Apakah Kapal Induk Tua Renta dari Italia Ini Bermanfaat bagi Indonesia?
KAPAL besar yang berlabuh di Tanjung Priok ini bukan kapal perang biasa. Ini adalah kapal induk pertama dalam sejarah TNI Angkatan Laut.
Dari Giuseppe Garibaldi, kini namanya berganti menjadi KRI Sriwijaya-100. Nama yang sarat makna.
Mengingatkan pada kejayaan maritim masa lalu.
Menyimbolkan kebangkitan kekuatan laut di masa kini. Namun di tengah gemuruh upacara dan kibaran bendera Merah Putih, ada pertanyaan yang mendesak.
Apakah kehadiran kapal induk ini benar-benar menjawab kebutuhan riil pertahanan Nusantara? Atau justru menjadi beban yang menguras anggaran tanpa manfaat strategis yang nyata?
Kita tidak boleh hanya terpaku pada kemegahan. Kita harus jujur melihat kenyataan. Kapal ini lahir pada 1983. Bertugas aktif sejak 1985. Usianya kini empat dekade.
Secara umum, kapal perang dirancang untuk masa pakai 30 hingga 40 tahun. Artinya, sejak hari pertama diserahterimakan, kapal ini sudah berada di penghujung masa operasionalnya.
Italia melepaskannya bukan tanpa alasan.
Biaya perawatan tahunan saat disimpan mencapai 5 juta euro. Biaya pembongkaran bahkan lebih mahal, 19 juta euro.
Menghibahkan kapal tua renta ini ke Indonesia adalah penghematan bagi Italia. Sekaligus membuka pintu kerja sama ekspor militer senilai 1,5 miliar euro ke depan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap fakta ini.
Bukan berarti menolak segala sesuatu yang datang dari luar. Tetapi kewajiban kita memastikan apa yang diterima benar-benar bermanfaat. Tak sekadar memindahkan beban dari bahu negara lain ke bahu kita sendiri.
Pemerintah menyatakan kapal ini utamanya digunakan untuk Operasi Militer Selain Perang. Untuk bantuan kemanusiaan. Penanggulangan bencana. Patroli kedaulatan. Tujuan yang mulia.
Namun para pengamat pertahanan mengingatkan satu hal mendasar. Kapal induk pada hakikatnya dibangun untuk memproyeksikan kekuatan udara di laut.
Itulah fungsi utamanya.
Misi kemanusiaan adalah fungsi tambahan, bukan utama. Saat ini, TNI AL belum memiliki pesawat tempur berkemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal.
Tanpa kekuatan udara yang sesuai, KRI Sriwijaya-100 kemungkinan besar hanya beroperasi sebagai kapal induk helikopter atau pangkalan pesawat nirawak.
Kegunaannya tentu ada. Tetapi jauh dari potensi sesungguhnya yang ditawarkan oleh kapal jenis ini. Risiko yang dikemukakan Dr. Collin Koh dari RSIS Singapura layak direnungkan.
Jika pendanaan operasional tidak tersedia secara berkelanjutan, kapal ini bisa menjadi "ratu pelabuhan". Megah dipandang, tetapi jarang berlayar.
Biaya bahan bakar, perawatan, gaji awak, suku cadang — semuanya memerlukan anggaran yang tidak sedikit.
Apakah dana ini sudah dipastikan tersedia setiap tahun? Terutama saat keadaan ekonomi sedang sulit.
Kita juga perlu jujur pada diri sendiri tentang doktrin pertahanan kita.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Namun pertahanan maritim kita selama ini berlandaskan konsep pertahanan wilayah dan kepulauan yang bersifat defensif.
Pengoperasian kapal induk menuntut pola pikir yang berbeda. Ia memerlukan armada pendukung. Kapal pengawal. Kapal suplai. Pesawat pengintai.
Dan sistem komando yang terintegrasi secara menyeluruh.
Apakah semua itu sudah siap? Atau kita hanya memiliki satu kapal besar sendirian di tengah lautan?
Kesiapan PT PAL Indonesia untuk memodernisasi kapal ini patut diapresiasi setinggi-tingginya.
Kerja sama dengan Fincantieri, penguasaan teknologi baru, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia adalah langkah yang positif.
Namun memodernisasi kapal berusia empat puluh tahun bukanlah hal yang mudah.
Banyak sistem yang sudah usang. Suku cadang yang mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Kendala teknis yang baru muncul saat pekerjaan sudah berjalan. Semua ini butuh kesabaran, dana, dan ketelitian yang luar biasa.
Kita tidak boleh terburu-buru hanya demi pencitraan. Kita juga tidak boleh mengorbankan kesiapan kapal-kapal lain yang saat ini sudah berjaga di perbatasan. Kapal patroli. Fregat. Kapal pantau.
Mereka adalah garda terdepan yang bekerja setiap hari menjaga ribuan pulau dan perairan kita. Jika anggaran terbagi terlalu banyak ke satu kapal, kesiapan mereka bisa terpengaruh. Itulah risiko yang tidak boleh diabaikan.
KRI Sriwijaya-100 bukan sekadar nama baru di daftar alutsista. Ia adalah tanggung jawab besar yang dititipkan kepada kita semua. Bukan hanya untuk dipamerkan di upacara. Tapi untuk dijaga, dibiayai, dan dioperasikan dengan sebaik-baiknya demi kedaulatan rakyat.
Jika kita mampu melakukannya dengan benar, kapal ini akan menjadi kebanggaan yang sesungguhnya.
Ia akan melaut menjaga perairan kita. Membawa bantuan saat bencana datang. Menjadi benteng yang kokoh di laut.
Namun jika tidak, ia hanya akan menjadi kenangan yang mahal. Sebuah kapal yang megah, namun diam saja di dermaga. Menunggu perawatan yang terlambat. Menunggu dana yang tak kunjung cukup.
Itulah yang harus kita cegah. Masa depan kapal ini tidak ditentukan saat namanya diumumkan.
Melainkan di tahun-tahun berikutnya. Saat kita harus membuktikan keseriusan merawatnya.
Semoga KRI Sriwijaya-100 benar-benar mengarungi lautan Nusantara. Bukan sekadar berlabuh di pelabuhan kebanggaan sesaat. Tetapi berlayar jauh.
Menjaga. Melindungi. Dan mengabdi kepada negeri. Itulah harapan sejati. Itulah tanggung jawab yang sesungguhnya. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)