Hebat, Mahasiswa UIN Ponorogo Bersinar di Panggung Seiba International Festival IV
DI PANGGUNG megah Kampus 3 UIN Imam Bonjol Padang, gema kreativitas mahasiswa dari berbagai negara bergaung. Mereka berkumpul dalam Seiba International Festival (SeIBa) IV, sebuah pesta seni dan budaya berskala internasional yang berlangsung sejak 7 hingga 12 Juli 2026.
DI PANGGUNG megah Kampus 3 UIN Imam Bonjol Padang, gema kreativitas mahasiswa dari berbagai negara bergaung. Mereka berkumpul dalam Seiba International Festival (SeIBa) IV, sebuah pesta seni dan budaya berskala internasional yang berlangsung sejak 7 hingga 12 Juli 2026.
SEIBA adalah singkatan dari Sepekan Berkreativitas. Istilah ini umumnya digunakan dalam acara "SeIBa International Festival", yaitu ajang kompetisi dan kolaborasi seni, budaya, serta akademik berskala internasional yang diikuti oleh berbagai perguruan tinggi, terutama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Di tengah gemuruh apresiasi seni itu, kontingen UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo hadir bukan sebagai penonton. Tapi sebagai pemain utama yang siap menorehkan prestasi dan kisah inspiratif bagi kampus dan bangsa.
13 mahasiswa yang terpilih masuk tim UIN Ponorogo dengan semangat membara membawa misi mulia: mempersembahkan keindahan dan kekayaan budaya Nusantara. Melalui empat cabang lomba yang mereka geluti — monolog berisi pesan mendalam, tari kontemporer penuh inovasi, tari tradisional yang sarat makna, serta pop solo yang memukau.
Tak sekadar berlomba, mereka adalah duta budaya yang membawa cerita Ponorogo melintasi batas geografis dan budaya. Dipandu oleh dua pendamping handal dari Unit Layanan Akademik, Mohamad Elvin Mukafi dan M. Fatchur Thoriqul Mustaqim, setiap langkah persiapan mereka ditata rapi dengan disiplin dan kreativitas tinggi.
Mereka bukan hanya mengasah keterampilan seni, namun juga membangun jiwa kepemimpinan dan kolaborasi antarbangsa.
Seiba International Festival IV, resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., pada Salasa 8/7 2026. Mengusung tema “Sustainability from Nusantara to Global Harmony”. Tema ini menggambarkan visi besar: bagaimana kekayaan budaya Nusantara menjadi jembatan menuju harmoni global yang berkelanjutan.
Di ajang yang sarat makna dan penuh energi ini, peserta dari delapan negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Nigeria, hingga Turki hadir dengan beragam warna ekspresi budaya yang memukau.
Festival ini bukan sekadar kompetisi. Even ini adalah panggung pembauran budaya dan intelektual. Dengan 26 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), 9 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), serta universitas dari luar negeri yang menghadirkan total 486 peserta, Seiba menjadi melting pot kreativitas dan semangat kebersamaan antar bangsa.
Melting pot adalah metafora yang menggambarkan sebuah tempat atau masyarakat heterogen dari berbagai latar belakang etnis dan budaya yang melebur menjadi satu.
Bagi UIN Ponorogo, ini lebih dari sekadar lomba. Ini adalah panggilan untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan mampu berdiri sejajar di arena global, memperkenalkan khazanah budaya dan seni tradisional yang kaya, serta inovasi di ranah kontemporer.
Monolog yang dibawakan tak hanya menghibur, namun menyampaikan pesan moral dan keindahan bahasa, sedangkan tari tradisional mereka menggiring penonton menelusuri jejak sejarah dan kearifan lokal yang memikat. Tari kontemporer dan pop solo sebagai representasi energi muda juga menambah warna keseruan festival.
Sekilas tentang festival ini, Dr. Subhan Ajrin Sudirman, Ketua Pelaksana Seiba International Festival 2026, menggambarkan bagaimana festival ini telah menjadi tradisi yang menghadirkan harmoni, tak hanya dalam seni tapi juga hubungan antar negara.
“Melalui pertukaran dan kolaborasi seni, generasi muda kita belajar menghargai keberagaman sekaligus memperkuat jati diri,” jelas Subhan Ajrin Sudirman usai acara pembukaan.
Cerita para mahasiswa Ponorogo ini menjadi bukti bahwa pembinaan intensif dan dukungan institusi membangkitkan semangat juang dan kreativitas yang mumpuni. Mereka bertransformasi dari pelajar menjadi duta budaya dan intelektual yang mampu bersaing sekaligus menjalin persahabatan lintas negara.
Ke depan, pengalaman di Seiba ini diharapkan menjadi modal berharga untuk pengembangan diri mahasiswa UIN Ponorogo, sekaligus mengangkat nama kampus kian bersinar di kancah internasional.
Lewat seni dan budaya, mereka memperkuat pesan perdamaian, kebersamaan, dan keberlanjutan yang esensial bagi dunia.
Tentu, mereka tak hanya berlomba, tapi menuliskan bab inspirasi baru —dari Ponorogo untuk dunia. Talenta mereka bersinar menembus batas. Sebuah kisah pembuktian bahwa kreativitas dan kecintaan pada budaya adalah kekuatan yang mampu menyatukan bangsa-bangsa di tengah dinamika global.
Dalam simfoni warna-warni Seiba International Festival IV, para mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo berdiri gagah, menyanyikan lagu kemenangan yang tak hanya berasal dari piala, tapi dari jiwa dan semangat yang menggetarkan hati. "Jayalah Seni Budaya Indonesi Sebagai Perekat Budaya Bangsa". (Imam Kusnin Ahmad)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)