CT Scan Usus
UNTUK mengetahui perkembangan kanker usus besar saya, Rabu siang tadi 2 September 2026, dilakukan CT Scan di Rumah Sakit (RS) Ubaya, Surabaya.
Selama 15 menit CT Scan itu dilakukan. Dengan fasilitas BPJS. Yang harusnya bayar Rp 6,5 juta, tapi gratis.
Sehari sebelumnya, saya ke laboraturium untuk ambil darah memeriksa kondisi ginjal. Karena CT Scan yang menggunakan obat kontras. Syaratnya, ginjal harus normal.
Bila tidak, akan pengaruh akibat obat kontras yang diinfuskan melalui tangan itu. Alhamdulillah, kondisi ginjal normal.
Untuk memasukkan obat kontras itu melalui pembuluh darah di punggung tangan,
jarum pun harus dipasang.
Saat pasang jarum, perawat agak kesulitan. Sebab, setelah menjalani kemoterapi tahun lalu, pembuluh darah mengecil.
Tadi, dua kali perawat menusuk jarum. Pertama gagal. Padahal cukup sakit. Karena jarumnya, juga besar. Lalu dicari lagi pembuluh darah di tempat lain.
"Maaf Pak, agak kesulitan. Karena pembuluh darah bapak kecil," kata perawat di ruang IGD.
Operator CT Scan meminta bantuan perawat IGD yang cukup mahir dalam soal suntik dan memasang jarum infus.
"Tarik napas .... pelan-pelan," pinta perawat sembari menusuk jarum ke punggung tangan kanan saya, yang pembuluh darahnya mulai nampak, karena faktor usia.
Bulan September ini, saya genap 73 tahun. Akan memasuki 74 tahun. Tergolong tua. Meski setiap pagi masih mampu jalan sedikitnya 4-5 km. Bahkan Sabtu dan Minggu, rata-rata 10 km.
Dari jarum itulah dimasukkan obat kontras oleh operator CT Scan.
Obat itu dimasukkan sambil menjalani CT Scan. Yaitu memasukkan tubuh ke dalam tabung, yang lubangnya sebesar tubuh orang gemuk. Karena yang di CT Scan bagian perut, maka yang masuk tabung sampai leher.
Saat aba-aba obat itu dialirkan. Rasanya sama dengan infus kemo. Terasa dingin dan mengalir.
Namun, sebelumnya tubuh saya dua kali keluar masuk tabung. Yang disertai dengan aba-aba. "Tarik napas..... tahan. Napas kembali bernapas."
Karena pernah melakukan PET (Positron Emission Tomography) Scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging), aba-aba itu tak asing di telinga. Dan mudah saya turuti.
Apalagi tarik dan menahan napas. Itu rutin dilakukan di senam SDI. Sehingga mudah saya lakukan.
Rumah Sakit Ubaya, karena melayani BPJS, selalu padat dengan pasien. Bahkan saat saya daftar sehari sebelumnya, melihat beberapa pasien yang duduk di atas kursi roda, dan di atas tempat tidur. Menunggu lift.
Tadi, juga temukan hal yang sama. Bahkan yang datang ke rumah sakit type B, di Jalan Panjangjiwo Permai 83 Surabaya itu, nampaknya yang menggunakan BPJS.
Selain rumah sakitnya baru, perawat dan dokternya juga ramah. Suasananya pun enak. Hingga banyak psien. (*)
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)