John Herdman Seolah Merendahkan Mereka yang Berkomentar dan Terdengar Pongah

Apa komentar pelatih Indonesia, John Herdman? Komentarnya tak meledak-ledak. Mungkin karena pengalamannya yang telah puluhan tahun di panggung dunia. 

Oct 10, 2026 - 09:05
0
John Herdman Seolah Merendahkan Mereka yang Berkomentar dan Terdengar Pongah
John Herdman. (FOTO: Istimewa)

FINAL FIFA ASEAN Cup Senin, 5 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, telah berlalu. Indonesia juara setelah menang adu penalti 4-2 atas Thailand. Skor 2x45 menit 1-1, skor 2x15 menit 2-2.

Apa komentar pelatih Indonesia, John Herdman? Komentarnya tak meledak-ledak. Mungkin karena pengalamannya yang telah puluhan tahun di panggung dunia. 

John Herdman mengungkap isi hatinya tentang fenomena yang kerap terjadi di sepakbola kita: bagaimana opini bisa tumbuh tanpa dasar yang cukup, dan bagaimana kita belajar memahami bahwa sepakbola jauh lebih luas daripada sekadar angka di papan skor.

"Saya sudah mengikuti delapan Piala Dunia, tiga Olimpiade, dan memiliki lisensi Pro. Saya pernah bekerja dengan meraih empat gelar juara sekaligus, juara Liga Champions dan Bundesliga. Saya juga pernah bekerja dengan juara liga di Portugal. Dari mereka semua, saya belajar satu hal: sepakbola itu tidak pernah sesederhana yang terlihat dari luar," ujar Herdman.

Pengalaman itu membuatnya sedih ketika melihat bagaimana taktik dan strategi timnas sering dinilai secara sembarangan di ruang publik. "Hal-hal yang saya lihat dan dengar di media mengenai taktik, itu sangat menyedihkan. Karena itu menunjukkan bahwa sebagai sebuah negara, kita masih perlu berkembang. Kita perlu tumbuh — bukan hanya di lapangan, tetapi juga dalam cara kita memahami dan menganalisis permainan," katanya.

Yang menjadi perhatian Herdman bukanlah kebebasan berpendapat. Ia sangat menghargai suara siapa pun. Yang ia pertanyakan adalah fondasi di balik setiap pendapat yang dilontarkan, terutama ketika disampaikan dengan lantang di ruang publik.

"Kita punya pemain-pemain yang belum pernah bermain di level tertinggi Eropa, belum pernah merasakan turnamen besar, tetapi opini mereka sangat besar. Opini yang sayangnya, kadang belum dipikirkan secara matang di level yang semestinya," tegasnya. Ya mana mungkin Indonesia, saat ini, disetarakan dengan tim-tim negara Eropa. 

Pertanyaan yang ia ajukan sederhana namun tajam: "Jika Anda memiliki panggung yang besar dan opini yang lantang, lalu apa dasarnya? Dari mana opini itu berasal? Apakah Anda sudah mengedukasi diri? Apakah Anda pernah melatih sebuah tim, merasakan tekanan di dalam ruang ganti, menghadapi lawan yang mempelajari setiap kelemahan tim Anda?"

Herdman seolah mengatakan, semua orang  yang berkomentar harus menjadi pemain dulu, merasakan ruang ganti, dan bertarung dalam tim di event yang besar.

Mana mungkin Herdman?

Lihatlah kepongahan dari perkataannya ini: "Saya tidak menutup pintu bagi kritik. Justru sebaliknya. Jika Roy Keane atau Alan Shearer yang berkomentar, saya akan berkata: Oke, mari kita dengarkan. Jika Thierry Henry berbicara tentang cara kami bermain, saya pun menghargai itu. Ketika Thierry Henry menilai permainan kami melawan Kanada sebagai luar biasa, saya percaya pendapatnya — karena dia tahu betapa sulitnya hal itu dilakukan di lapangan."

Berarti, orang lain yang berkomentar tak perlu dipedulikan. Untuk apa didengar? "Hanya para bintang sepakbola dunia yang perlu saya dengar komentarnya," begitulah sebenarnya yang dikatakan. 
 
