NU Sedang Tidak Meneduhkan
ADA luka yang kian menganga di balik megahnya panji-panji Nahdlatul Ulama hari ini. Ketika plang nama organisasi berdiri kokoh di setiap sudut desa, majelis-majelis akbar dihadiri ribuan jamaah, dan para pengurusnya begitu anggun berjalan di lorong-lorong kekuasaan, ada satu hal mendasar yang perlahan menguap dari bilik-bilik pesantren dan rumah warga.
Ya, keteduhan. NU hari ini tampak seperti pohon tua yang sibuk memamerkan rindangnya daun dan megahnya dahan di panggung pameran, tetapi lupa memberi naungan bagi orang-orang yang sedang berteduh di bawahnya. NU sibuk bersolek untuk dirinya sendiri, bukan lagi merawat dan memeluk jamiyahnya.
BACA JUGA: Menjaga Integritas di Tengah Gelombang Dinamika Organisasi
Di saat yang sama, rumah besar bernama Indonesia juga sedang tidak baik-baik saja. Rakyat sedang dihimpit oleh beban hidup yang kian mencekik. Pajak diburu hingga ke piring-piring makan warga miskin, sementara retorika kesejahteraan sekadar menjadi nyanyian pengantar tidur agar rakyat tak terbangun menyaksikan dapurnya yang kosong. Kebijakan publik tak lagi beraroma pelayanan, melainkan hitung-hitungan dagang.
BACA JUGA: Kita Harus Berhenti Mempersulit Diri Sendiri
Dalam cuaca berangin keras dan terik yang membakar ini, rakyat sejatinya membutuhkan pohon rindang tempat mereka berteduh, mengadu, dan mengisi kembali tenaga. Namun, di mana tempat berteduh itu ketika pohon yang digadang-gadang paling rindang justru memilih merapat ke arah matahari kekuasaan?
Satu Barisan
Krisis terbesar yang sedang terjadi saat ini adalah pergeseran kompas batin dalam cara kita meyakini dan menjalankan ajaran. Tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang dahulu dihayati sebagai lentera pembebas —sebuah cara pandang yang menuntut pembelaan paling nyata terhadap mereka yang lemah— kini mengering menjadi sekadar rutinitas seremoni dan stempel pembenaran bagi keputusan pemilik modal. Ketika nilai agama dilepaskan dari denyut nadi penderitaan rakyat, maka agama kehilangan ruhnya. Ia tidak lagi menjadi payung pelindung dari hujan ketidakadilan, melainkan berubah menjadi barang dagangan yang dipajang di etalase kepentingan.
BACA JUGA: Menyusun Amaliyah Baik itu Bukan Niscaya
Maksud utama dari berdirinya sebuah perhimpunan keagamaan adalah menjadi pelindung bagi warganya. Jika fungsi perlindungan itu runtuh, maka perhimpunan itu sejatinya sedang kehilangan alasannya untuk berdiri. Rumah yang didirikan para sesepuh untuk menampung tangis dan aduan rakyat, kini berubah menjadi arena pacuan untuk berebut kursi.
Persaingan meraih kepengurusan di tingkat atas hingga daerah tak lagi menyisakan harum keikhlasan untuk melayani, melainkan baunya persaingan logistik dan janji-janji jabatan. Sesama saudara terpecah, ikatan antar kyai meregang, dan tali silaturahmi yang tadinya diikat oleh ikatan keilmuan yang suci mendadak retak hanya karena urusan pembagian kue kekuasaan.
Keheningan yang ditunjukkan NU hari ini adalah keheningan yang menyakitkan. Ketika aturan demi aturan mencekik leher petani di sawah, nelayan di laut, dan buruh di pabrik, suara lantang membela rakyat seolah lenyap ditelan bumi. Keberanian moral yang diwariskan oleh para leluhur tergantikan oleh bisikan kompromi dengan polesan menjaga stabilitas.
Padahal, Al-Qur'an secara tegas menggugat orang-orang yang memilih diam ketika melihat ketidakadilan, menanyakan mengapa manusia enggan berdiri membela orang-orang lemah yang tertindas. Para ulama dikiaskan sebagai pewaris para nabi, dan tak ada satu pun lembaran sejarah kenabian yang mencatat para nabi berdiri nyaman di samping singgasana yang sedang memeras rakyatnya.
Pergeseran ini makin terasa getir ketika kita menatap mata rakyat kecil di garis paling depan. Sebuah pemandangan memilukan sedang berlangsung. Dahulu, kyai adalah samudera tempat menyerap segala muara duka warga. Ketika seorang petani miskin membawa beras segenggam atau ayam seekor ke pondok, pemberian yang jujur itu tak pernah diendapkan menjadi tumpukan harta pribadi.
