Gontor di Mata Santri
SATU MINGGU sudah hari H puncak peringatan satu abad Gontor Jum’at, 19 September 2026, berlalu. Ternyata, begitu banyak yang sudah ditulis orang tentang Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) ini.
Tentang sejarah 100 tahunnya. Tentang para kiyai dan santrinya. Tentang banyak hal. Penulisnya pun bukan hanya alumni dan mereka yang pernah punya pengalaman hidup dalam jangka waktu tertentu di dalamnya. Bahkan mereka yang tidak kenal Gontor sama sekali. Tidak pernah mendapatkan informasi tentang pondok ini.
Sejumlah tayangan pun menyebar di dunia maya. Dalam banyak podcast oleh orang-orang yang tahu maupun tidak tahu perjalanan sejarah pondok ini.
BACA JUGA: KONTROVERSI ISLAM ALA PRABOWO
Penyebabnya, antara lain, karena Presiden RI Prabowo Subianto hadir di sana. Disambut dengan penghormatan yang luar biasa. Dengan kehangatan tangan terbuka oleh para kiyai pondok – KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Akrim Mariyat, Rektor Universitas Darussalam (Unida) Prof. Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan para asatiz (guru) lainnya.
Yang paling menarik bagi para pewarta, tentu saja, bagaimana KH. Hasan Abdullah Sahal memberikan wejangan di depan presiden, sejumlah menteri, beberapa duta besar negara sahabat, Kapolri Listiyo Sigit Prabowo, Grand Syeikh Al Azhar Mesir dan sejumlah elit undangan lainnya. Berbeda dengan banyak ulama lainnya, Kiyai Hasan seolah menyampaikan uneg-uneg yang kini dirasakan sebagian besar anak bangsa. Menyentil presiden berkenaan dengann suasana perpolitikan di tanah air. Secara terbuka. Tanpa tedeng aling-aling. Tidak ditutup-tutupi. Sangat terus terang.
BACA JUGA: Menyelami Ayat Qur'an dalam Cerita Pendek
Dalam banyak foto yang tersebar di berbagai platform media, orang melihat gestur guru kami ini. Ketika bersalaman dengan presiden. Di mana tangan kanannya menggenggam erat tangan presiden. Tapi tangan kirinya menunjuk ke atas. Ke arah dada presiden. Seperti memberikan peringatan dan pengajaran: “Jangan begitu ya!” Tidak seperti banyak ulama lain yang merunduk-runduk. Bahkan membungkukkan badan seolah hendak sujud untuk mencium tangan penguasa.
Ustadz Hasan – begitu kami terbiasa menyebut namanya – memang lain dari pada yang lain. Begitu gagah memperlihatkan kemandirian Gontor sebagai sebuah lembaga pendidikan pondok pesantren. Tetap memberikan teladan kepada para santri, bagaimana menjalin komunikasi dengan orang lain. Termasuk dengan kalangan pejabat dan penguasa. Beliau memberikan contoh di tengah padang tandus kegersangan pemimpin agama yang lurus.
BACA JUGA: MENS REA
Di tengah semakin menipisnya jumlah ulama yang berani menatap mata penguasa. Untuk tegak sama tinggi, duduk sama rendah dengan mereka yang punya kuasa.
Ustad Hasan begitu kokoh memegang moto pondok: Pertama, Berbudi Tinggi: Landasan utama dan pertama yang ditanamkan dalam membentuk akhlak dan karakter santri. Kedua, Berbadan Sehat: Pemeliharaan fisik dan kesehatan yang dijaga melalui kegiatan olahraga rutin. Ketiga, Berpengetahuan Luas: Bekal intelektual dan wawasan keilmuan yang diajarkan di pondok. Keempat, Berpikiran Bebas: Kemandirian dan kebebasan dalam berpikir positif, kreatif, serta tidak terikat pada golongan tertentu.
Nilai Kehidupan
Selain motto utama di atas, Gontor juga memiliki landasan nilai kehidupan yang disebut Panca Jiwa, yaitu: Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Berdikari, (mandiri), Jiwa Ukhuwah Islamiah (persaudaraan) dan Jiwa Bebas.
Begitulah, moto dan nilai kehidupan yang ditanamkan sejak santri pertama mendiami pondok. Dan Ustadz Hasan benar-benar dapat mengejawantahkannya dalam kehidupan pribadinya. Tidak hanya sekadar omon-omon. Tapi memperlihatkan dengan terang benderang bagaimana ucapan disampaikan sesuai dengan perbuatan. Bagaimana kebenaran itu disampaikan secara terbuka, terang benderang, tanpa dihinggapi rasa takut dan rendah diri.
