MENS REA
ANAK SAYA, Si Sulung, editor buku di sebuah penerbit besar di Jogjakarta. Dia mengirimi saya dua buku yang menarik untuk dibaca. Salah satunya berjudul: “Mens Rea”. Karya komika atau stand up comedy-an terkenal sekaligus penulis berbakat, Panji Pragiwaksono.
Sebuah karya yang sangat mencerahkan. Tidak saja karena tema yang disuguhkan. Tapi sekaligus karena mampu membukakan mata kita tentang karut marut perpolitikan dan hukum di negeri ini sekarang.
BACA JUGA: PENONTON KECEWA
Terus terang, saya begitu keranjingan membacanya. Dari awal sampai akhir. Beberapa kali, bahkan setelah melewati halaman 100-an, saya terdorong untuk melihat kembali beberapa halaman yang sudah terlewatkan. Saya membaca, sekaligus menikmati. Di saat yang sama, saya juga membayangkan. Bagaimana kalau saya menonton sendiri Panji memaparkannya di atas panggung stand up comedy. Dengan gayanya. Kejenakaannya. Mimik wajahnya. Lontaran kata-kata bernas, tapi penuh canda. Yang membuat para audiens tersentak. Dengan reaksi beragam: Ada yang tegang. Ada yang tersenyum simpul. Dan, tentu saja, ada yang bertepuk tangan.
BACA JUGA: Sudah Merdeka tapi Belum
Mengapa saya sebut bernas? Tak pelak, banyak komika lainnya mampu membuat orang tertawa. Terutama karena pilihan katanya. Karena joke-joke spontannya. Mampu menggiring pikiran publik ke arah yang lucu. Yang kocak. Namun sebagian besar hanya membuat orang tersentak. Melahirkan tawa bahkan juga tepuk tangan. Tapi temanya recehan. Joke-joke murahan. Mungkin soal hubungan pria wanita. Soal hal-hal terkait kemiskinan atau kebodohan. Sekadar membuat orang tertawa. Tidak perlu mikir.
BACA JUGA: Jalanan Terjal Demo Mahasiswa
Tapi melalui buku ini, Panji menyajikan sesuatu yang berbeda. Hal-hal yang pernah dia kupas di panggung stand up comedy. Di dalam maupun luar negeri. Yakni soal politik dan hukum. Di negeri “konoha” ini. Sekarang. Soal-soal yang serius. Membutuhkan logika yang matang. Bagaimana mungkin hal-hal yang serius seperti ini bisa ditampilkan dalam nada bercanda. Canda yang tidak kehilangan keseriusannya. Yang pada ujungnya membutuhkan perenungan dari pembaca.
MENS REA
Dalam prolognya, Panji menulis: Mens Rea itu istilah hukum. Artinya “niat jahat”.Dalam hukum pidana, “Mens Rea” dipakai untuk menilai apakah suatu perbuatan dilakukan dengan kesengajaan disertai kesadaran penuh, atau sekadar akibat dari kelalaian. Dua orang bisa melakukan tindakan yang sama, tapi hukum akan memperlakukan mereka berbeda kalau niat di baliknya berbeda.
Soal niat ini dalam Islam juga penting. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Saw: “Innamal a’malu binniyyat. Wa innama likullim ri-in manawa…..” (Setiap perbuatan itu tergantung dari niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang bergantung pada apa yang dia niatkan…).
Nah, dari mens rea atau niat jahat ini, Panji bicara tentang kaitannya dengan demokrasi, politik, para pemimpin bangsa – eksekutif, legislatif dan yudikatif – bahkan juga tentang kita sebagai rakyat. Yang memilih pemimpin di tingkat lokal, kabupaten kota, provinsi dan nasional. Bukan hanya tentang pejabat. Apa niat mereka menjadi bupati, walikota, gubernur bahkan presiden? Tapi juga tentang kita sebagai warga negara. Mengapa kita memilih seseorang. Atas dasar apa dia layak dipilih?
Seorang tetangga saya pernah adu mulut dengan seorang wanita petugas KPPS, pada pelaksanaan Pilpres 2024 lalu. Dia cerita, sewaktu akan masuk bilik pemungutan suara, wanita itu mendekatinya. Lalu bilang: “Mas, nanti pilih Gibran yah. Kan Ganteng.”
