Menjajakan Kesucian di Pasar Kekuasaan
DALAM lipatan sejarah tasawuf Islam, nama Syekh Abu Madyan al-Ghouth di tanah Maghrib dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Bagdad bukanlah sekadar hiasan kaligrafi atau komoditas stempel silsilah. Keduanya berdiri sebagai pilar peradaban yang memadukan ketajaman akal, kedalaman fikir, dan kebeningan qolbu. Keduanya dihormati bukan karena kedekatannya dengan lingkar kekuasaan dinasti, melainkan karena keteguhan moral untuk berdiri bersama rakyat jelata seraya menjaga jarak yang amat tegas dari karpet merah kekuasaan.
BACA JUGA: NU Sedang Tidak Meneduhkan
Namun, jika kedua tokoh agung ini dihadirkan kembali di tengah pusaran politik hari ini, keteladanan mereka tidak lagi berfungsi sebagai petunjuk jalan yang diagungkan. Keteladanan itu telah bertransformasi menjadi cermin retak yang memantulkan kebenaran yang telanjang: betapa pengikut dan lembaga yang mengklaim mewarisi jubah mereka hari ini telah mengalami pembusukan etika secara sistematis.
Pelacuran Intelektual dan Matinya Kompas Qolbu
Syekh Abu Madyan mengawali jalurnya bukan dari ruang perjamuan para penguasa, melainkan dari jemarinya yang kasar sebagai penggembala kambing dan penenun di Cantillana. Ketika kedalaman ilmunya di Béjaïa memikat ribuan murid dan menggetarkan hati rakyat miskin, para penguasa zamannya sontak merasa terancam. Kepopuleran moral Abu Madyan adalah ancaman bagi kezaliman. Saat sang ulama dipanggil ke istana —sebuah taktik klasik penguasa sepanjang zaman untuk merangkul, menjinakkan, atau mengkooptasi tokoh kritis— ia memenuhi panggilan itu dengan martabat utuh, namun wafat di perjalanan sebelum sempat menyentuh dan menghirup aroma fasilitas kerajaan.
BACA JUGA: Menjaga Integritas di Tengah Gelombang Dinamika Organisasi
Bandingkan riwayat bersahaja itu dengan akrobat para elit keagamaan masa kini.
Saat ini, lembaga yang dengan bangga menobatkan dirinya sebagai "benteng pertahanan ummat" justru mengejar panggilan penguasa dengan air liur yang menetes. Panggilan kekuasaan tak lagi disikapi sebagai ujian kewaspadaan moral, melainkan disambut dengan sujud syukur, gelak tawa opportunistik, dan antrean proposal proyek. Kursi komisaris BUMN, jatah konsesi kelola tambang, hingga bagi-bagi posisi menteri diburu secara memuakkan dengan memperkosa dalil "kemaslahatan ummat".
BACA JUGA: Kita Harus Berhenti Mempersulit Diri Sendiri
Di sinilah tragedi intelektual itu terjadi. Dalam tatanan kejiwaan yang luhur, qolbu seharusnya bertindak sebagai kompas tertinggi yang menundukkan akal dan fikir. Qolbu adalah benteng rasa malu dan rasa takut kepada Tuhan. Namun hari ini, qolbu sengaja dikunci rapat-rapat di dalam lemari tua karena dianggap tidak praktis dalam negosiasi politik praktis.
Syekh Abu Madyan al-Ghouth. (GAMBAR: youtube)
Tanpa penyeimbang qolbu, akal manusia terdegradasi menjadi kalkulator politik yang licik, yang hanya lihai menghitung untung-rugi porsi kekuasaan. Fikir bertransformasi menjadi pabrik justifikasi hukum; kitab-kitab klasik dibongkar bukan untuk menegakkan keadilan sosial, melainkan untuk mencarikan stempel pembenaran atas kebijakan oligarki yang menggusur sawah rakyat, merusak alam, dan mencekik perut kaum miskin. Ketika rakyat yang kelaparan berlari mengadu ke pintu benteng keagamaan, mereka menemukan pintu itu telah digembok dari dalam. Di dalam ruang rapat yang ber-AC, para elitnya sedang sibuk berdebat sengit: bukan tentang bagaimana menolong rakyat, melainkan tentang bagaimana membagi piring kue kekuasaan agar semua faksi mendapat bagian.
