MUI Jatim Siapkan AI Mu'awin, Agentic AI Berbasis Fatwa MUI dan Islam Wasathiyah

Sep 21, 2026 - 08:54
0
MUI Jatim Siapkan AI Mu'awin, Agentic AI Berbasis Fatwa MUI dan Islam Wasathiyah
Foto: Dokumen Pribadi

SURABAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mulai menyiapkan AI Mu'awin, asisten digital berbasis kecerdasan buatan (Agentic AI) yang dirancang menggunakan basis fatwa MUI dan pengetahuan Islam Wasathiyah terkurasi.

Pengembangan AI Mu'awin menjadi salah satu agenda program kerja Komisi Informasi, Komunikasi, dan Digitalisasi (Komdigi) MUI Jawa Timur Masa Khidmat 2025–2030. Untuk membangun teknologi tersebut, MUI Jawa Timur berkolaborasi dengan AI Centre Universitas Brawijaya (UB), Dinas Komdigi Pemprov Jatim, dan KITA AI Community.

Rencana pengembangannya dibahas dalam pertemuan MUI Jawa Timur dan AI Centre UB pada 18 September 2026.

Ketua Komisi Komdigi MUI Jawa Timur Khoirul Anwar mengatakan AI Mu'awin diarahkan menjadi instrumen yang membantu masyarakat mengakses pengetahuan keislaman dan fatwa MUI di tengah semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi apakah masyarakat akan menggunakan AI atau tidak. Teknologi tersebut telah masuk ke kehidupan sehari-hari. Persoalannya adalah bagaimana umat memperoleh akses terhadap teknologi yang menggunakan sumber pengetahuan terverifikasi dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Umat sekarang bisa bertanya apa saja kepada AI, termasuk persoalan agama. Tantangannya, kita tidak selalu mengetahui dari mana AI mengambil pengetahuan dan bagaimana jawaban itu dibentuk. Karena itu, basis pengetahuannya harus menjadi perhatian serius,” kata pengajar Media Technology Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang ini.

AI Mu'awin dirancang menggunakan pangkalan pengetahuan Islam Wasathiyah yang terkurasi. Bentuknya bisa chatbot AI atau sistem agentic AI. Pengembangan sistem juga diarahkan untuk menekan risiko halusinasi AI, yakni kondisi ketika sistem kecerdasan buatan menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi tidak memiliki landasan yang benar.

Meski demikian, AI Mu'awin tidak diposisikan untuk menggantikan ulama maupun otoritas keagamaan.

Teknologi tersebut ditempatkan sebagai instrumen pendukung yang membantu masyarakat menemukan dan memahami pengetahuan. Persoalan keagamaan yang membutuhkan penjelasan dan otoritas lebih lanjut tetap berada pada ranah ulama serta lembaga yang berwenang.

“AI jangan ditempatkan menggantikan ulama. Teknologi harus menjadi mu'awin, menjadi pembantu. Ia membantu manusia memperoleh pengetahuan, sementara otoritas dan pertanggungjawaban keagamaan tetap berada pada manusia,” ujar Anwar.

Pengembangan AI Mu'awin menjadi bagian dari rancangan ekosistem digital yang lebih luas. MUI Jawa Timur dan AI Centre UB memetakan sedikitnya tiga klaster kerja sama, yakni Pusat Kognisi dan Edukasi Dakwah, Sistem Pertahanan dan Literasi Informasi, serta Infrastruktur Digital Inti.

Pada klaster pertahanan informasi, teknologi analitik akan digunakan untuk membaca dinamika percakapan publik di ruang digital. Sistem diarahkan untuk mendeteksi tren persoalan seperti hoaks, judi online, serta anomali informasi dan kultural yang berpotensi memengaruhi masyarakat.

Analisis dibatasi pada data agregat dan pemetaan tren sebagai early warning system. Sistem tersebut tidak diarahkan untuk melacak identitas atau data pribadi pengguna.

Sementara pada klaster infrastruktur digital, MUI Jawa Timur menyiapkan pembangunan pangkalan data keumatan dan sistem perkantoran elektronik Smart MUI Jawa Timur.

Digitalisasi arsip menjadi bagian penting dari rancangan tersebut. Pengetahuan kelembagaan yang selama ini tersebar akan ditata secara bertahap sehingga dapat menjadi salah satu fondasi pangkalan pengetahuan bagi pengembangan layanan AI MUI Jatim.

Anwar menilai langkah tersebut penting karena lembaga keagamaan perlu mulai membangun kedaulatan pengetahuan di era AI.

“Kalau pengetahuan umat tidak mulai didigitalisasi, dikurasi dan dibangun menjadi knowledge base yang kuat, kita akan terus bergantung kepada sistem pengetahuan yang dibangun pihak lain yang belum tentu terkurasi. Ini yang harus mulai disiapkan dari sekarang,” kata pengasuh Pesantren Darul Muslimin Ploso Jombang ini.

Dalam pertemuan tersebut, MUI Jawa Timur diwakili Dr Hakim Jayli, Khoirul Anwar, Fajar Trang Bawana, Haikal Atiq, Prof Lilik Hamidah, dan sejumlah pengurus lainnya. Sementara, dari AI Centre UB hadir Prof Dr Wayan Firdaus Mahmudy, Dr Raden Arief Setyawan, Dr Rizal Setya Perdana, bersama sejumlah pengurus lainnya.

Kedua lembaga selanjutnya akan memasuki tahap penyelarasan teknis pada minggu keempat September 2026. Agenda tersebut mencakup pembentukan gugus tugas bersama dan penyusunan draf nota kesepahaman (MoU).

MUI Jawa Timur juga menyiapkan rubrik khusus kecerdasan buatan di Majalah MUI Jawa Timur sebagai pintu awal literasi AI bagi masyarakat. "Bagi MUI Jawa Timur, pengembangan AI Mu'awin menjadi bagian dari upaya yang lebih besar,  memastikan umat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mempunyai kemampuan membangun, mengendalikan, dan menjaga pengetahuannya sendiri di era kecerdasan buatan," pungkas Anwar. (suk)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User