Para kyai masa lalu memutar kembali pemberian itu ke dapur pesantren agar tak ada santri yang kelaparan dan tak ada tetangga yang tidur dengan perut kosong. Kyai masa lalu menjadikan penghormatan masyarakat sebagai fondasi untuk membangun kekuatan ekonomi warga, mendirikan benteng sosial, dan membebaskan tetangganya dari cengkeraman penindas.
Hari ini, arus air itu sedang berbalik arah. Di tengah rakyat yang terseok-seok mencari makan besok pagi, kemewahan justru dipertontonkan tanpa rasa canggung. Kesejahteraan mengalir deras dari bawah ke atas, namun perlindungan dan pembelaan meluncur begitu tipis dari atas ke bawah. Hubungan batin yang suci terancam merosot menjadi sekadar transaksi jual-beli doa dan keberkahan. Warga hanya disapa dengan senyum manis ketika musim pemilihan umum tiba, tetapi dibiarkan berjuang sendiri saat tanah mereka digusur atau air sumur mereka tercemar limbah.
Memunculkan Kembali Keteladanan
Oleh karena itu, penyembuhan atas luka ini tidak bisa hanya dilakukan dengan terus-menerus bernostalgia pada kebesaran peninggalan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Kita kerap berlindung dan berbangga di balik nama besar beliau, tetapi enggan menyentuh dinginnya air dan panasnya tanah yang beliau tapaki.
Jawaban atas krisis ini bukan sekadar mengutip kata-kata Mbah Hasyim dalam kitab-kitab lama, melainkan dengan membumikan keberanian dan keteladanan hidup beliau ke dalam dada setiap orang hari ini. Kebesaran pendiri tidak boleh sekadar jadi pajangan dinding, melainkan harus menjelma menjadi kompas moral bagi khalayak umum.
Keteduhan sebuah pohon tidak diukur dari seberapa megah dahannya merentang, melainkan dari seberapa sejuk orang-orang dibawahnya dapat bernapas. Ketika organisasi keagamaan terlalu dekat dengan lingkaran kekuasaan, ia berisiko kehilangan kepekaan terhadap rasa sakit rakyatnya. Namun, harapan tidak boleh padam pada struktur yang rapuh. Agama dan tradisi ini sejatinya milik umat, bukan milik segelintir pengurus.
Langkah pemulihan ini harus dimulai dari keberanian tiap-tiap pribadi untuk menjadikan keteladanan para pendiri sebagai pegangan hidup sehari-hari. Menjadi pengikut tradisi ini berarti memikul tanggung jawab moral untuk bersuara dan mengulurkan tangan ketika melihat sesama ditindas, bukan malah menjadi penonton yang acuh atau ikut menikmati fasilitas kekuasaan.
Setiap orang, mulai dari pengurus, ulama, hingga warga biasa, perlu mengembalikan nilai kesederhanaan dan pelayanan sebagai ukuran tertinggi kehormatan diri. Kepemimpinan harus diukur dari seberapa luas dada kita mampu menampung keluh kesah orang miskin, bukan seberapa dekat posisi kita dengan lingkaran pejabat.
Keberanian publik juga harus dihidupkan kembali untuk menolak segala bentuk komodifikasi agama yang menjadikan iman sekadar alat pemenang suara. Pengayoman harus kembali menjadi syarat mutlak dalam beragama dan berorganisasi. Ketika negara berhitung matematis terhadap rakyatnya seperti pedagang memajaki pembeli, maka masyarakat harus memiliki benteng moral yang memeluk mereka sebagai manusia yang utuh dan bermartabat.
Jika perhimpunan sebesar ini terus memilih berdiri aman di balik tembok kekuasaan, rakyat kecil tidak hanya kehilangan pelindung di dunia, tetapi juga terancam kehilangan pegangan iman karena melihat agama tak lagi hadir saat mereka terluka.
Memulihkan keteduhan NU tidak akan selesai dengan retorika pidato di atas panggung megah atau spanduk-spanduk acara bertuliskan slogan indah. Harus ada keberanian untuk merobohkan cara berpikir yang transaksional dan kembali pada hakikat pelayanan yang tulus.
Langkah terbaik untuk memulihkan keteduhan itu tidak dimulai dari menanti perubahan di atas panggung tinggi, melainkan dari keberanian kita masing-masing: kembali menjadikan diri sendiri sebagai ruang aman, pelindung, dan peneduh bagi sesama di lingkungan terdekat. Hanya dengan berani melangkah keluar dari naungan kekuasaan dan kembali memeluk rakyat yang kedinginan, NU akan menemukan kembali mahkota terindahnya.
Yaitu, menjadi tempat berteduh yang sejuk bagi seluruh alam.(*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0

Comments (0)