Komodifikasi Wali dan Pengkhianatan Akar Rumput
Sejarah juga mencatat pertemuan legendaris antara Syekh Abu Madyan dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani di tanah suci. Dalam pertemuan dua pilar Barat dan Timur itu, tidak ada klaim kehebatan lembaga, tidak ada perebutan pengikut, dan tidak ada negosiasi porsi pengaruh. Mereka disatukan oleh i'tidal —keseimbangan sempurna antara pengetahuan dan kesucian jiwa. Ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani berdiri di atas mimbar Baghdad, suaranya membahana menelanjangi kezaliman para khalifah dan menteri yang korup. Beliau tidak bisa dibeli dengan kantong emas, sebab hatinya telah selesai dengan dunia.
Betapa kontrasnya dengan panggung komedi tragis yang kita tonton hari ini.
Penghormatan kepada Syekh Abu Madyan dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah direduksi menjadi sebatas komoditas industri ritual. Nama besar para wali dialokasikan untuk baliho-baliho politik ukuran raksasa menjelang pemilu. Silsilah keilmuan diperjualbelikan sebagai alat legitimasi moral untuk menutupi kebangkrutan etika. Acara-acara peringatan digelar dengan anggaran miliaran rupiah, tetapi nilai paling mendasar yang diajarkan kedua tokoh tersebut —yakni keberanian melawan kezaliman dan keberpihakan tulus kepada yang lemah— dibuang tanpa sisa ke tong sampah sejarah.
Ironi ini semakin menyengat ketika kita menyaksikan para pemimpin keagamaan yang mengaku sebagai pewaris ajaran ini justru duduk melingkar dengan gaya anggun di meja perjamuan para penindas. Mereka tertawa bersama orang-orang yang merampas ruang hidup rakyatnya sendiri. Mereka merasa sedang melakukan siyasah atau strategi perjuangan tingkat tinggi, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah syahwat kekuasaan telanjang yang dibungkus dengan jubah dan sorban. Mereka telah menukar peran historisnya: dari benteng pelindung ummat menjadi broker kekuasaan yang memperdagangkan stempel keummatan demi kenyamanan hidup pribadi dan kelompoknya.
Warisan keilmuan yang dahulunya melahirkan manusia-manusia merdeka kini terkooptasi menjadi formalisme yang tumpul. Cendekiawan agama tidak lagi dicari karena ketajaman analisanya terhadap ketidakadilan sosial, melainkan karena kelincahannya menyusun kalimat-kalimat manis untuk menenangkan rakyat agar tetap patuh saat ditindas.
Sudah saatnya ilusi ini diakhiri. Penghormatan sejati kepada Syekh Abu Madyan dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak diukur dari seberapa fasih kita menghafal silsilah mereka, atau seberapa megah majelis yang kita dirikan atas nama mereka. Penghormatan sejati diukur dari keberanian untuk menarik garis tegas antara kebenaran dan syahwat politik.
Jika para pemangku kebijakan moral dan organisasi keagamaan hari ini tidak lagi memiliki keberanian untuk keluar dari lingkaran perjamuan istana, tidak lagi mampu mengembalikan qolbu untuk menundukkan akal yang licik, maka berhenti membawa-bawa nama para wali besar tersebut. Mengaku sebagai pengikut mereka sambil terus menjajakan kesucian di pasar kekuasaan bukanlah sebuah kebanggaan, melainkan pengkhianatan paling telanjang terhadap sejarah.(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)