Mengapa Kehadiran Plt Rektor UINSA Amien Suyitno Menenangkan?
Kementerian Agama turun langsung mengawal proses pemulihan situasi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UINSA, Amien Suyitno, hadir di tengah para mahasiswa.
SUASANA di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya perlahan mulai tenang. Setelah gelombang penolakan terhadap Rektor anyar Prof Ahmad Muzakki yang mengguncang kampus, kini muncul harapan baru.
Kementerian Agama turun langsung mengawal proses pemulihan situasi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UINSA, Amien Suyitno, hadir di tengah para mahasiswa.
Ia tidak berdiri di atas panggung tinggi. Ia memilih duduk lesehan bersama para mahasiswa. Langkah sederhana ini terasa begitu bermakna.
Di ruang yang terbuka, tanpa sekat, suara hati para mahasiswa pun mengalir bebas. Mereka menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Termasuk tuntutan yang dikenal sebagai "7+1".
Berbagai pandangan, masukan, dan harapan tercurah secara langsung. Tak ada yang dipotong. Tak ada yang dikesampingkan.
Suyitno hadir untuk mendengar, sungguh-sungguh mendengar. "Setiap aspirasi satu per satu akan ditinjau," ujarnya, Kamis (24/9/2026) lalu.
"Semua celah kebijakan untuk kebaikan UINSA akan diupayakan, dan tetap sesuai regulasi," tambahnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun menenangkan. Banyak mahasiswa yang merasa suaranya akhirnya didengar.
Bukan lewat perantara, bukan lewat tulisan saja.
Langsung dari mereka yang merasakan kehidupan kampus setiap hari.
PINTU YANG LAMA TERTUTUP KINI DIBUKA
Dialog dianggap sebagai pintu yang lama tertutup. Kini pintu itu dibuka lebar.
Suyitno menegaskan, mendengar langsung adalah langkah awal pemulihan. Semua aspirasi yang masuk akan dipahami utuh. Kemudian ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku.
"Kita ingin mendengar langsung apa yang menjadi aspirasi mahasiswa," katanya. "Setelah itu, kita lihat satu per satu mana yang bisa ditindaklanjuti," tegasnya.
Mahasiswa bukan sekadar jadi penonton di lingkungannya sendiri.
Mereka menjadi bagian penting dari ekosistem akademik. Beginilah yang seharusnya.
Tanpa mahasiswa, tak ada perguruan tinggi.
Karena itu, ruang komunikasi akan terus dijaga terbuka.
Kementerian Agama menyadari, kehadiran adalah hal yang paling dirindukan. Bukan sekadar datang berpidato lalu pergi. Melainkan hadir untuk memahami, hadir untuk menyelesaikan.
Kehadiran Suyitno ingin menyampaikan pesan sederhana. Bahwa Kemenag tidak berjarak dengan civitas akademika.
Pintu pusat berada di tengah-tengah warga kampus.
Proses pemulihan tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Dibutuhkan semua unsur yang ada di UINSA terlibat aktif. Pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Semua punya peran. Semua punya tanggung jawab.
"UINSA adalah milik kita bersama," ucap Suyitno dengan tulus. "Mari kita bangun kembali dengan komunikasi yang baik,"
ajak Suyitno.
Dengan saling mendengar, dan tetap mengedepankan aturan yang berlaku. Pesan ini mengajak semua pihak meletakkan perbedaan.
Menjadikan kepentingan bersama sebagai tempat pulang. Kegiatan akademik dan pelayanan kepada mahasiswa tetap dijaga.
Proses belajar mengajar harus terus berjalan. Generasi penerus tidak boleh terhenti langkahnya.
Jalan pemulihan memang belum sepenuhnya mulus.
Namun, langkah pertama yang paling penting sudah diambil. Duduk bersama, saling mendengar, berjanji berbenah. Itulah awal yang paling indah.
Semoga UINSA kembali menjadi rumah yang nyaman. Tempat ilmu tumbuh, akhlak terjaga, dan persatuan menguat.
Semoga suara yang didengar kini menjadi perbaikan yang nyata.
Bukan sekadar janji, melainkan kenyataan yang dirasakan bersama. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)