Meskipun serius, Ustadz Hasan tidak kehilangan celoteh-celotehnya yang penuh canda. Dalam menyampaikan pidato yang berapi-api, beliau sempat berucap: “Saya diberi waktu hanya 15 menit. Tapi ini sudah 20 menit. Gak apa-apa, ya?” selorohnya. Lalu dia melanjutkan: “Sorry yee!” yang membuat hadirin tertawa bergemuruh. Karena ucapan yang satu ini adalah ucapan khas Prabowo: “Sorry yee!” Yang membuat presiden mesem-mesem, tapi hadirin bertepuk tangan.
Guru kami yang sudah berusia 79 tahun ini menjelaskan bagaimana pondok Gontor menjalani hari-harinya. Yaitu dengan berpedoman pada apa yang beliau sebut dalam singkatan STIR. Yaitu “Sabar, Tawakkal, Independen dan Ridlo”. Karena menurutnya, pondok Gontor telah melalui sejarah panjang perjuangan yang tidak alfa dari berbagai tekanan dan rintangan. Tapi Gontor tetap berdiri dalam kesabaran, tawakkal kepada Allah Swt., independen dari segala bentuk kepentingan apa pun dan ridlo atas apa yang Allah berikan. Berupa nikmat maupun cobaan.
“Di atas kami hanya Allah, di bawah hanya tanah,” begitu beliau mengungkapkannya dengan suara lantang di hadapan presiden. Sebuah ungkapan yang menggambarkan bagaimana PMDG Gontor tidak takut kepada siapa pun. Tidak terkerangkeng pemikirannya karena tekanan penguasa. Karena Gontor itu mandiri. Gontor itu ridlo atas ketentuan Allah.
Bagi kami marhalah 78 (angakatan 78), peringatan satu abad Gontor ini sangat membanggakan. Pertama, karena kami adalah generasi santri yang masih sempat bertemu dengan paling tidak dua dari tiga “Trimurti” pendiri pondok ini. Yaitu Allahyarham KH. Ahmad Sahal dan Allahyarham KH. Imam Zarkasyi. Dari keduanya kami sempat memperoleh taushiyah-taushiyah yang berguna dalam menjalani kehidupan. Dalam komunikasi tatap muka. Ketiga, kami adalah generasi yang mengalami peringatan 50 tahun Gontor dan sekarang masih diberi Allah kesempatan untuk menyaksikan peringatan satu abad Gontor.
Kini, kami termasuk generasi alumni yang sudah lansia. Bersekutu dalam kelompok alumni yang diberi nama Tovasa 78 (Tholabah Fashluts tsadis 78). Artinya kelompok santri kelas enam tahun 78. Meski begitu kami masih belajar dari apa yang dipaparkan Ustadz Hasan. Tentang keberanian, kemandirian, ketaqwaan dan kemandirian dalam berpikir dan bertindak.
Dalam hal ini beliau menjelaskan, Gontor itu di atas dan untuk semua golongan. Dengan berkelakar beliau mengungkapkan: “Mereka yang berasal dari keluarga NU bila keluar dari Gontor akan tetap NU. Yang Muhammadiah di luar pondok juga tetap Muhammadiyah.”
“Tapi bukan mustahil terjadi,” lanjutnya, “santri dari keluarga Muhammadiyah malah diambil mantu oleh kiyai NU. Begitu juga sebaliknya.” Canda Kiyai Hasan yang disambut gelak tawa hadirin.
Gontor telah menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu melahirkan para ulama, pejabat tinggi dan elit politik yang kesohor. Kini, pondok ini pun masih tegak berdiri sebagai kawah candradimuka penyemai bibit unggul para pemimpin bangsa di masa depan.
Ia tidak hanya tampil dalam kemandirian dan sikap, tapi juga terus berkembang dalam konteks fisik. Soalnya, dari luas tanah yang hanya 1,3 hektar pada awalnya, sekarang Gontor memiliki tanah seluas 1300 hektar. Semua sudah dalam bentuk tanah wakaf. Selain itu, PMDG kini memiliki total 20 kampus. Terdiri dari 12 kampus putra dan 8 kampus putri, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Ini belum termasuk ratusan pondok pesantren yang didirikan para alumninya.
Dan jangan lupa, Gontor pun sudah punya perguruan tinggi. Yaitu Universitas Darussalam (Unida). Dan sebuah rumah sakit – RS Yasyfin Darussalam Gontor – yang berlokasi di dalam desa Gontor.
Tidak terbayangkan sebelumnya, bagaimana anda melihat hampir 10 ribu orang – yang terdiri dari para alumni, anak cucu dan keluarga mereka – tumplek blek di sebuah desa kecil bernama Gontor, hari Jum’at pekan lalu. Tidak ubahnya seperti pasar malam. Sepanjang hari. Siang maupun malam. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)