Di Balik Angka 14, Perjuangan Senyap di Dasar Laut Masalembo
ANGKA 14 bukan sekadar laporan. Itu adalah jumlah jenazah yang berhasil diangkat dari dasar Laut Jawa pada hari ke-12 pencarian. Yaitu jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8, Minggu 13 September 2026 dinihari.
Di balik angka itu, ada perjuangan yang tidak semua orang dapat melihat. Ada penyelam yang turun berkali-kali. Ada tangan yang bekerja hati-hati agar tidak menambah kerusakan. Ada doa yang terucap di tengah kedalaman yang gelap dan dingin.
Dari atas KRI I Gusti Ngurah Rai, Komandan Gugus Penanggulangan Bencana Koarmada I, Laksamana Pertama Edi Setiawan, memantau setiap langkah.
Tiga kali penyelaman dilakukan hari ini (Jumat 25 September 2026).
Setiap sorti membutuhkan persiapan matang.
Sorti pertama mengangkat tujuh jenazah.
Sorti kedua menambah satu jenazah lagi.
Kemudian, laporan yang paling menggugah datang: enam jenazah tambahan berhasil ditemukan.
Total 14 jenazah dalam sehari. Sebuah angka yang membanggakan bagi tim, namun sekaligus menyakitkan bagi keluarga yang menunggu.
Helikopter HS 1311 kini mengangkut tiga jenazah menuju Banjarmasin. Tujuh jenazah lainnya dari KRI I Gusti Ngurah Rai juga segera menyusul. Pertemuan kembali antara keluarga dan orang yang dicintai akan terjadi. Namun dalam keadaan yang tidak diharapkan siapa pun.
Cuaca tetap menjadi musuh yang tak terlihat, namun nyata. Gelombang 1,5 hingga 2 meter membuat perahu bergoyang, membuat posisi turun-naik, penyelam lebih sulit.
Namun di bawah permukaan, arus tenang menjadi berkah yang dinantikan. Memungkinkan penyelam bergerak lebih terarah dan tenang.
Tantangan yang lebih berat justru datang dari kondisi di dalam kapal yang tenggelam itu sendiri. Jenazah yang sudah rusak menuntut kehati-hatian luar biasa.
Setiap gerakan harus lembut. Setiap penanganan harus penuh penghormatan. Bagi para penyelam, ini bukan sekadar pekerjaan teknis.
Ini adalah tugas untuk mengembalikan amanah kepada keluarga. Untuk memberikan perpisahan yang layak. Untuk menutup kemungkinan ketidakpastian yang menyiksa batin.
Di sinilah rencana salvage atau pembalikan kapal menjadi sangat penting. Kapal yang terbalik menutup banyak ruang. Banyak korban masih terjebak di bagian yang tidak terjangkau.
TNI AL telah mengerahkan Kopaska dan tim penyelam terbaik.
Mereka menyusun strategi, mengevaluasi cara, dan memastikan setiap langkah aman.
Pekerjaan ini tidak bisa terburu-buru. Namun tidak boleh lambat. Setiap jam yang berlalu adalah penantian yang menyakitkan bagi keluarga di darat.
Jendela waktu besok sudah ditetapkan: pukul 06.00 hingga 16.00. Hanya 10 jam dalam sehari untuk bekerja. Sisanya tertutup kegelapan dan keterbatasan pandangan di dalam air.
Itulah realitas yang dihadapi tim SAR.
Bukan keengganan, melainkan keterbatasan alam yang harus dihormati. Namun semangat tidak pernah surut.
Setiap jenazah yang diangkat adalah bukti bahwa usaha tidak sia-sia. Setiap nama yang teridentifikasi adalah kabar yang ditunggu dengan air mata. Dan setiap langkah yang diambil mendekatkan kita kepada penutup yang lebih tenang.
Kepada seluruh keluarga yang masih menunggu, ketahuilah ini: Para petugas di tengah laut itu tidak berhenti berusaha.
Mereka turun ke kedalaman yang sulit.
Bekerja di bawah tekanan yang berat.
Dan pulang dengan beban batin yang tidak terlihat. Semoga besok membawa kabar yang lebih baik. Semoga jendela waktu pagi nanti cerah.
Semoga kapal yang terbalik itu perlahan mengembalikan siapa yang masih ada di dalamnya. Dan semoga setiap keluarga akhirnya bisa mengantar pulang orang yang dicintai.
Dengan tenang. Dengan layak. Dan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang terlupakan. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)