Salah satu hal yang membuat Herdman prihatin adalah ekspektasi masyarakat yang sering kali tidak berdasar pada realitas sepakbola internasional. "Kami dituntut menang 5-0 seolah itu hal yang paling mudah. Di laga internasional mana Anda bisa dipastikan menang dengan skor itu? Coba beri tahu saya. Prancis saja bisa bermain imbang 1-1 melawan Bolivia. Hal seperti itu terjadi di setiap pertandingan," ungkapnya.

Kayaknya nggak ada yang berkomentar seperti itu. Kalau ada yang berkomentar, untuk lolos ke final Indonesia perlu menang 5 gol atas Bangladesh, mungkin ada. Namanya hitungan. Dan kenyataannya Indonesia bisa menang 9-2 (unggul 7 gol) atas Bangladesh, dan Malaysia menang 6-0 atas Singapura. Dan, Indonesialah yang juara grup dan lolos ke final. Apanya yang salah? 

Sepakbola, kata Herdman, bukanlah ilmu pasti. Dari dulu orang sudah tahu. "Sepakbola itu tidak sesederhana itu. Kalau begitu, kita semua sudah jadi miliarder karena tahu persis cara menebak hasil pertandingan. Dan kenyataannya, kita tidak bisa. Di lapangan ada keberuntungan, ada kondisi fisik hari itu, ada keputusan wasit, ada semangat lawan yang berjuang mati-mati. Semuanya berperan," jelasnya. 
 
Herdman tidak meminta agar semua orang memuji tim. Ia hanya berharap kita semua tumbuh bersama.

"Bukan berarti orang tidak boleh berpendapat. Saya hanya berharap orang-orang terus mengedukasi diri mereka sendiri, memahami konteks pertandingan, sebelum langsung bersuara saat hasil tidak sesuai harapan. Sebagai sebuah negara, kita sedang melangkah ke level berikutnya. Dia ingin membungkam para penggila sepakbola di Indonesia untuk tidak berkomentar. Mana mungkin?

Dan pertumbuhan itu terjadi tidak hanya di lapangan hijau, tetapi juga di cara kita memahami, mendukung, dan mencintai sepak bola kita."

Pernyataan Herdman mengingatkan kita pada beberapa hal penting yang sering terabaikan:

Pertama, kebebasan berpendapat adalah hak setiap orang, tetapi di ruang publik yang luas, setiap pendapat juga memiliki dampak. 
Semakin besar suaranya, semakin dalam dampaknya — dan semakin kuat pula tanggung jawabnya.

Kedua, memahami sepakbola membutuhkan kedalaman, bukan hanya emosi. Hasil akhir menceritakan satu bagian cerita, tetapi proses di dalamnya jauh lebih kompleks. Taktik, kondisi pemain, strategi lawan, dan situasi pertandingan saling berkaitan.

Ketiga, ekspektasi yang tidak realistis justru menyakiti perkembangan. Menuntut kemenangan besar di setiap pertandingan tidak membantu tim tumbuh. Yang dibutuhkan adalah dukungan yang konsisten — saat menang maupun saat belum berhasil.

Keempat, kita tumbuh bersama. Kemajuan sepakbola tidak hanya tugas pelatih dan pemain. Cara kita berkomentar, cara kita memahami permainan, cara kita mendukung — itu semua bagian dari kemajuan bangsa sepak bola kita.

Boleh saja Herdman menyimpulkan seperti itu. Padahal para suporter Indonesia begitu loyal mendukung timnas Indonesia, walaupun tak pernah juara sejak 1991. Mereka tidak pernah meninggalkan tim kesayangannya. 

Di akhir komentarnya ia berkata, sepakbola adalah milik kita semua. Kita semua berhak mencintai timnas kita. Namun mencintai juga berarti memahami bahwa proses membutuhkan waktu, bahwa kemenangan tidak selalu datang mudah, dan bahwa setiap orang yang berlari di lapangan sedang berjuang sekuat tenaga.

Karena di atas segalanya, lanjutnya, kemajuan timnas adalah kemajuan kita semua. Dan perjalanan itu paling indah ketika kita berjalan bersama — dengan pikiran yang terbuka dan hati yang saling mendukung. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User