Prof. Akhmad Muzakki Resmi Mengundurkan Diri dari Rektor UINSA
TIDAK mampu menahan arus penolakan yang makin meluas, Prof. Akhmad Muzakki akhirnya mengundurkan diri dari jabatan Rektor UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya).
Keputusan ini dikonfirmasi pihak kampus pada Rabu (23/9/2026), sehari setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar berjanji menyelesaikan persoalan dalam tiga hari, dan delapan hari sejak pelantikan yang memicu keresahan di seluruh lingkungan civitas academica.
Berita pengunduran diri ini dipastikan terjadi pada Selasa (22/9/2026) pukul 22.00 WIB, dan dikonfirmasi langsung oleh Guru Besar UINSA, Prof. Dr. KH. Ghozali Said. "Ya, betul tadi malam pukul 22.00," ujarnya secara tegas saat dikonfirmasi.
Sumber lain di lingkungan kampus juga membenarkan hal serupa, menyebutkan bahwa pemberitahuan tersebut disampaikan langsung oleh pejabat tinggi Kementerian Agama kepada pimpinan di lingkungan UINSA pada malam yang sama.
Mundurnya Muzakki menutup rangkaian peristiwa yang bergejolak sejak pelantikannya pada Selasa (15/9/2026) lalu oleh Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Padahal, berbagai sumber di lingkungan kampus menyebutkan bahwa nama Muzakki sebenarnya tidak masuk dalam tiga besar hasil seleksi. Namanya baru muncul dan dipaksakan masuk pada proses akhir, yang kemudian memicu keresahan luas di kalangan dosen maupun mahasiswa.
Penolakan tidak hanya sebatas protes lisan. Mahasiswa dan dosen turun ke jalan, menuntut pencabutan pelantikan dan pengunduran diri rektor. Suasana memanas hingga kampus disegel dan seluruh aktivitas akademik lumpuh total. Tuntutan yang dikemukakan mengarah pada tuduhan gaya kepemimpinan yang otoriter, menebar ketakutan, serta dianggap merusak reputasi UINSA.
Puncak tekanan terjadi ketika perwakilan civitas akademika UINSA menyampaikan keluhan secara resmi kepada Komisi VIII DPR RI. Komisi tersebut kemudian memanggil Menteri Agama untuk meminta penjelasan sekaligus mendesak pencabutan pelantikan Muzakki. Dalam Rapat Dengar Pendapat di Senayan, Selasa (22/9/2026), Nasaruddin Umar memohon maaf dan berjanji menyelesaikan persoalan dalam waktu tiga hari.
"Saya berjanji tidak akan terjadi lagi. Kalau itu terjadi berarti saya gagal... Sejarah hidup saya di Kementerian Agama baru kali ini saya kebobolan dan ini saya mohon maaf betul-betul," ujar Menag dengan nada meminta maaf. Ia menegaskan tidak akan menunda pengambilan keputusan, namun enggan merinci langkah konkret yang akan diambil.
Di tengah proses tersebut, muncul usulan dari kalangan pimpinan kampus untuk menunjuk pejabat pelaksana tugas sementara sebelum rektor definitif terpilih. Namun usulan ini ditolak karena dikhawatirkan memicu gejolak baru, mengingat UINSA pernah mengalami situasi serupa sebelumnya. Seluruh pihak kini sepakat menuntut penyelesaian tuntas dan segera agar UINSA kembali kondusif.
Hingga berita ini diturunkan, Prof. Akhmad Muzakki belum dapat dihubungi untuk memberikan keterangan maupun konfirmasi langsung atas pengunduran dirinya.
Peristiwa ini mengirimkan pesan penting: legitimasi kepemimpinan tidak hanya berasal dari surat keputusan pelantikan, melainkan juga dari penerimaan lingkungan yang dipimpin. Pemaksaan kehendak di atas suara mayoritas terbukti memicu ketidakstabilan yang merugikan proses pendidikan. Keterbukaan, keadilan, serta akuntabilitas menjadi pelajaran utama. UINSA kini menanti langkah berikutnya: pemilihan rektor yang murni, transparan, dan dapat diterima oleh seluruh elemen kampus. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)