbola bukan sekadar soal menang atau kalah. Sepakbola adalah cermin bangsa... Rasa itu tidak bisa dibeli. Rasa itu tidak bisa diatur oleh undang-undang. Rasa itu tumbuh dari hati."
RP, panggilan akrab Ramadhan Pohan, mengingatkan: naturalisasi boleh dilakukan, tetapi jangan melupakan pembinaan dari akar rumput. Pemain keturunan yang hatinya ada di Indonesia adalah aset luar biasa. Tetapi yang membedakan adalah: dia memilih Indonesia karena dia ingin, bukan karena kita membutuhkannya untuk menang di pertandingan.
B. Naturalisasi Boleh, tapi Pembinaan Harus Tetap Berjalan
Suhu Slamet Oerip Prihadi memperluas pandangan itu: beda pendapat wajar. Yang krusial adalah sistem pembinaan dari kelompok umur. Negara lain pun punya pemain keturunan, tetapi mereka tumbuh dan dibina di sana. Indonesia punya potensi besar dari Papua hingga Sabu Raijua. Masalahnya, kita belum mampu melahirkan pemain kelas Asia seperti era Andi Anwar Ramang, Abdul Kadir, Sutjipto Soentoro, Iswadi Indris, dan Syamsul Arifin.
Yang dikritisi bukan naturalisasinya, melainkan kebijakan Liga Super yang membolehkan terlalu banyak pemain asing. Berbeda dengan era Galatama (Liga Sepakbola Utama) yang hanya mengizinkan maksimal dua pemain asing per klub.
C. Naturalisasi Bukan Obat Segala Penyakit — Kasus Tenis Lapangan
Max Wangge memberikan contoh di luar sepakbola agar lebih jelas gambaran besarnya: PELTI (Persatuan Lawn Tenis Indonesia) berencana menaturalisasi petenis putri Rusia untuk SEA Games. Bukan karena Indonesia tidak punya pemain — ada Janice Tjen yang peringkat 47 dunia. Masalahnya, jadwal WTA terlalu padat. Jika Janice bermain di SEA Games, dia bisa didenda dan peringkatnya turun. Jadi naturalisasi dilakukan bukan karena kekurangan bakat, tapi karena kendala aturan internasional. Ini menunjukkan bahwa naturalisasi kadang hanya solusi instan untuk masalah yang sebenarnya butuh pendekatan berbeda.
D. Potong Kompas yang Berisiko
Auri Jaya menyampaikan pandangan seimbang: naturalisasi ibarat "potong kompas" — mempercepat jalan masuk ke sepakbola dunia. Ada kelebihannya. Tapi risikonya besar: kalau tidak dibarengi sistem pembinaan dini yang kuat, kita terjebak budaya instan — mau hasil cepat, tapi malas membangun fondasi jangka panjang.
E. Realitas Pahit: Pemain Lokal Jadi Orang Asing di Rumahnya Sendiri
Ramadhan Pohan menegaskan fakta yang menyakitkan: aturan Liga Super kini mengizinkan 11 pemain asing direkrut per klub, 9 masuk daftar, 7 boleh bermain. Jatah pemain lokal-naturalisasi hanya 4. Akibatnya, pemain lokal kesulitan mendapat tempat di klub sendiri. Kita menyewa pemain, tetapi menepikan anak-anak kita sendiri. Pemain lokalnya malah jadi seperti pemain asing.
F. Perumpamaan yang Mengena
Dr. H. Mundzar Fahman, yang mengaku awam soal sepak bola, dan mantan KL ( Koordinator Liputan ) JP menyampaikan perumpamaan yang paling sederhana namun tajam:
"Ibarat desa ingin juara lomba olahraga antar-desa, lalu menyewa pemain dari luar desa dan memberinya KTP desa itu. Juara memang juara. Tapi kemenangannya terasa hambar, karena bukan karya anak desanya sendiri. Kalau hanya mau piala, beli saja pialanya — tidak perlu pura-pura menang."
ANALISIS KRITIS
A. "Rasa" sebagai Fondasi yang Terlupakan
Tulisan Ramadhan Pohan mengingatkan: kita terlalu sibuk bicara soal teknik, aturan, dan peringkat FIFA — tapi lupa pada hal yang membuat sepakbola nasional berbeda dengan tim mana pun di dunia: rasa ke-Indonesia-an. Tanpa itu, timnas hanyalah sekelompok pemain yang mengenakan seragam yang sama.
B. Naturalisasi Bukan Musuh — Ketergantungan Instan Itu Musuh
Seluruh diskusi sepakat: naturalisasi bukan dilarang. Praktik ini umum di dunia olahraga. Masalahnya adalah pola pikir: ingin hasil cepat, tapi enggan membangun dari bawah. Selama aturan liga justru membatasi ruang bermain pemain lokal, maka naturalisasi hanya akan menjadi obat penunda sakit, bukan penyembuh.
C. Pembinaan Itu Utuh — Bakat + Kesempatan + Karakter
Pembinaan bukan hanya melatih menendang bola. Pembinaan karakter dan mentalitas sama pentingnya. Banyak bibit hebat yang hilang karena tidak siap menghadapi ketenaran dan nikmatnya gaji tinggi. Ini pekerjaan rumah yang jarang masuk kurikulum akademi sepakbola kita.
D. Aturan Liga Harus Selaras dengan Tujuan Nasional
Kalau tujuannya memperkuat timnas, maka liga harus menjadi wadah menempa pemain lokal, bukan menempatkannya di bangku cadangan sendiri. 7 pemain asing di lapangan berarti hanya 4 pemain lokal yang mendapat jam terbang. Bagaimana kita bisa menemukan bibit hebat kalau lapangannya sudah penuh tamu?
Tulisan "Garuda, Naturalisasi, dan Rasa Indonesia" menjadi cermin yang mengingatkan kita: tidak ada jalan pintas untuk kehebatan yang abadi. Naturalisasi boleh menjadi pelengkap, tidak boleh menjadi pengganti. Piala memang bisa dibeli, tetapi kebanggaan sepakbola nasional hanya lahir dari rumput yang disiram sabar — dari lapangan-lapangan kecil di pelosok negeri, dari anak-anak yang mendapat kesempatan bermain, dari sistem yang konsisten membangun dari bawah ke atas.
Selama kita lebih sibuk mencari pemain yang sudah jadi daripada menyiapkan anak-anak yang akan menjadi hebat, kita akan terus berlari di tempat — sekalipun sesekali kita berhasil memenangkan pertandingan yang kita sewa kemenangannya. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
2
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)