Santri Wanita Asal China Berikan Sambutan dalam Bahasa Mandarin di HUT ke-100 Pondok Gontor
DI ARENA perayaan bersejarah 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, di hadapan Presiden Republik Indonesia, ribuan santri, ulama, dan tamu dari berbagai negeri, muncul satu sosok yang menarik perhatian semua orang.
Namanya Ma Wenzhuo, namun di lingkungan pesantren ini, ia sudah dikenal dengan nama panggilan yang hangat: Taqiya. Gadis muda asal Tiongkok ini bukan sekadar hadir, ia berdiri dan menyampaikan pesan tulusnya dalam Bahasa Mandarin, yang kemudian penulis transkrip dan terjemahannya.
Momen itu menjadi sangat menyentuh. Di tengah suasana yang mayoritas berbahasa Indonesia, suara Taqiya terdengar jernih dan tulus, membuktikan bahwa persahabatan antarbangsa tidak perlu selalu berbicara dalam satu bahasa yang sama. Cukup dengan ketulusan hati, pesan akan sampai.
Berikut ucapan lengkap Taqiya yang disampaikan dalam Bahasa Mandarin, beserta transkripsi dan terjemahannya:
"Jīntiān wǒ fēicháng gāoxìng néng lái cānjiā Gōngtuō Ānxiáng Dàxué shàngbǎinián qìngdiǎn. Shēnwéi Zhōngguó rén, wǒ shēnggǎn róngxìng néng cānjiā zhèyàng shèngdà de huódòng, hái néng qīnyǎn jiàndào Zǒnglǐ xiānshēng. Fēicháng gǎnxiè Gōngtuō Ānxiáng Dàxué gěile wǒ zhège jīhuì. Néng yǔ láizì gèguó de liúxuéshēng yìqǐ cānjiā yànhuì hé biǎoyǎn, wǒ gǎndào fēicháng xīngfèn. Wǒ yě xiǎng xiàng Yìndùníxīyà Zǒngtǒng biǎodá gǎnxiè, gǎnxiè nín cùjìn Zhōng-Yìn liǎngguó de jiāoliú hé yǒuyì."
Terjemahannya:
"Hari ini saya sangat senang dapat hadir merayakan peringatan 100 tahun Universitas Darussalam Gontor. Sebagai warga negara Tiongkok, saya merasa sangat terhormat dapat ikut serta dalam acara agung ini, bahkan dapat melihat Bapak Presiden secara langsung. Terima kasih banyak kepada Universitas Darussalam Gontor yang telah memberi saya kesempatan ini. Dapat berkumpul bersama mahasiswa asing dari berbagai negara dalam jamuan dan pertunjukan, saya merasa sangat gembira. Saya juga ingin menyampaikan terima kasih kepada Presiden Indonesia, terima kasih karena telah mendorong pertukaran dan persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia." ungkap Taqiya.
Makna di Balik Kata-katanya
Ucapan singkat ini mengandung makna yang begitu dalam. Pertama, Taqiya menyebut Gontor dengan nama yang ia kenal dan cintai — bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah tempat ia tumbuh. Kedua, ia berbicara dalam bahasa ibunya, bukan karena tidak fasih berbahasa Indonesia, melainkan untuk menunjukkan bahwa keragaman bahasa adalah kekayaan, bukan penghalang. Ketiga, ia mengucapkan terima kasih kepada dua pihak sekaligus: kepada Gontor yang telah menerima dirinya, dan kepada Presiden yang menjembatani persahabatan kedua bangsa.
Bagi Taqiya, belajar di Gontor bukan sekadar menuntut ilmu akademik. Ia belajar tentang keberagaman yang hidup, tentang persaudaraan yang tidak mengenal batas negara, dan tentang bagaimana menjadi warga dunia yang tetap menghormati akar budayanya sendiri. Ketika ia berbicara dalam Bahasa Mandarin di panggung Indonesia, ia seolah berkata: "Saya datang dari jauh, membawa bahasa dan budaya saya. Namun di sini, saya diterima seutuhnya — termasuk identitas saya." pungkasnya.
Itulah esensi sejati dari perayaan 100 tahun Gontor. Bukan sekadar merayakan masa lalu, melainkan membangun masa depan di mana anak-anak dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang bisa duduk berdampingan, saling menghormati, dan tumbuh bersama. Taqiya adalah bukti hidupnya mimpi itu.
Nanti ketika ia pulang ke Tiongkok, ia tidak hanya membawa ijazah. Ia membawa cerita tentang pesantren di Jawa yang mengajarkan bahwa persaudaraan lebih kuat daripada perbedaan. Dan bahasa yang ia ucapkan hari ini — bahasa ibunya — akan selalu mengingatkan: di mana pun kita berada, kita bisa bangga pada asal-usul kita, sekaligus mencintai tanah tempat kita menemukan rumah baru. Wallahu A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
1
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)