Hari ke-11 SAR KM Virgo Transport 8: Enam Jenazah Lagi Ditemukan, 129 Korban Lainnya Diduga Masih Terperangkap

Sep 24, 2026 - 06:01
0
Hari ke-11 SAR KM Virgo Transport 8: Enam Jenazah Lagi Ditemukan, 129 Korban Lainnya Diduga Masih Terperangkap
Sketsa pencarian jenazah korban. (istimewa)

BANJARMASIN. Memasuki hari ke-11 operasi pencarian KM Virgo Transport 8, tim gabungan mencatat kemajuan penting.
 
Enam kantong jenazah baru berhasil dievakuasi dari perairan Masalembo, Laut Jawa, Rabu (23/9/2026).
 
Bangkai kapal berada di kedalaman 26 hingga 29 meter di bawah permukaan air.
 
Berdasarkan data terbaru, dari total 243 orang dalam daftar penumpang dan awak kapal, 108 orang dinyatakan selamat. 

19 orang telah ditemukan meninggal dunia, belum termasuk enam jenazah yang baru diangkat. Yang lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari.
 
Sebelumnya, pada hari kelima pencarian, posisi kapal sudah ditemukan dan dipetakan secara pasti.
 
Hal ini disampaikan Laksamana Pertama TNI Edy Setyawan, Komandan Gugus Keamanan Laut Koarmada II TNI AL, dalam wawancara eksklusif media di atas KRI I Gusti Ngurah Rai.
 
Kapal yang tenggelam ini memiliki panjang 121 meter dan lebar 19 hingga 21 meter. Strukturnya terdiri dari tiga dek serta sejumlah ruang dan kompartemen tertutup.
 
Kejadian diperkirakan terjadi pada dini hari atau malam hari saat sebagian besar penumpang sedang beristirahat.
 
Saat kapal mengalami kegawatan, aliran listrik padam seketika. Kegelapan total melanda seluruh ruangan, memicu kepanikan di antara ratusan orang.
 
Akses menuju pintu keluar menjadi sulit dan lambat, sehingga banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri.
 
Karena itulah diperkirakan sebanyak 129 korban masih terperangkap di dalam bangkai kapal.
 
Tim penyelam gabungan dari Kopaska TNI AL, Basarnas Special Group, dan unsur TNI AL telah turun sejak hari kelima pencarian.
 
Posisi kapal dipetakan melalui pantauan drone, survei bawah air, serta data koordinat dari KN Kunyit.
 
Empat penanda telah dipasang di permukaan untuk menandai titik tepat lokasi kapal berada.
 
Jarak dari permukaan ke bagian atas atap kapal sekitar 5 meter, sedangkan kedalaman hingga dasar mencapai 29 meter.
 
Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi yang sangat sulit dan berisiko tinggi.
 
Para penyelam terpaksa memecahkan kaca jendela kamar menggunakan palu untuk membuka akses masuk ke ruang-ruang yang tertutup.
 
Banyak jenazah terjebak dan tertindih puing-puing serta barang-barang di dalam ruangan.
 
Pengangkatan harus dilakukan secara teliti, bertahap, dan memakan waktu panjang.
 
Kendala tidak hanya datang dari kondisi di dalam kapal, tapi juga dari alam. Arus bawah laut yang sangat kuat mulai terasa setelah pukul 12.00 siang setiap harinya.
 
Karena itu, waktu aman untuk menyelam hanya terbatas dari pagi hingga tengah hari.
 
Gelombang di permukaan berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter, dan dapat mencapai 2,5 meter pada kondisi tertentu.
 
Kondisi ini membatasi durasi penyelaman sekaligus meningkatkan risiko keselamatan seluruh personel.
 
Setelah berhasil diangkat, jenazah dipindahkan ke KN SAR Pacitan untuk dibawa ke posko utama di Banjarmasin.
 
Di sana, jenazah diserahkan ke RS Bhayangkara Banjarmasin guna menjalani proses identifikasi melalui metode DVI. Tujuannya agar dapat dikembalikan kepada keluarga masing-masing secara layak.
 
Pihak berwenang menegaskan operasi pencarian akan tetap diperpanjang. Fokus utama kini adalah menyisir secara menyeluruh setiap kamar penumpang yang belum diperiksa.
 
Meski waktu berlalu dan kondisi lapangan semakin berat, tim SAR berkomitmen terus berupaya menjangkau semua korban yang masih tertinggal di dasar laut.
 
Dua pernyataan penting ini saling melengkapi gambaran musibah yang sebenarnya.
 
Penemuan enam jenazah baru pada hari ke-11 membuktikan bahwa upaya menyisir ruang demi ruang membuahkan hasil. Angka 129 orang yang diduga masih berada di dalam kapal mengingatkan betapa besarnya tugas yang belum selesai.
 
Faktor kejadian di malam hari serta kegelapan akibat listrik padam menjadi penjelasan paling masuk akal mengapa banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri.
 
Keterbatasan waktu aman menyelam akibat arus bawah laut yang ekstrem mengajarkan bahwa kecepatan bukanlah yang utama.
 
Yang terpenting adalah ketelitian, keselamatan tim, serta penghormatan terakhir bagi para korban.
 
Masyarakat diminta memaklumi durasi proses ini dan mendoakan keselamatan para penyelam yang bertugas di ambang risiko setiap harinya.
 
Semoga setiap upaya ini membawa kejelasan sekaligus penghiburan bagi keluarga yang masih menanti kabar. (*)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
Redaktur CowasJP

Media Seduluran di Indonesia, sebagai sarana komunikasi dan silaturrahmi untuk menghidupkan semangat menulis melalui karya-karya jurnalistik yang inspiratif dan positif berdasarkan spirit persaudaraan dan persahabatan sepanjang masa.

Comments (0)

User