Setelah 7 Bulan Tinggal di Cape Town, Afsel, Rasanya seperti di Rumah Sendiri, Koq Bisa? 

Ada kehangatan yang membuat tempat ini terasa begitu dekat. Bahkan, rasanya seperti ada di rumah sendiri. Hah, kok bisa? Bukankah Cape Town begitu jauh dari Indonesia?

Nov 08, 2026 - 15:39
0
Setelah 7 Bulan Tinggal di Cape Town, Afsel, Rasanya seperti di Rumah Sendiri, Koq Bisa? 
Suasana semakin siang, antrian juga masih panjang

PINDAH negara sering kali identik dengan kerinduan terhadap tanah air. Katanya, semakin jauh kita merantau, semakin besar pula rasa rindu yang harus ditanggung. Apalagi jika jaraknya sampai ribuan kilometer, melintasi benua dan samudera. 

Namun, setelah 7 bulan tinggal di Cape Town, Afrika Selatan, kami justru merasakan sesuatu yang berbeda. Berada begitu jauh dari Indonesia, di ujung selatan Benua Afrika, ternyata tidak membuat kami semakin merasa asing. Sebaliknya, ada kehangatan yang membuat tempat ini terasa begitu dekat. Bahkan, rasanya seperti ada di rumah sendiri. Hah, kok bisa? Bukankah Cape Town begitu jauh dari Indonesia?

BACA JUGA: Liburan Sekolah di Afsel Dimanfaatkan dengan Lihat Ikan Paus Langsung di Lautan Lepas

Rabu, 4 November 2026, resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional di Afrika Selatan. Bukan tanpa alasan, hari itu menjadi momen penting bagi masyarakat untuk menentukan wakil mereka dalam Local Government Elections atau Pemilu Pemerintah Daerah. 
Suasana menjelang pemilu di Afrika Selatan ternyata punya beberapa kemiripan dengan Indonesia. Kampanye, poster dan foto kandidat yang menghiasi berbagai sudut kota, hingga atribut partai yang mudah dijumpai di sepanjang jalan. Hah, rasanya familiar banget, ya? Sekilas, suasana ini mengingatkan kami pada momen pemilu di tanah air.

BACA JUGA: Di Portugal, Anak-Anak Hanya 9 Bulan Sekolah per Tahun, Tiga Bulan Lainnya Libur

Namun, di balik semarak pesta demokrasi tersebut, Cape Town juga tengah menghadapi sejumlah persoalan sosial yang menjadi perhatian masyarakat. Menjelang Pemilu, pemberitaan mengenai konflik transportasi taksi, aksi demonstrasi, hingga gangguan aktivitas di sejumlah sektor turut mewarnai kehidupan sehari-hari. 

Antrian coblosan di TPS dekat perumahan

Bagi kami yang baru tujuh bulan tinggal di Cape Town, berbagai dinamika ini menjadi bagian dari proses mengenal kehidupan di negara baru. Tentu saja, setiap peristiwa memiliki latar belakang dan kepentingannya masing-masing. Sebagai pendatang, kami memilih untuk mengamati, memahami, dan belajar dari apa yang terjadi di sekitar kami. Sebab, tinggal di negara lain bukan hanya tentang menikmati pemandangan indah dan mengunjungi tempat-tempat wisata, tetapi juga tentang mengenal kehidupan masyarakatnya secara lebih dekat.

Dalam Pemilu Pemerintah Daerah ini, warga Afrika Selatan yang memenuhi syarat sebagai pemilih perlu mendatangi tempat pemungutan suara sesuai dengan lokasi yang tercantum dalam daftar pemilih. Prosesnya sekilas mengingatkan kami pada sistem pemilu di Indonesia, di mana pemilih telah terdaftar di tempat tertentu sebelum hari pencoblosan. 

Namun, ada perbedaan menarik dalam mekanisme pemilihan wakil rakyat di Afrika Selatan.

Khusus di Cape Town, yang merupakan salah satu metropolitan municipality di Afrika Selatan, pemilih mendapatkan dua surat suara. Surat suara pertama digunakan untuk memilih ward councillor, yaitu perwakilan yang akan mewakili wilayah tempat tinggal mereka. Cape Town sendiri terbagi menjadi 116 wilayah pemilihan atau wards, yang masing-masing memiliki kandidat untuk dipilih oleh masyarakat setempat. 

