Prof Mas'ud Said: Risiko Perbankan Tidak Diam di Tempat, Kita Harus Terus Belajar agar Tak tertinggal
BAGI kebanyakan orang, gelar akademik dan jabatan tinggi adalah puncak perjalanan karir. Namun, bagi Prof. M. Mas'ud Said, semuanya baru satu halaman yang belum selesai dibaca.
BAGI kebanyakan orang, gelar akademik dan jabatan tinggi adalah puncak perjalanan karir. Namun, bagi Prof. M. Mas'ud Said, semuanya baru satu halaman yang belum selesai dibaca.
Beliau adalah pakar pendidikan, mantan pejabat pemerintahan, hingga kini menjabat sebagai Komisaris Independen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) dan Direktur Program PascaSarjana Universitas Islam Malang (PPS Unisma). Bagi beliau semua gelar akademik dan jabatan itu tak membuatnya berhenti untuk menambah bekal pengetahuan.
Senin (10/8/2026), beliau kembali mencatatkan capaian baru: yaitu meraih sertifikasi Certified Risk Management (CRM) di ajang The Jakarta Risk Management Convention 2026.
Tujuh Tahun Perjalanan Satu Capaian
Sertifikat CRM ini bukanlah hadiah yang jatuh dari langit. Ini adalah buah dari disiplin dan ketekunan sejak tahun 2019. Langkah demi langkah, pelatihan demi pelatihan, pembaruan kompetensi di tahun 2022, 2024, 2025, hingga tahun ini, semuanya dilalui dengan tekun.
“Risiko perbankan itu tidak diam di tempat. Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal jauh oleh tantangan zaman,” ujar Prof Mas'ud Said.
Kini, Mas'ud yang juga menjabat Wakil Ketua Umum PP ISNU ini menjadi satu dari 47 profesional di Indonesia yang resmi memegang brevet CRM tahun 2026 ini.
Beliau tak berjalan sendirian. Bersama Komisaris Utama Bank Jatim Adi Sulistyowati, dan rekan komisaris lainnya Dadang Setiabudi dan Asri Agung Putra, mereka menegaskan: pengawas bank harus lebih tajam dari tantangan yang dihadapi.
Menjaga Pertumbuhan di Jalur Aman
Di dunia perbankan, kecepatan mengejar keuntungan sering kali beradu dengan kewaspadaan menjaga keamanan. Konvensi ini mengingatkan satu hal mendasar: Prosedur tidak boleh kalah oleh target.
Pertumbuhan bisnis yang pesat tak berarti jika dibangun di atas fondasi yang rapuh. Manajemen risiko bukan sekadar tabel, dokumen, atau teori di atas kertas. Ia adalah keberanian untuk berkata “tidak” pada tawaran yang menggiurkan namun melanggar aturan. Ia adalah budaya yang menjaga kepercayaan masyarakat. Sebab, bank pada hakikatnya adalah penjaga uang rakyat.
Bagi Bank Jatim yang memikul tugas ganda: bersaing di industri sekaligus menggerakkan roda ekonomi Jatim, kewaspadaan ini adalah harga mati. Kemajuan harus berjalan beriringan dengan ketahanan.
Belajar Sebelum Krisis Datang
Bagi Mas'ud, lembar sertifikat ini bukan garis finis. Justru ini adalah bukti bahwa pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.
Dunia berubah begitu cepat. Risiko zaman dulu berbeda dengan risiko hari ini: transformasi digital, perubahan perilaku nasabah, hingga guncangan ekonomi global menuntut mata yang waspada.
“Pengawas harus belajar sebelum masalah muncul. Harus melihat risiko sebelum ia berubah menjadi krisis,” pesannya.
Di penghujung acara, satu pesan menggema kuat: Sistem yang canggih saja tak cukup menjaga bank tetap kokoh. Ia butuh manusia yang tangguh, berintegritas. Dan yang paling penting, tidak pernah merasa cukup untuk belajar. Wallahul A'lam Bisshawab. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)