Jutaan Akun Dinonaktifkan, tapi Anak-Anak Belum Sepenuhnya Aman di Dunia Maya.
TikTok melaporkan kemajuan yang patut diapresiasi: lebih dari 4 juta, kini telah menonaktifkan lebih dari 9 juta akun yang tidak memenuhi syarat usia. Langkah ini setidaknya mengurangi jumlah ruang yang tidak seharusnya dimasuki anak-anak.
ANGKA-ANGKA yang disebut Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid terdengar besar. Sembilan juta akun dinonaktifkan. Puluhan juta dialihkan ke akun khusus remaja. Namun di balik deretan angka itu, ada satu hal yang membuat kita berhenti sejenak: apakah anak-anak benar-benar lebih aman sekarang?
Dalam konferensi pers Rabu (7/10/2026), terungkap bahwa meskipun banyak akun telah dibersihkan, platform yang digunakan jutaan anak Indonesia dinilai masih berisiko tinggi.
TikTok melaporkan kemajuan yang patut diapresiasi: lebih dari 4 juta, kini telah menonaktifkan lebih dari 9 juta akun yang tidak memenuhi syarat usia. Langkah ini setidaknya mengurangi jumlah ruang yang tidak seharusnya dimasuki anak-anak.
Namun, perhatian tertuju kepada Meta. Raksasa yang menaungi Instagram, Facebook, dan Threads ini melaporkan telah memblokir 85.000 akun Instagram serta 99.000 akun Facebook milik anak di bawah 16 tahun. Sebanyak 22,5 juta akun dialihkan ke sistem Teen Account. Tindakan ini terlihat seperti kemajuan besar. Tetapi kenyataannya belum sepenuhnya demikian.
Meutya Hafid menegaskan dengan lugas: Teen Account belum bisa dikategorikan sebagai platform berisiko rendah. Masih ada tujuh hal yang belum terpenuhi. Mulai dari kemudahan berinteraksi dengan orang asing, paparan konten yang belum tersaring sempurna, mekanisme yang memicu kecanduan, hingga dampak terhadap kesehatan mental anak.
"Masih bisa berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal. Di situlah bahayanya," ujar Meutya.
Sederhana namun mengerikan. Banyak orang tua mengira dengan memindahkan anak ke akun remaja, mereka sudah terlindungi. Padahal pintu yang mengarah ke orang tak dikenal masih terbuka. Itulah celah yang bisa dimanfaatkan siapa saja.
Dan yang mengkhawatirkan: ada satu platform yang belum melaporkan apa pun. Threads. Belum ada data berapa akun anak yang telah dibersihkan, belum ada perubahan fitur yang dilaporkan, belum ada jaminan keamanan. Seolah-olah jutaan anak yang menggunakannya berada di ruang yang belum dijaga.
Pemerintah mengingatkan: perlindungan tidak diukur dari berapa banyak akun yang dihapus, melainkan dari seberapa aman sistem itu sendiri. Jika desain aplikasinya masih memungkinkan interaksi berbahaya, maka memblokir ribuan akun tak akan cukup. Masalahnya bukan pada siapa yang masuk, melainkan pada pintu yang dibiarkan terbuka.
Kisah ini mengajarkan kita hal-hal penting yang tak boleh diabaikan:
Pertama, angka tidak menjamin keamanan. Laporan yang penuh bilangan besar dapat menenangkan, namun kenyataannya kerentanan tetap ada jika fondasinya tidak diperbaiki.
Kedua, anak-anak membutuhkan perlindungan yang menyeluruh. Tidak boleh ada satu aplikasi yang terlupakan. Jika Threads belum ditangani, maka jutaan anak yang memakainya tetap berada dalam ketidakpastian.
PERAN ORANG TUA PALING UTAMA
Ketiga, orang tua tidak boleh lengah. Meskipun pemerintah menegur dan mengawasi, pengawasan di rumah tetap yang paling utama. Tanya apa yang ditonton, siapa yang diajak bicara, bagaimana perasaannya setelah bermain gawai.
Keempat, perusahaan wajib melindungi pengguna paling muda. Keuntungan bisnis tidak boleh didapat dengan mengorbankan kesejahteraan anak. Jika fitur belum aman, maka harus diubah sampai aman — bukan sekadar dilaporkan.
Kelima, keberanian menegur adalah perlindungan itu sendiri. Ketika menteri secara terbuka menyatakan belum puas, itu tanda bahwa standar keamanan tidak boleh diturunkan sekadar karena ada laporan kemajuan.
So, dunia maya bukan tempat yang sepenuhnya ramah bagi anak-anak. Di sana ada keindahan, ada ilmu, ada pertemanan. Namun ada juga bahaya yang tak terlihat mata telanjang. Racun jiwa.
Tugas kita — pemerintah, perusahaan, dan orang tua — adalah memastikan bahwa saat anak-anak melangkah ke sana, mereka tidak sendirian. Bahwa setiap langkahnya dijaga, setiap interaksinya diawasi, dan setiap bahayanya diantisipasi sebelum terjadi.
Karena masa depan bangsa tidak boleh dipertaruhkan di ruang yang belum aman. Anak-anak berhak tumbuh tanpa ketakutan. Dan itulah tanggung jawab kita bersama. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)