Karuan saja tetangga saya itu mendelik. Karena dia dari dulu tidak suka Gibran. Anak haram konstitusi itu. Kenapa disuruh pilih Gibran? Apalagi alasannya cuma sesimpel itu. Karena dianggap “ganteng”. Oleh wanita itu.
Pada Bab 3, hal 26, Panji menulis: Jangan cuma punya satu alasan dalam memilih pemimpin. Menurut dia, ini bahaya. Kenapa bahaya? Karena nyaman buat pemilih, nyaman buat yang dipilih dan nyaman buat orang yang tidak mau ribet.
Kalau dipikir lebih serius, tentu nyata bahaya. Betapa tidak? Karena menurut Panji, orang milih jodoh aja kriterianya ada 3: Bibit, bebet, bobot. Masa milih pemimpin kriterianya satu?
Dalam Islam, syarat memilih jodoh itu malah lebih ketat. Paling tidak, sesuai sabda Rasulullah, kriterianya ada 4: Agama, kondisi finansial, nasab (keturunan) dan kecantikan/ketampanan. Maka sesuai sabda Rasul, dari keempat kriteria itu dahulukan agamanya. Keta’atannya kepada Allah Swt.
Panji menjabarkan soal bibit, bobot, bebet itu. Maksudnya: Bibit itu asal usul keluarganya. Dari keluarga macam apa dia berasal. Kalau dalam pandangan Islam, dari keluarga yang taat agama atau tidak. Bebet itu kondisi sosial ekonominya. Tidak mesti cari calon isteri/suami kaya. Tapi kalau kondisi ekonominya morat-marit, paling tidak, setelah nikah, anda akan dituntut bekerja juga. Sedangkan bobot adalah “track record”. Dia pernah ngapain aja?
Nah, kalau memilih jodoh aja begitu banyak kriterianya, mengapa memilih pemimpin cuma satu kriteria? Sebagaimana digambarkan Panji, bahkan saat bicara di panggung stand up comedy, bangsa yang bodoh akan memilih pemimpin yang bodoh. Bagaimana mungkin kegantengan/kecantikan disejajarkan dengan kapabilitas dan kompetensi? Kalau benar-benar berdasarkan kompetensi, mungkinkah Ferrel Bramasta atau Krisdayanti jadi anggota dewan?
Bagi partai politik, yang penting banyak pemilihnya. Soal kompetensi bisa diabaikan ke nomor sekian. Sehingga mudahnya artis bisa jadi politisi di Senayan adalah akibat dari sikap yang demikian. Partai politik buka pintu seluas-luasnya. Rakyat yang bodoh dan buta politik juga asal coblos. Yang penting sesuai keinginannya: Cantik atau ganteng.
Di sinilah ketemu benang merahnya. Soal mens rea. Bahwa bukan rahasia lagi orang memilih karena niat yang bodoh. Atau tanpa niat sama sekali. Sehingga yang kepilih adalah para anggota dewan yang bodoh juga. Dalam siding-sidang DPR hanya bisa diam. Terperangkap dalam adagium 4 D: Datang, Duduk, Diam, Duit.
Ketika ada masalah, pantas rakyat pemilih itu marah? Karena anggota dewan tidak berbuat apa-apa. Persoalannya, mereka nggak ngerti. Mau ngapain? Orang dia baru belajar di Senayan. Dimasukkan dalam komisi yang bukan bidangnya.
Begitu juga di jajaran eksekutif. Memilih presiden atas dasar yang paling banyak “ngasih duit” berupa bansos. Kita bisa merujuk ke Jokowi. Akibatnya, yang pernah nyulik aktifis bisa jadi presiden. Para buzzer Rp bisa jadi wakil menteri atau komisaris BUMN. Anak belum cukup umur bisa jadi Wapres. Walaupun plonga-plongo. Karena bapaknya punya kuasa dan jaringan politik kelas tinggi. Rusak bener negeri ini.
Mens Rea. Karya Panji Pragiwaksono. Sang stand up comedian terkenal. Buku yang menarik. Perlu anda baca! (*)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)