Salah satu poster yang terlihat di pinggir jalan. Sumber : Eyewitness News

Sementara itu, surat suara kedua digunakan untuk memilih partai politik melalui sistem Proportional Representation (PR). Sistem ini memungkinkan partai memperoleh kursi di City Council berdasarkan proporsi suara yang mereka dapatkan dari masyarakat. 

Jadi, meskipun kandidat dari suatu partai tidak memenangkan pemilihan di wilayah tertentu, suara untuk partai tersebut tetap memiliki peran dalam menentukan jumlah kursi yang diperoleh di council kota. 

Siapa saja yang memiliki hak untuk ikut menentukan pemimpin daerah di Afrika Selatan? Ternyata, tidak semua orang yang tinggal di negara ini otomatis bisa menggunakan hak pilihnya. Pemilih harus merupakan warga negara Afrika Selatan, berusia minimal 18 tahun, serta terdaftar dalam daftar pemilih resmi yang dikelola oleh Electoral Commission of South Africa (IEC). 

Menariknya, pendaftaran pemilih sudah dapat dilakukan sejak usia 16 tahun, meskipun hak untuk memberikan suara baru berlaku ketika seseorang menginjak usia 18 tahun. Artinya, status sebagai penduduk atau pemegang izin tinggal di Afrika Selatan saja belum cukup untuk memberikan hak suara dalam pemilu. 

APAKAH WARGA MEMILIH LANGSUNG WALIKOTA?

Apakah warga juga memilih langsung siapa yang akan menjadi Wali Kota Cape Town? Ternyata tidak! 

Hal ini menjadi salah satu perbedaan menarik jika dibandingkan dengan sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia. Di Afrika Selatan, masyarakat memilih anggota City Council, sedangkan posisi wali kota ditentukan melalui pemilihan oleh anggota council yang telah terbentuk.

Suasana bilik tempat pengambilan suara. Sumber : SABCNews

Setelah seluruh kursi council terisi, para anggota council akan mengikuti proses pemilihan untuk menentukan siapa yang akan menjabat sebagai Executive Mayor (Wali Kota). Jadi pemilihan Wali Kotanya kalau di Indonesia lewat DPRD-nya. 

Dengan komposisi 231 anggota council yang berasal dari berbagai partai politik, perolehan kursi masing-masing partai tentu menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Partai yang memiliki dukungan mayoritas di council memiliki posisi politik yang lebih kuat untuk mengusung dan memenangkan kandidatnya. Namun, hasil akhirnya tetap ditentukan melalui mekanisme pemilihan di dalam council, bukan semata-mata berdasarkan perolehan suara partai dalam pemilu. 

Menurut kawan pembaca oke mana nih sistem pemilihan Walikota di Indonesia atau Afrika Selatan?

Yeeeeyyyy, sekolah libuuuurr karena ada pemilu

Sebagai pendatang, kami diimbau untuk menghindari kerumunan selama hari Pemilu sebagai langkah antisipasi. Jadi, daripada hanya berlibur di rumah, kami memutuskan jalan-jalan ke mall. Hehehe!

Ngomong-ngomong, kalau di Indonesia setelah nyoblos biasanya kita bisa berburu promo dengan menunjukkan jari kelingking bertinta ungu. Nah, di Cape Town kok sepertinya tidak ada promo serupa, ya? Hahaha! Jangan-jangan informasinya tersedia dalam bahasa Afrikaans dan kami saja yang tidak tahu?

Sekolah libur saatnya pergi ke mall niiih

Hal menarik lainnya, grup WhatsApp perumahan justru ramai sejak pagi. Isinya update antrean dan kondisi beberapa TPS di sekitar tempat tinggal. Kami yang tidak ikut memilih pun serasa menjadi pengamat pemilu dadakan. Hihihi!

Nah, itulah secuil pengalaman yang menghadirkan "rasa Indonesia" selama tujuh bulan kami tinggal di Cape Town. Tapi, masih ada satu cerita yang paling gong, terutama buat pencinta kuliner! Kira-kira event apa yang begitu Indonesia dan sukses mengobati kerinduan kami terhadap tanah air? Penasaran? Sampai bertemu di cerita berikutnya. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User